Author: i3knu

  • IHSG Melemah Usai Demo Ricuh, Pasar Dibayangi Ketidakpastian Global dan Politik

    IHSG Melemah Usai Demo Ricuh, Pasar Dibayangi Ketidakpastian Global dan Politik

    Serratalhadafc.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terkoreksi ke zona merah pada awal perdagangan Jumat (29/8/2025). Pelemahan ini terjadi sehari setelah aksi demonstrasi besar pada 28 Agustus yang berakhir ricuh dan menambah kekhawatiran pelaku pasar.

    Berdasarkan data RTI Anugerahslot, IHSG dibuka di level 7.899,88, turun dari penutupan sebelumnya di posisi 7.952,08. Hingga pukul 09.25 WIB, IHSG masih tertekan, merosot 43 poin atau 0,56% ke level 7.907,10.

    Penggiat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, menilai IHSG berpotensi menghadapi tekanan jangka pendek akibat kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari luar negeri, ekspektasi inflasi yang masih tinggi di Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran bahwa The Federal Reserve akan menunda pemangkasan suku bunga, sehingga meningkatkan kewaspadaan investor global.

    “Pasar global masih dibayangi ketidakpastian. Dari AS, ekspektasi inflasi yang masih tinggi bisa membuat The Fed menunda pemangkasan suku bunga,” jelas Reydi kepada Liputan6.com.

    Dari sisi domestik, dinamika politik dalam negeri turut menekan sentimen. Pada perdagangan sebelumnya, IHSG memang sempat menguat tipis 0,20%, meski asing mencatat jual bersih Rp 279 miliar. Namun, potensi koreksi masih terbuka lebar akibat capital outflow dan meningkatnya tensi politik pascademo.

    “Dengan kondisi global yang tidak pasti, ditambah aksi massa yang memanas, pasar cenderung berhati-hati. Koreksi jangka pendek bisa terjadi,” tambah Reydi.

    Untuk strategi investasi, ia menyarankan investor mengambil sikap wait and see terlebih dahulu. Namun, sektor-sektor defensif seperti consumer staples dan telekomunikasi masih layak diperhatikan apabila gejolak politik dan aksi massa terus berlanjut.

    IHSG Tergelincir Usai Demo Ricuh, Mayoritas Sektor Saham Terbakar

    Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada awal perdagangan Jumat (29/8/2025), sehari setelah aksi demo besar-besaran yang berakhir ricuh.

    Mengutip data RTI, IHSG dibuka di level 7.899,88, turun dari penutupan sebelumnya di 7.952,08. Hingga pukul 09.25 WIB, IHSG masih tertekan dengan pelemahan 43 poin atau 0,56% ke posisi 7.907,10.

    Sepanjang sesi pagi, IHSG bergerak di rentang 7.912,48 (tertinggi) hingga 7.847,16 (terendah).

    Tekanan jual terlihat dominan, tercermin dari 457 saham melemah, sedangkan hanya 105 saham yang menguat, dan 125 saham stagnan. Aktivitas perdagangan tercatat sebanyak 491.817 kali, dengan volume 11,5 miliar saham dan nilai transaksi harian Rp34,1 triliun. Sementara itu, kurs dolar AS berada di kisaran Rp16.385.

    Mayoritas sektor saham juga ikut melemah. Sektor kesehatan menjadi satu-satunya yang mampu bertahan di zona hijau. Adapun pelemahan terdalam dialami sektor cyclical yang anjlok 14,23%, disusul sektor properti yang terkoreksi 1,24%.

    Beberapa saham yang paling aktif diperdagangkan antara lain PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PASB), PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

    IHSG Berpotensi Melemah, Investor Diminta Waspada

    Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak melemah pada perdagangan Jumat (29/8/2025). IHSG hari ini diproyeksikan berada di rentang 7.830–8.050.

    Menurut catatan BNI Sekuritas, IHSG sebelumnya ditutup menguat tipis 0,2%, namun dibarengi aksi jual asing senilai Rp294 miliar. Beberapa saham yang paling banyak dilepas investor asing antara lain PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).

    “IHSG berpotensi bergerak melemah hari ini,” ujar Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman. Ia memperkirakan IHSG bergerak pada level support 7.830–7.900 dan resistance 8.000–8.050.

    Sementara itu, riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai pola candle yang menyerupai shooting star di area resistance menjadi sinyal untuk kembali bersikap wait and see.

    “Jangan lupa pasang trailing stop pada saham di portofolio Anda. Support kritikal hari ini berada di level 7.910–7.850. Jika level ini ditembus, investor perlu siap melakukan pengurangan posisi lebih lanjut,” tulis riset tersebut.

    📊 Trading Idea Hari Ini (29 Agustus 2025)

    1. BBYB – Spec Buy

    • Area Beli: 350–354
    • Cutloss: < 346
    • Target: 360–366

    2. ATLA – Spec Buy

    • Area Beli: 67
    • Cutloss: < 65
    • Target: 71–78

    3. MBMA – Spec Buy

    • Area Beli: 434–436
    • Cutloss: < 430
    • Target: 440–446

    4. BKSL – Spec Buy

    • Area Beli: 138–141
    • Cutloss: < 138
    • Target: 145–150

    5. MINA – Spec Buy

    • Area Beli: 175–179
    • Cutloss: < 170
    • Target: 186–192

    6. CUAN – Buy on Weakness

    • Area Beli: 1.560–1.600
    • Cutloss: < 1.550
    • Target: 1.650–1.700
  • Kinerja BSDE Semester I 2025, Laba Bersih Turun Hampir 45%

    Kinerja BSDE Semester I 2025, Laba Bersih Turun Hampir 45%

    Serratalhadafc.com – Beberapa emiten properti di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai merilis laporan keuangan untuk periode yang berakhir Juni 2025. Salah satunya adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), yang mencatatkan penurunan kinerja sepanjang semester I tahun ini.

    Pendapatan usaha BSDE tercatat sebesar Rp 6,39 triliun, turun 13,01% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 7,34 triliun.

    Kontributor utama masih berasal dari segmen penjualan properti senilai Rp 5,54 triliun, disusul oleh segmen sewa sebesar Rp 498,82 miliar, dan pengelolaan gedung senilai Rp 189,38 miliar.

    Seiring penurunan pendapatan, laba kotor juga melemah 16,54% year on year (yoy) menjadi Rp 4,05 triliun dari Rp 4,85 triliun pada semester I 2024.

    Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk anjlok lebih dalam, yakni 44,79% yoy, dari Rp 2,33 triliun pada Januari–Juni 2024 menjadi hanya Rp 1,28 triliun di periode yang sama tahun ini.

    Laba Bersih LPKR Anjlok 99% pada Semester I 2025

    PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) melaporkan kinerja keuangan yang tertekan pada semester I 2025. Hingga 30 Juni 2025, perusahaan hanya membukukan laba bersih Rp 137,9 miliar, merosot tajam 99,34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 19,88 triliun. Penurunan tersebut ikut menekan laba per saham menjadi Rp 1,95, jauh di bawah posisi tahun lalu Rp 280,61.

