Serratalhadafc.com – Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui Bursa Karbon Indonesia mengungkapkan bahwa hingga Agustus 2025, transaksi karbon oleh pembeli asing masih tergolong terbatas.
Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 2 BEI, Ignatius Denny Wicaksono, menjelaskan bahwa volume transaksi karbon yang telah berstatus authorized baru mencapai puluhan ribu ton. “Untuk transaksi yang sudah terotorisasi memang masih minim, sekitar 40.000–50.000 ton saja,” ujar Denny dalam acara Update Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon), Senin (25/8/2025).
Hambatan Teknis Investor Asing
Menurut Denny, ada sejumlah kendala teknis yang membuat transaksi asing berjalan lambat. Salah satunya adalah kewajiban investor asing untuk membuka rekening di bank yang terdaftar di Bank Indonesia. Prosedur ini dianggap cukup rumit. “Untuk mengatasi hal ini, kami sedang mengubah aturan. Nantinya investor asing tidak perlu lagi membuka akun di Bank Indonesia, tapi bisa melalui bank mitra yang kami tunjuk. Dengan begitu transaksi dolar tetap bisa masuk dengan lebih mudah,” jelasnya.
Lonjakan Transaksi Domestik
Meski transaksi asing masih terbatas, pasar karbon domestik justru mencatat pertumbuhan pesat. BEI melaporkan bahwa sepanjang 2025, volume perdagangan karbon naik hingga 493%. Per 22 Agustus, total perdagangan mencapai 699 ribu ton setara CO₂ dengan nilai sekitar Rp29,6 miliar, jauh lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu.
Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya partisipasi pelaku pasar. Sejak awal tahun, tercatat 26 perusahaan dan 12 individu aktif memperdagangkan unit karbon melalui platform IDXCarbon.
OJK: Perdagangan Bursa Karbon Tembus 1,59 Juta Ton CO₂ hingga Juli 2025
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Bursa Karbon Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif sejak resmi beroperasi pada 26 September 2023. Hingga 31 Juli 2025, total volume perdagangan telah mencapai 1,59 juta ton CO₂ ekuivalen.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, mengatakan nilai transaksi akumulatif selama periode tersebut mencapai Rp77,95 miliar. “Sejak 26 September 2023 hingga 31 Juli 2025, tercatat 116 pengguna jasa yang memperoleh izin dengan volume perdagangan 1.599.000 ton CO₂ ekuivalen dan nilai akumulasi Rp77,95 miliar,” ujar Inarno dalam konferensi pers RDKB Juli 2025, Senin (4/8/2025).
Menurut Inarno, partisipasi 116 pengguna jasa yang telah mengantongi izin OJK mencerminkan meningkatnya kesadaran sektor jasa keuangan dalam mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca melalui mekanisme pasar.
Skor Tata Kelola Emiten Indonesia Tertinggi di ASEAN
Indonesia mencatat capaian penting dalam forum ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) yang digelar di Malaysia pada Juli 2025. Skor rata-rata nasional meningkat sebesar 9%, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai negara dengan nilai tertinggi di Asia Tenggara.
Peningkatan tersebut mencerminkan perbaikan nyata dalam praktik tata kelola perusahaan terbuka di Tanah Air. Bahkan, empat emiten asal Indonesia berhasil masuk dalam daftar 50 besar ASEAN, dengan dua di antaranya berasal dari sektor perbankan yang sukses menembus 10 besar.
“Empat emiten Indonesia masuk dalam top 50 ASEAN, dengan dua emiten perbankan menempati 10 besar. Hal ini menunjukkan reputasi tata kelola emiten Indonesia yang semakin kuat,” ujarnya
Serratalhadafc.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat lonjakan signifikan pada periode 11–15 Agustus 2025. Dorongan utama datang dari aksi beli besar-besaran investor asing yang menambah optimisme di pasar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup menguat 4,8% ke level 7.898,37 pada akhir pekan. Nilai pembelian saham oleh investor asing mencapai Rp 6,67 triliun, jauh lebih tinggi dibanding pekan sebelumnya yang hanya sebesar Rp 124,22 miliar. Meski demikian, secara akumulasi sepanjang 2025, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp 55,18 triliun.
Head of Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai tren masuknya dana asing mulai menunjukkan konsistensi. Menurutnya, aliran dana tersebut tidak lepas dari keputusan lembaga riset internasional MSCI yang memasukkan sejumlah perusahaan Indonesia ke dalam indeks global.
“Prestasi ini menjadi sinyal positif dan berpotensi memperbesar investment pool Indonesia sebagai salah satu negara yang menarik untuk investasi,” jelas