    Dari sisi pendapatan usaha, LPKR mencatat Rp 4,11 triliun atau turun 48,62% dari Rp 8 triliun pada semester I 2024. Setelah memperhitungkan beban pajak final yang naik menjadi Rp 86,35 miliar dari Rp 58,67 miliar, pendapatan bersih yang dikantongi perusahaan hanya Rp 4,03 triliun, menyusut dari Rp 7,94 triliun pada periode sama tahun lalu.

    Beban pokok pendapatan tercatat Rp 2,62 triliun, lebih rendah dibanding Rp 4,53 triliun tahun lalu. Namun, pelemahan pendapatan membuat laba kotor ikut turun signifikan menjadi Rp 1,4 triliun dari Rp 3,4 triliun. Beban usaha juga ikut menyusut menjadi Rp 1,08 triliun, dibanding Rp 2,09 triliun pada semester I 2024.

    Dari sisi segmen usaha, real estate development masih menjadi penopang utama dengan kontribusi Rp 3,45 triliun, disusul lifestyle sebesar Rp 659,21 miliar. Sebaliknya, segmen healthcare yang tahun lalu menyumbang 50% pendapatan, kini sudah tidak lagi memberikan kontribusi terhadap kinerja LPKR.

    Laba Bersih CTRA Tumbuh 20% pada Semester I 2025

    PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mencatat kinerja positif sepanjang paruh pertama 2025. Perusahaan berhasil membukukan laba bersih Rp 1,23 triliun yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham pengendali, naik 20,01% year on year (yoy) dibandingkan Rp 1,02 triliun pada semester I 2024.

    Peningkatan laba sejalan dengan pendapatan usaha yang tumbuh 16,76% yoy menjadi Rp 5,88 triliun dari sebelumnya Rp 5,03 triliun. Kontributor terbesar masih berasal dari lini bisnis real estat dengan nilai Rp 4,74 triliun.

    Selain itu, pendapatan dari segmen penyewaan tercatat Rp 705,46 miliar, sedangkan segmen lainnya menyumbang Rp 432,03 miliar.

    Dari sisi beban, CTRA melaporkan beban pokok penjualan dan beban langsung sebesar Rp 3,08 triliun, naik dari Rp 2,58 triliun pada periode yang sama tahun lalu, seiring dengan peningkatan aktivitas usaha.

    APLN Catat Rugi Rp 71,7 Miliar di Semester I 2025

    PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) melaporkan kinerja keuangan yang kurang menggembirakan pada paruh pertama 2025. Perseroan membukukan rugi bersih Rp 71,7 miliar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

    Berdasarkan laporan keuangan interim, penjualan dan pendapatan usaha tercatat sebesar Rp 1,68 triliun hingga Juni 2025, turun dibandingkan Rp 1,88 triliun pada semester I 2024. Penurunan ini juga berdampak pada laba kotor yang menyusut menjadi Rp 652,06 miliar dari sebelumnya Rp 729,80 miliar.

    Meski demikian, APLN menunjukkan perbaikan di sisi operasional dengan berhasil membukukan marketing sales Rp 881,5 miliar, tumbuh sekitar 10,5% yoy dibandingkan Rp 796,3 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

    PWON Catat Laba Rp 1,13 Triliun di Semester I 2025

    PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) berhasil membukukan laba bersih Rp 1,13 triliun pada paruh pertama 2025. Angka ini naik 34,26% yoy dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2025, pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan 3,45% yoy menjadi Rp 3,37 triliun.

    Kontributor terbesar masih berasal dari segmen recurring income, yakni pengelolaan pusat perbelanjaan, perkantoran, dan apartemen sewa dengan nilai Rp 2,13 triliun. Sementara itu, penjualan real estat menyumbang Rp 679,12 miliar dan bisnis perhotelan Rp 581,50 miliar. Jika dirinci, pendapatan pusat perbelanjaan mencapai Rp 1,93 triliun, penyewaan perkantoran Rp 147 miliar, dan unit hospitality Rp 618 miliar.

    Di sisi lain, beban pokok PWON naik 5,73% yoy menjadi Rp 1,50 triliun. Meski begitu, perseroan tetap mampu meningkatkan laba kotor 1,70% yoy menjadi Rp 1,88 triliun.

    Laba ASRI Naik, Meski Pendapatan Tertekan

    PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) mencatat laba periode berjalan Rp 43,86 miliar pada semester I 2025. Raihan ini tumbuh signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 23,67 miliar.

    Namun, dari sisi pendapatan, ASRI mengalami penurunan. Hingga Juni 2025, perseroan membukukan pendapatan usaha Rp 1,11 triliun, turun dari Rp 1,88 triliun pada semester I 2024.

    Sejalan dengan itu, beban pokok penjualan juga terkoreksi dari Rp 907,53 miliar menjadi Rp 504,49 miliar, sehingga margin keuntungan perseroan relatif lebih terjaga meski pendapatan melemah.

    Laba DILD Anjlok 96,57% di Semester I 2025

    PT Intiland Development Tbk (DILD) membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 12,56 miliar pada semester I 2025. Angka ini merosot tajam 96,57% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 366,85 miliar.

    Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2025, pendapatan usaha DILD tercatat Rp 1,21 triliun, turun 10,80% year on year (yoy) dari Rp 1,36 triliun pada semester I 2024.

    Kontributor utama berasal dari pendapatan pengembangan senilai Rp 772 miliar atau 63% dari total pendapatan. Dari jumlah tersebut, segmen kawasan industri menjadi motor terbesar dengan Rp 394 miliar atau sekitar 51%. Sementara itu, recurring income naik 7% yoy menjadi Rp 444 miliar, menyumbang 37% dari total pendapatan.

    Di sisi lain, beban pokok penjualan dan beban langsung berhasil ditekan 16,79% menjadi Rp 791,34 miliar dari Rp 951,12 miliar tahun lalu. Efisiensi ini membuat laba kotor DILD justru tumbuh tipis 3,03% yoy menjadi Rp 424,64 miliar.

    Prospek Sektor Properti Masih Cerah, BSDE–CTRA–SMRA Jadi Andalan

    Sektor properti diperkirakan tetap memiliki prospek cerah sepanjang 2025, didukung oleh pelonggaran suku bunga dan insentif pemerintah.

    VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi menjelaskan, kebijakan penurunan suku bunga Bank Indonesia mampu menekan biaya dana sekaligus mendorong pertumbuhan kredit properti. Selain itu, insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPNDTP) yang berlaku hingga akhir 2025 juga memberi tambahan dorongan bagi penjualan emiten properti.

    “Hal ini sudah tercermin pada capaian marketing sales paruh pertama 2025, khususnya di segmen menengah hingga atas,” ujar Audi.

    Beberapa capaian marketing sales semester I 2025 antara lain:

    • BSDE Rp 5,08 triliun (50% dari target)
    • CTRA Rp 4,2 triliun (38% dari target)
    • SMRA Rp 2,2 triliun (44% dari target)
    • LPKR Rp 2,47 triliun (40% dari target)

    Dari sisi segmen residensial, BSDE menjadi pemain dominan dengan kontribusi lebih dari 65% marketing sales. Sementara CTRA diuntungkan dengan portofolio produk di kisaran Rp 1–3 miliar, dan SMRA memiliki porsi residensial lebih dari 70%.

    “Dengan karakteristik tersebut, ketiga emiten ini berpotensi terus mendapat dukungan permintaan yang solid,” tambah Audi.

    Berdasarkan analisisnya, Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk beberapa saham properti unggulan:

    • BSDE target harga Rp 1.220
    • CTRA target harga Rp 1.240
    • SMRA target harga Rp 580
  • Intel Waspadai Dampak Negatif Akuisisi Saham oleh Pemerintahan Donald Trump

    Intel Waspadai Dampak Negatif Akuisisi Saham oleh Pemerintahan Donald Trump

    Serratalhadafc.com – Intel memperingatkan adanya potensi reaksi negatif terkait pengambilalihan 10% saham perusahaan oleh pemerintahan Donald Trump. Peringatan tersebut tertuang dalam dokumen resmi yang dikutip CNBC Anugerahslot pada Selasa (26/8/2025).

    Salah satu kekhawatiran utama Intel adalah dampak terhadap penjualan global, mengingat 76% pendapatan perusahaan pada tahun fiskal terakhir berasal dari luar Amerika Serikat (AS). Pada 2024, Intel membukukan pendapatan sebesar USD 53,1 miliar, turun 2% dibanding tahun sebelumnya.

    Dengan adanya kepemilikan saham pemerintah, Intel kini semakin erat terhubung dengan kebijakan tarif dan perdagangan AS yang kerap berubah di bawah kepemimpinan Trump.

    “Mungkin ada reaksi negatif, baik secara langsung maupun bertahap, dari investor, karyawan, pelanggan, pemasok, mitra bisnis, pemerintah asing, maupun pesaing,” tulis Intel dalam dokumen tersebut.

    Perusahaan juga menambahkan bahwa kondisi ini berpotensi memicu litigasi, peningkatan pengawasan publik, maupun tekanan politik terhadap bisnis Intel.

    Intel Waspadai Risiko Politik dari Akuisisi Saham Pemerintahan Trump

    Intel menegaskan bahwa perubahan lanskap politik di Washington berpotensi menantang bahkan membatalkan kesepakatan pengambilalihan saham oleh pemerintahan Donald Trump. Kondisi ini dinilai dapat menimbulkan risiko bagi para pemegang saham, baik saat ini maupun di masa mendatang.

    Kesepakatan yang diumumkan pada Jumat lalu itu memberi Departemen Perdagangan AS kepemilikan sekitar 433,3 juta lembar saham Intel. Saham tersebut bersifat dilutif bagi pemegang saham lama, karena mengurangi porsi kepemilikan mereka.

    Pembelian saham pemerintah sebagian besar didanai melalui program bantuan Undang-Undang CHIPS era Presiden Joe Biden. Dari program tersebut, Intel telah menerima pendanaan senilai USD 2,2 miliar (Rp 35,86 triliun) dan dijadwalkan memperoleh tambahan USD 5,7 miliar (Rp 92,92 triliun).

    Selain itu, Intel juga mendapatkan dukungan federal terpisah sebesar USD 3,2 miliar (Rp 52,16 triliun), sehingga total bantuan yang dikucurkan mencapai USD 11,1 miliar atau sekitar Rp 180,97 triliun.

    Trump Sebut Akuisisi Saham Intel sebagai “Kesepakatan Hebat”, Saham Naik 25%

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut akuisisi saham Intel oleh pemerintah sebagai “kesepakatan hebat” yang akan memperkuat masa depan bangsa melalui pengembangan chip canggih.

    Optimisme tersebut juga tercermin di pasar. Saham Intel melonjak sekitar 25% sepanjang Agustus, didorong momentum menuju finalisasi kesepakatan.

    Namun, di balik euforia itu, terdapat catatan penting. Dalam dokumen resmi yang diajukan pada Senin, Intel mengungkapkan bahwa perjanjian tersebut memberi pemerintah hak untuk memberikan suara bersama dewan direksi. Kondisi ini membuat kepemilikan saham pemerintah berpotensi mengurangi hak suara dan kontrol tata kelola pemegang saham lainnya.

    Lebih jauh, perusahaan menilai struktur baru kepemilikan ini dapat membatasi sejumlah transaksi strategis di masa mendatang, yang seharusnya bisa memberikan keuntungan bagi investor.

  • Transaksi Karbon Asing Masih Minim, BEI Catat Lonjakan Perdagangan Domestik

    Transaksi Karbon Asing Masih Minim, BEI Catat Lonjakan Perdagangan Domestik

    Serratalhadafc.com – Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui Bursa Karbon Indonesia mengungkapkan bahwa hingga Agustus 2025, transaksi karbon oleh pembeli asing masih tergolong terbatas.

    Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 2 BEI, Ignatius Denny Wicaksono, menjelaskan bahwa volume transaksi karbon yang telah berstatus authorized baru mencapai puluhan ribu ton.
    “Untuk transaksi yang sudah terotorisasi memang masih minim, sekitar 40.000–50.000 ton saja,” ujar Denny dalam acara Update Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon), Senin (25/8/2025).

    Hambatan Teknis Investor Asing

    Menurut Denny, ada sejumlah kendala teknis yang membuat transaksi asing berjalan lambat. Salah satunya adalah kewajiban investor asing untuk membuka rekening di bank yang terdaftar di Bank Indonesia. Prosedur ini dianggap cukup rumit.
    “Untuk mengatasi hal ini, kami sedang mengubah aturan. Nantinya investor asing tidak perlu lagi membuka akun di Bank Indonesia, tapi bisa melalui bank mitra yang kami tunjuk. Dengan begitu transaksi dolar tetap bisa masuk dengan lebih mudah,” jelasnya.

    Lonjakan Transaksi Domestik

    Meski transaksi asing masih terbatas, pasar karbon domestik justru mencatat pertumbuhan pesat. BEI melaporkan bahwa sepanjang 2025, volume perdagangan karbon naik hingga 493%. Per 22 Agustus, total perdagangan mencapai 699 ribu ton setara CO₂ dengan nilai sekitar Rp29,6 miliar, jauh lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu.

    Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya partisipasi pelaku pasar. Sejak awal tahun, tercatat 26 perusahaan dan 12 individu aktif memperdagangkan unit karbon melalui platform IDXCarbon.

    OJK: Perdagangan Bursa Karbon Tembus 1,59 Juta Ton CO₂ hingga Juli 2025

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Bursa Karbon Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif sejak resmi beroperasi pada 26 September 2023. Hingga 31 Juli 2025, total volume perdagangan telah mencapai 1,59 juta ton CO₂ ekuivalen.

    Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, mengatakan nilai transaksi akumulatif selama periode tersebut mencapai Rp77,95 miliar.
    “Sejak 26 September 2023 hingga 31 Juli 2025, tercatat 116 pengguna jasa yang memperoleh izin dengan volume perdagangan 1.599.000 ton CO₂ ekuivalen dan nilai akumulasi Rp77,95 miliar,” ujar Inarno dalam konferensi pers RDKB Juli 2025, Senin (4/8/2025).

    Menurut Inarno, partisipasi 116 pengguna jasa yang telah mengantongi izin OJK mencerminkan meningkatnya kesadaran sektor jasa keuangan dalam mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca melalui mekanisme pasar.

    Skor Tata Kelola Emiten Indonesia Tertinggi di ASEAN

    Indonesia mencatat capaian penting dalam forum ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) yang digelar di Malaysia pada Juli 2025. Skor rata-rata nasional meningkat sebesar 9%, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai negara dengan nilai tertinggi di Asia Tenggara.

    Peningkatan tersebut mencerminkan perbaikan nyata dalam praktik tata kelola perusahaan terbuka di Tanah Air. Bahkan, empat emiten asal Indonesia berhasil masuk dalam daftar 50 besar ASEAN, dengan dua di antaranya berasal dari sektor perbankan yang sukses menembus 10 besar.

    “Empat emiten Indonesia masuk dalam top 50 ASEAN, dengan dua emiten perbankan menempati 10 besar. Hal ini menunjukkan reputasi tata kelola emiten Indonesia yang semakin kuat,” ujarnya

  • BI Turunkan Suku Bunga ke 5%, Ini Sektor Saham yang Berpotensi Menguat

    BI Turunkan Suku Bunga ke 5%, Ini Sektor Saham yang Berpotensi Menguat

    Serratalhadafc.com – Bank Indonesia (BI) resmi menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5% pada Rapat Dewan Gubernur 19–20 Agustus 2025. Kebijakan ini langsung disambut positif pasar saham, tercermin dari kenaikan IHSG sebesar 1,03% ke level 7.943,82 pada perdagangan Rabu, 20 Agustus 2025.

    Menurut riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, sentimen pemangkasan suku bunga mendorong sektor properti, konsumer, dan bahan baku sebagai unggulan. Selain itu, sektor perbankan dan finansial juga diperkirakan mendapat dorongan positif dari biaya dana (cost of funds) yang lebih rendah.

    Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan faktor-faktor yang mendukung pergerakan tersebut:

    • Bahan baku dan industri – Penguatan sejalan dengan rebound aktivitas ekonomi yang mendorong permintaan di sektor ini.
    • Properti – Prospek penjualan diperkirakan meningkat karena suku bunga lebih rendah berpotensi mendorong permintaan kredit properti.
    • Konsumer non-siklikal – Sektor defensif ini cenderung menjadi pilihan investor ketika risiko global meningkat, sekaligus mendapat dukungan dari sentimen domestik.

    BI Turunkan Suku Bunga ke 5%, Ini Sektor Saham yang Berpotensi Menguat

    Bank Indonesia (BI) resmi menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5% pada Rapat Dewan Gubernur 19–20 Agustus 2025. Kebijakan ini langsung disambut positif pasar saham, tercermin dari kenaikan IHSG sebesar 1,03% ke level 7.943,82 pada perdagangan Rabu, 20 Agustus 2025.

    Menurut riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, sentimen pemangkasan suku bunga mendorong sektor properti, konsumer, bahan baku, serta perbankan dan finansial menjadi unggulan di pasar saat ini.

    Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, memaparkan faktor-faktor yang mendukung pergerakan tersebut:

    1. Properti – Prospek penjualan diperkirakan meningkat karena suku bunga lebih rendah mendorong permintaan kredit properti.
    2. Konsumer non-siklikal – Sektor defensif yang menjadi pilihan investor di tengah risiko global, dengan sentimen domestik yang mendukung penguatan.
    3. Bahan baku dan industri – Menguat seiring rebound aktivitas ekonomi yang mendorong permintaan sektor ini.
    4. Perbankan dan finansial – Menjadi penerima manfaat langsung dari penurunan suku bunga. Biaya pendanaan lebih murah, peluang pertumbuhan kredit meningkat, serta perannya sebagai tulang punggung IHSG dengan kapitalisasi besar menyediakan likuiditas bagi arus modal asing.

    Meski begitu, analis mengingatkan bahwa efek pemangkasan suku bunga bisa bersifat sementara tanpa dukungan katalis lanjutan.

    “Stabilitas rupiah dan peluang pelonggaran moneter The Fed juga memperkuat outlook pro-ekonomi, sekaligus menjaga arus modal asing tetap masuk ke pasar Indonesia,” jelas Liza.

    BI Turunkan Suku Bunga ke 5%, Ini Sektor Saham yang Berpotensi Menguat

    Bank Indonesia (BI) resmi menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5% pada Rapat Dewan Gubernur 19–20 Agustus 2025. Kebijakan ini langsung disambut positif pasar saham, tercermin dari kenaikan IHSG sebesar 1,03% ke level 7.943,82 pada perdagangan Rabu, 20 Agustus 2025.

    Namun, sebelum pengumuman BI tersebut, IHSG sempat tertekan pada 19–22 Agustus 2025. Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks melemah 0,50% ke posisi 7.858,85 dalam sepekan, lebih dalam dibanding pekan sebelumnya yang turun tipis 0,06% ke level 7.533,38. Kapitalisasi pasar juga ikut terkoreksi 0,81% menjadi Rp14.131 triliun dari Rp14.247 triliun pada pekan sebelumnya.

    Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan pelemahan IHSG saat itu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, kebijakan suku bunga China yang tetap tidak berubah di tengah perang tarif dagang. Kedua, keputusan BI memangkas suku bunga acuan ke 5%, yang di luar ekspektasi konsensus pasar.

    Meski sempat melemah, pasar berbalik arah setelah keputusan BI dipersepsikan positif bagi perekonomian dan sektor saham tertentu. Dalam riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, sentimen pemangkasan suku bunga mendorong sektor properti, konsumer, bahan baku, serta perbankan dan finansial sebagai unggulan.

    Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, memaparkan faktor-faktor pendorongnya:

    1. Properti – Prospek penjualan membaik karena bunga kredit lebih rendah berpotensi meningkatkan permintaan.
    2. Konsumer non-siklikal – Sektor defensif yang cenderung dipilih investor saat risiko global meningkat, dengan dukungan sentimen domestik.
    3. Bahan baku dan industri – Penguatan seiring rebound aktivitas ekonomi.
    4. Perbankan dan finansial – Mendapat manfaat langsung dari penurunan suku bunga, dengan biaya dana lebih murah, potensi pertumbuhan kredit lebih besar, dan perannya sebagai tulang punggung IHSG.

    Meski demikian, analis mengingatkan bahwa dampak pemangkasan suku bunga bisa bersifat sementara tanpa katalis tambahan. Stabilitas rupiah dan peluang pelonggaran moneter The Fed disebut sebagai faktor penting untuk menjaga arus modal asing tetap masuk ke pasar Indonesia.

  • Arus Dana ke Saham Global Merosot, Investor Waspada Menjelang Pidato Powell

    Arus Dana ke Saham Global Merosot, Investor Waspada Menjelang Pidato Powell

    Serratalhadafc.com – Arus dana masuk ke pasar saham global mengalami penurunan tajam sepanjang pekan yang berakhir pada 20 Agustus 2025. Pelemahan ini dipicu kekhawatiran investor terhadap potensi aksi jual di sektor teknologi, serta sikap hati-hati menjelang pidato Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell dalam simposium tahunan Jackson Hole akhir pekan ini.

    Berdasarkan laporan Reuters yang dikutip dari Anugerahslot Finance, Sabtu (23/8/2025), investor hanya menggelontorkan dana senilai USD 2,27 miliar atau sekitar Rp36,91 triliun (kurs Rp16.262 per dolar AS) ke saham global dalam sepekan. Angka tersebut anjlok dibandingkan pekan sebelumnya yang mencatat arus masuk bersih USD 19,29 miliar atau Rp313,16 triliun, menurut data LSEG Lipper.

    Pasar saham Amerika Serikat justru membukukan arus keluar bersih sebesar USD 2,4 miliar atau Rp38,96 triliun, berbalik arah setelah pekan sebelumnya sempat mencatat arus masuk USD 8,76 miliar atau Rp142,18 triliun.

    Sementara itu, kinerja dana saham di kawasan lain juga melambat. Arus masuk bersih di saham Eropa turun menjadi USD 4,2 miliar atau Rp68,17 triliun dari sebelumnya USD 7,1 miliar atau Rp115,28 triliun. Hal serupa terjadi di Asia, dengan arus masuk hanya mencapai USD 70 juta atau Rp1,13 triliun, jauh lebih kecil dibandingkan USD 2,08 miliar atau Rp33,77 triliun pada pekan lalu.

    Arus Dana ke Saham Global Merosot, Investor Beralih ke Obligasi dan Pasar Uang

    Arus dana masuk ke pasar saham global anjlok tajam sepanjang pekan yang berakhir pada 20 Agustus 2025. Pelemahan ini dipicu kekhawatiran aksi jual di sektor teknologi serta sikap hati-hati investor menjelang pidato Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell dalam simposium tahunan Jackson Hole akhir pekan ini.

    Berdasarkan laporan Reuters yang dikutip Yahoo Finance, Sabtu (23/8/2025), investor hanya menyalurkan dana USD 2,27 miliar atau sekitar Rp36,91 triliun (kurs Rp16.262 per dolar AS) ke saham global. Angka tersebut merosot dibanding pekan sebelumnya yang mencatat arus masuk bersih USD 19,29 miliar atau Rp313,16 triliun, menurut data LSEG Lipper.

    Pasar saham Amerika Serikat mencatat arus keluar bersih USD 2,4 miliar atau Rp38,96 triliun, membalikkan tren positif pekan sebelumnya dengan arus masuk USD 8,76 miliar. Sementara itu, arus masuk bersih ke saham Eropa turun menjadi USD 4,2 miliar dari sebelumnya USD 7,1 miliar, dan di Asia menyusut menjadi hanya USD 70 juta dari USD 2,08 miliar pada pekan lalu.

    Selain itu, investor juga menarik dana bersih USD 1,82 miliar atau Rp29,54 triliun dari reksa dana sektoral ekuitas. Sektor keuangan dan teknologi menjadi yang paling tertekan, dengan arus keluar masing-masing USD 1,58 miliar dan USD 613 juta.

    Berbanding terbalik dengan saham, instrumen obligasi justru diminati. Reksa dana obligasi global mencatat arus masuk selama 17 pekan beruntun, dengan tambahan dana bersih USD 18,82 miliar. Reksa dana obligasi imbal hasil tinggi menerima arus masuk USD 3,03 miliar—terbesar dalam delapan minggu terakhir. Sementara itu, reksa dana obligasi jangka pendek mengantongi USD 2,52 miliar, menandai pembelian bersih selama delapan pekan berturut-turut.

    Tren defensif juga terlihat di pasar uang. Investor menambah dana bersih sebesar USD 13,98 miliar atau Rp226,84 triliun ke reksa dana pasar uang, memperpanjang gelombang pembelian menjadi minggu ketiga beruntun.

    Pembukaan Bursa Saham Eropa

    Sebelumnya, bursa saham Eropa melemah pada perdagangan Jumat (22/8/2025). Koreksi bursa saham Eropa terjadi seiring investor terus menilai keseluruhan cakupan kesepakatan perdagangan Uni Eropa dengan Amerika Serikat (AS).

    Mengutip CNBC, indeks Stoxx pan-Eropa melemah 0,1% pada pukul 08.25 pagi di London, Inggris. Sebagian besar sektor saham melemah.

    Indeks FTSE 100 London turun 0,2%, dan memimpin penurunan di antara bursa-bursa regional utama. Indeks DAX Jerman melemah 0,17% dan indeks CAC 40 di Prancis sedikit berubah.

    Di pertengahan sesi perdagangan Kamis, para pejabat mengumumkan detail mendalam tentang kesepakatan yang dicapai antara Washington dan Brussels akhir bulan lalu.

    Dalam kesepakatan yang dicapai bulan lalu, Uni Eropa menyatakan akan menghabiskan USD 750 miliar untuk energi AS dan berinvestasi minimal $600 miliar di Amerika Serikat  sebagai imbalannya, tarif menyeluruh untuk barang-barang Uni Eropa ditetapkan sebesar 15%, bukan 30% seperti yang diancamkan oleh Presiden AS Donald Trump.

    Sentimen Tarif Dagang

    Pembaruan pada Kamis mengonfirmasi detail tersebut, dan mengungkapkan produk farmasi yang diekspor dari Uni Eropa ke AS akan dikenakan tarif maksimal 15%. Hal ini meredakan beberapa kekhawatiran, karena Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam akan mengenakan tarif setinggi 250% kepada sektor tersebut.

    Menyusul reaksi langsung yang kurang bersemangat terhadap berita tersebut, indeks Stoxx Europe Pharmaceuticals and Biotechnology naik dan ditutup sekitar 0,6% lebih tinggi pada Kamis.

    Sementara itu, saham otomotif ditutup di wilayah negatif karena pelaku pasar bereaksi terhadap sifat “bersyarat” dari tarif yang lebih rendah pada sektor tersebut. Para pejabat mengungkapkan pada Kamis pekan ini, bea masuk atas ekspor Eropa ke AS tidak akan dipotong dari level saat ini hingga Brussel menurunkan bea masuk industrinya sendiri.

    Di sisi lain pada Jumat  pekan ini, revisi data produk domestik bruto Jerman menunjukkan ekonomi terbesar di Eropa tersebut menyusut sebesar 0,3% selama kuartal kedua, penurunan yang lebih tajam daripada yang diperkirakan sebelumnya.

  • Bumi Serpong Damai (BSDE) Tawarkan Obligasi dan Sukuk Hingga Rp 3 Triliun

    Bumi Serpong Damai (BSDE) Tawarkan Obligasi dan Sukuk Hingga Rp 3 Triliun

    Serratalhadafc.com – PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan IV dengan target penghimpunan dana sebesar Rp 2 triliun. Pada tahap pertama tahun 2025, perseroan menargetkan penawaran obligasi senilai Rp 500 miliar.

    Mengacu pada keterbukaan informasi di Anugerahslot Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (21/8/2025), obligasi ini akan diterbitkan dalam tiga seri:

    • Seri A dengan tenor 3 tahun.
    • Seri B dengan tenor 5 tahun.
    • Seri C dengan tenor 7 tahun.

    Pembayaran bunga dilakukan setiap tiga bulan sejak tanggal emisi. Jadwal pembayaran pertama akan berlangsung pada 23 Desember 2025, sementara pembayaran terakhir sekaligus jatuh tempo adalah:

    • 23 September 2028 untuk Seri A,
    • 23 September 2030 untuk Seri B, dan
    • 23 September 2032 untuk Seri C.

    Tak hanya obligasi, BSDE juga menerbitkan Sukuk Ijarah Berkelanjutan II dengan total target Rp 1 triliun. Sama seperti obligasi, tahap pertama tahun 2025 ditawarkan senilai Rp 500 miliar dan terbagi dalam tiga seri dengan skema pembayaran serupa.

    Bumi Serpong Damai (BSDE) Terbitkan Obligasi dan Sukuk Senilai Rp 3 Triliun

    PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) akan menawarkan Obligasi Berkelanjutan IV dengan total target dana hingga Rp 2 triliun. Pada tahap pertama tahun 2025, perseroan melepas obligasi senilai Rp 500 miliar.

    Mengacu pada keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (21/8/2025), obligasi ini diterbitkan dalam tiga seri:

    • Seri A dengan tenor 3 tahun,
    • Seri B dengan tenor 5 tahun,
    • Seri C dengan tenor 7 tahun.

    Bunga obligasi akan dibayarkan setiap tiga bulan sejak tanggal emisi. Pembayaran pertama dijadwalkan pada 23 Desember 2025, sedangkan jatuh tempo terakhir masing-masing seri adalah:

    • 23 September 2028 untuk Seri A,
    • 23 September 2030 untuk Seri B,
    • 23 September 2032 untuk Seri C.

    Dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan 88% untuk pengembangan infrastruktur di BSD City, Tangerang, dan sisanya untuk modal kerja perseroan, termasuk kebutuhan umum, administrasi, dan biaya penjualan.

    Selain obligasi, BSDE juga menerbitkan Sukuk Ijarah Berkelanjutan II senilai Rp 1 triliun. Sama seperti obligasi, tahap pertama 2025 ditawarkan senilai Rp 500 miliar, dengan alokasi dana 88% untuk pengembangan infrastruktur di BSD City dan 12% untuk modal kerja.

    Adapun, instrumen ini telah memperoleh peringkat dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), yakni:

    • AA untuk obligasi,
    • AA (syariah) untuk sukuk ijarah.

    BSDE Tawarkan Obligasi dan Sukuk Rp 3 Triliun, Mayoritas untuk Infrastruktur BSD City

    PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan IV dengan target dana hingga Rp 2 triliun. Pada tahap pertama tahun 2025, perseroan melepas obligasi senilai Rp 500 miliar. Selain itu, BSDE juga menawarkan Sukuk Ijarah Berkelanjutan II senilai Rp 1 triliun, dengan tahap pertama sebesar Rp 500 miliar.

    Tiga Seri Obligasi dan Sukuk

    Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (21/8/2025), obligasi dan sukuk akan diterbitkan dalam tiga seri:

    • Seri A: tenor 3 tahun
    • Seri B: tenor 5 tahun
    • Seri C: tenor 7 tahun

    Pembayaran bunga dilakukan setiap tiga bulan sejak tanggal emisi. Pembayaran pertama dijadwalkan pada 23 Desember 2025, dengan jatuh tempo terakhir pada:

    • 23 September 2028 (Seri A)
    • 23 September 2030 (Seri B)
    • 23 September 2032 (Seri C)

    Penggunaan Dana

    Sebesar 88% dari dana hasil penerbitan obligasi maupun sukuk akan digunakan untuk pengembangan infrastruktur BSD City, Tangerang. Sementara sisanya dialokasikan untuk modal kerja perseroan, mencakup biaya operasional, administrasi, serta beban penjualan.

    Peringkat & Penjamin Emisi

    • Obligasi BSDE memperoleh peringkat AA dari Pefindo.
    • Sukuk Ijarah mendapat peringkat AA (Syariah).

    Untuk penerbitan ini, perseroan menunjuk PT Bank KB Bukopin Tbk sebagai wali amanat. Adapun penjamin pelaksana emisi adalah:

    • PT Aldiracita Sekuritas Indonesia
    • PT BCA Sekuritas
    • PT Indo Premier Sekuritas
    • PT Mandiri Sekuritas

    Jadwal Penawaran Obligasi

    • Masa penawaran awal: 21 Agustus – 4 September 2025
    • Tanggal efektif: 15 September 2025
    • Masa penawaran umum: 17 – 18 September 2025
    • Tanggal penjatahan: 19 September 2025
    • Pengembalian uang pemesanan: 23 September 2025
    • Distribusi obligasi secara elektronik: 23 September 2025
    • Pencatatan di BEI: 24 September 2025

    BSDE Catat Prapenjualan Rp 9,72 Triliun di 2024, Lampaui Target

    PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) berhasil membukukan prapenjualan sebesar Rp 9,72 triliun sepanjang 2024. Capaian ini melampaui target perseroan yang ditetapkan sebesar Rp 9,50 triliun, sekaligus tumbuh 2% dibandingkan realisasi 2023 yang mencapai Rp 9,50 triliun.

    “Kami bangga dengan pencapaian ini karena mencerminkan daya tarik kuat dari portofolio produk properti kami. Hasil tersebut juga menjadi dorongan positif memasuki tahun 2025. Kami optimistis terhadap prospek industri properti, terutama dengan kebijakan pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia yang diyakini akan memberi stimulus tambahan bagi permintaan konsumen,” ujar Direktur BSDE, Hermawan Wijaya, dalam keterbukaan informasi Bursa, Kamis (6/2/2025).

    Sebagai pengelola kota mandiri terbesar di Indonesia, BSDE memperkuat posisinya sebagai salah satu pengembang properti terkemuka, khususnya di segmen residensial. Dari total prapenjualan 2024, sektor residensial berkontribusi paling besar, yaitu Rp 5,40 triliun atau 56% dari total. Kontribusi ini terutama berasal dari sejumlah proyek unggulan di BSD City, seperti Nava Park, Tresor, The Zora, Hiera, Tanakayu, dan Terravia.

    Produk Baru

    Selain proyek-proyek utama di BSD City, BSDE juga mencatat kontribusi positif dari produk baru yang diluncurkan pada 2024. Di antaranya The Kaia dan Klasika di Grand Wisata Bekasi, serta klaster Townville di Grand City Balikpapan, yang turut memperkuat pencapaian segmen residensial.

    Sementara itu, segmen komersial yang meliputi penjualan lot tanah, ruko, dan apartemen memberikan kontribusi Rp 3,76 triliun atau 39% dari total prapenjualan. Capaian ini ditopang oleh berbagai produk, seperti Cascade Studio Loft, West Village Business Park, Northridge Ultimate di BSD City, North Square District di Kota Wisata Cibubur, Apartemen Southgate dan Aerium di Jakarta, serta Akasa dan Upper West di BSD City.

    Selain dua segmen utama tersebut, penjualan lahan kepada perusahaan joint venture juga menyumbang sekitar Rp 565 miliar atau 6% dari total prapenjualan.

    Dari sisi lokasi, BSD City tetap menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 67% dari total prapenjualan, termasuk kontribusi signifikan dari Nava Park (8%), The Zora (7%), dan Hiera (5%). Sementara itu, Grand Wisata Bekasi menyumbang 13% dan Kota Wisata Cibubur sebesar 6%.

  • Pelaku Pasar Saham Cemas Pelemahan Ekonomi Indonesia

    Pelaku Pasar Saham Cemas Pelemahan Ekonomi Indonesia

    Serratalhadafc.com – Pelaku pasar saham Indonesia mengaku cemas atas Pelemahan ekonomi Indonesia ke depan. Dibuktikan oleh lesunya data purchasing managers index atau PMI manufaktur hingga pertumbuhan pinjaman bank.

    “Saat ini market ekonomi kalau dilihat data masih cukup lemah. Kita lihat data PMI empat bulan di bawah 50, loan growth 7,8 (persen), semakin turun. Jadi ekonomi secara umum lemah,” ujar Head of Multi Asset Eastspring Investments Erik Susanto kepada Anugerahslot Finance di Jakarta, Rabu (20/8/2025).

    Di sisi lain, Erik melihat pergerakan pasar saham di seluruh dunia lebih didorong oleh rewriting valuasi, bukan melalui fundamentalnya sendiri. “Jadi itu yang kita pantau. Kita juga tidak mau terlalu agresif,” imbuh dia.

    Menyikapi situasi pasar saat ini, Eastspring Investments Indonesia banyak fokus pada pembelian saham di dua sektor, yakni perbankan dan konsumen.

    “Karena perbankan itu sumber motor perekonomian Indonesia. Sektor-sektor lainnya kita pilih salah satunya sektor consumer, karena Indonesia adalah berbasis ekonomi domestik,” ungkapnya.

    “Jadi kita fokus di consumer dengan support dari pemerintah, baik dari kebijakan moneter juga fiskal untuk men-support ekonomi. Itu juga akan men-support perbankan, dan juga consumer yang kita pilih saat ini,” dia menambahkan.

    Tunggu Pemangkasan Suku Bunga Acuan

    Lebih lanjut, Erik menyebut investor di pasar saham dan obligasi tengah menanti lanjutan edisi dari pemangkasan suku bunga acuan The Fed dan juga Bank Indonesia. Ia memprediksi, kebijakan itu akan kembali dilakukan oleh dua bank sentral tersebut jelang akhir 2025 ini.

    “Penurunan suku bunga itu sudah hampir pasti. The Fed akan memotong suku bunga 2-3 kali, di September nanti itu sudah hampir pasti,” kata dia.

    “Bank Indonesia sendiri kita prediksi masih ada satu kali lagi pemotongan. Tahun depan masih ada dua kali,” dia menekankan.

    Baik untuk Saham dan Obligasi

    Dengan pemotongan suku bunga, Erik menilai itu otomatis akan baik untuk kelas aset saham dan obligasi. Semisal untuk saham, perusahaan-perusahan yang punya utang interest cost-nya akan turun.

    Di sisi lain, itu bakal turut tercermin pada penurunan yield obligasi. Erik memprediksi, itu bakal turun dari saat ini di kisaran 6,4 persen menjadi 6,2 persen di akhir tahun.

    “Namun, kita harus berhati-hati, di tengah valuasi pasar yang tinggi, di equity, juga bonds dan yield yang udah turun, itu juga kita harus menjaga fluktuasi dan juga risiko untuk nasabah,” ia mengingatkan.

  • Saham Astra International (ASII) Menguat Hampir 10%, Didorong Aksi Beli Asing

    Saham Astra International (ASII) Menguat Hampir 10%, Didorong Aksi Beli Asing

    Serratalhadafc.com – Harga saham PT Astra International Tbk (ASII) berhasil bertahan di zona hijau pada perdagangan Selasa (19/8/2025). Penguatan ini terjadi di tengah kondisi IHSG yang kurang mendukung, namun menarik perhatian investor berkat aksi beli asing yang cukup besar.

    Berdasarkan data RTI, saham ASII ditutup menguat 9,95% ke level Rp 5.525 per saham. Sejak pembukaan perdagangan, saham sudah naik 50 poin ke Rp 5.275 dan sempat menyentuh level tertinggi di Rp 5.575, serta terendah di Rp 5.200.

    Sepanjang perdagangan, frekuensi transaksi tercatat 49.874 kali dengan volume mencapai 2,71 juta saham. Nilai transaksi menembus Rp 1,5 triliun, sementara kapitalisasi pasarnya kini berada di kisaran Rp 223,7 triliun.

    Aksi beli asing juga menjadi pendorong utama penguatan ini. Data Stockbit mencatat, investor asing membukukan net buy Rp 852,78 miliar di saham ASII.

    Dari sisi teknikal, analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai pergerakan saham ASII masih dalam fase uptrend dan mampu bertahan di atas moving average (MA) 20 hari, disertai peningkatan volume transaksi.

    Indikator MACD masih berada di area positif, sementara pergerakan stochastic diperkirakan masih menguat menuju area overbought,” jelas Herditya kepada Anugerahslot Finance di sela wawacara.

    IHSG Melemah 0,45% ke 7.862, Ditutup di Zona Merah

    Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (19/8/2025) berbalik arah melemah. Indeks ditutup terkoreksi 0,45% ke level 7.862,94, sejalan dengan pelemahan mayoritas indeks saham acuan.

    Indeks LQ45 turut melemah lebih dalam, yakni 0,71% ke posisi 815,23.

    Sepanjang perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 7.931,75 dan terendah di 7.854,09. Dari sisi pergerakan saham, terdapat 405 saham menguat, 242 saham melemah, sementara 155 saham stagnan.

    Aktivitas perdagangan terpantau cukup ramai dengan total frekuensi mencapai 2,17 juta kali. Volume transaksi tercatat sekitar 40,1 miliar saham dengan nilai harian sebesar Rp 18,6 triliun.

    Saham Astra (ASII) Melonjak Hampir 10% di Tengah IHSG Melemah

    Harga saham PT Astra International Tbk (ASII) mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan sesi pertama, Selasa (19/8/2025). Kenaikan ini terjadi meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis.

    Berdasarkan data RTI, saham ASII ditutup menguat 9,95% ke level Rp 5.525 per saham, setelah naik 250 poin dari posisi pembukaan di Rp 5.275 per saham. Sepanjang perdagangan, saham ASII bergerak di rentang Rp 5.200 – Rp 5.550 per saham.

    Aktivitas perdagangan juga terpantau tinggi, dengan 32.087 kali transaksi dan volume mencapai 1,81 juta saham. Nilai transaksi harian ASII tercatat sebesar Rp 974,6 miliar, sehingga kapitalisasi pasarnya kini mencapai Rp 223,67 triliun.

    Sebelumnya, pada Jumat (15/8/2025), saham ASII juga menjadi incaran asing. Tercatat aksi beli oleh investor asing mencapai Rp 22,17 miliar, yang turut mendukung penguatan harga saham perusahaan konglomerasi tersebut.

    Astra International Tambah Kepemilikan Saham Hermina (HEAL) Jadi 10%

    PT Astra International Tbk (ASII) kembali memperkuat investasinya di sektor kesehatan dengan membeli saham PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) senilai Rp 492,53 miliar pada akhir Juli 2025.

    Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (3/8/2025), Astra International melakukan pembelian sebanyak 313.271.000 saham HEAL atau setara 2,04% kepemilikan.

    Transaksi tersebut dilakukan dalam dua tahap:

    • 25 Juli 2025: Astra membeli 120.513.700 saham HEAL di harga Rp 1.680 per saham.
    • 31 Juli 2025: Astra kembali membeli 192.757.300 saham HEAL di harga Rp 1.505 per saham.

    Total nilai pembelian mencapai Rp 492,53 miliar.

    Dalam keterangannya, perusahaan menyebut transaksi ini dilakukan untuk tujuan investasi dengan status kepemilikan tidak langsung.

    Dengan tambahan saham tersebut, kepemilikan Astra International di HEAL meningkat menjadi 1.536.595.000 saham atau sekitar 10%. Sebelumnya, Astra hanya menggenggam 1.223.324.000 saham atau 7,96%.

    Rinciannya, 1.110.824.000 saham dimiliki secara langsung oleh ASII, sementara 112.500.000 saham lainnya dikuasai secara tidak langsung melalui anak usaha, PT Astra Healthcare Indonesia (AHI). Astra sendiri memiliki 99,99% saham di AHI.

  • IHSG Menguat 4,8% dalam Sepekan, Investor Asing Catat Aksi Beli Besar

    IHSG Menguat 4,8% dalam Sepekan, Investor Asing Catat Aksi Beli Besar

    Serratalhadafc.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat lonjakan signifikan pada periode 11–15 Agustus 2025. Dorongan utama datang dari aksi beli besar-besaran investor asing yang menambah optimisme di pasar.

    Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup menguat 4,8% ke level 7.898,37 pada akhir pekan. Nilai pembelian saham oleh investor asing mencapai Rp 6,67 triliun, jauh lebih tinggi dibanding pekan sebelumnya yang hanya sebesar Rp 124,22 miliar. Meski demikian, secara akumulasi sepanjang 2025, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp 55,18 triliun.

    Head of Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai tren masuknya dana asing mulai menunjukkan konsistensi. Menurutnya, aliran dana tersebut tidak lepas dari keputusan lembaga riset internasional MSCI yang memasukkan sejumlah perusahaan Indonesia ke dalam indeks global.

    “Prestasi ini menjadi sinyal positif dan berpotensi memperbesar investment pool Indonesia sebagai salah satu negara yang menarik untuk investasi,” jelas Liza dalam risetnya.

    Ia menambahkan, keberadaan perusahaan berkapitalisasi besar di dalam indeks memberikan ruang likuiditas yang lebih luas bagi investor. Hal ini membuat pasar modal Indonesia semakin kompetitif dan berpotensi menarik lebih banyak aliran dana asing ke depannya.

    Investor Asing Fokus ke Sektor Perbankan, Rupiah dan IHSG Ikut Menguat

    Strategi masuknya investor asing ke pasar modal Indonesia saat ini banyak diarahkan ke sektor perbankan. Menurut Head of Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, saham-saham bluechip perbankan yang selama ini cenderung tertinggal (laggard) justru menjadi target utama.

    “Bluechips yang sudah lama laggard penting untuk dimasukkan ke portofolio skala besar karena mereka adalah tulang punggung IHSG atau index mover,” jelas Liza.

    Aliran dana asing yang deras tak hanya mengangkat IHSG, tetapi juga memberikan dukungan terhadap penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Faktor lain yang memperkuat sentimen adalah melemahnya indeks dolar AS serta ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada September mendatang.

    “Probability Fed Rate cut on September yang hampir di price-in ke pasar membuat yield obligasi ikut merendah, sehingga menggeser investment appetite ke arah lebih risk-on, yakni saham,” tambah Liza.

    Dengan kombinasi faktor eksternal dan fokus pada sektor perbankan, prospek pasar modal Indonesia dinilai semakin solid untuk menarik arus modal asing dalam jangka menengah.

    Pertumbuhan Ekonomi dan Arus Investasi Asing Jadi Penopang Pasar Modal Indonesia

    Liza Camelia Suryanata, Head of Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai bahwa data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 yang mencapai 5,12% menjadi sinyal positif bagi pasar. Menurutnya, asumsi dasar makro ekonomi 2026 juga lebih realistis dengan proyeksi pertumbuhan di kisaran 5,2%–5,8%, meskipun sejumlah target lain dipandang cukup menantang di tengah kondisi global yang masih beradaptasi terhadap kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

    “Namun, kami melihat investasi asing memang mulai merangkak naik, tumbuh 2,5% pada semester I 2025 dengan nilai mencapai USD 25,56 miliar,” jelas Liza.

    Ia menambahkan, ke depan pasar perlu mengamati stabilitas dan konsistensi dari arus masuk dana asing ini. Menurutnya, peran pemerintah sangat krusial dalam membaca arah perubahan peta ekonomi global.

    “Kejelian pemerintah memanfaatkan celah dalam pergeseran ekonomi global sangat menentukan sebanyak apa benefit yang bisa diraih Indonesia,” tutur Liza.

    Dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi domestik yang solid, arus modal asing yang kembali meningkat, serta kebijakan pemerintah yang adaptif, pasar modal Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tetap atraktif di tengah dinamika global.

    Apakah Anda ingin saya rangkum potensi risiko eksternal yang bisa memengaruhi aliran dana asing ke Indonesia dalam waktu dekat?

    📊 Aksi Beli Investor Asing Dorong IHSG

    Sepanjang pekan perdagangan 11–15 Agustus 2025, investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih saham dengan nilai total sekitar Rp 6,6 triliun. Pembelian terbesar terjadi pada 12 Agustus 2025 yang mencapai Rp 2,2 triliun.

    Berikut rincian aliran dana asing ke pasar saham Indonesia selama sepekan:

    • 11 Agustus 2025: Rp 850 miliar
    • 12 Agustus 2025: Rp 2,20 triliun
    • 13 Agustus 2025: Rp 1,48 triliun
    • 14 Agustus 2025: Rp 827,17 miliar
    • 15 Agustus 2025: Rp 1,30 triliun

    Konsistensi aliran dana asing ini menjadi salah satu pendorong utama penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan yang sama.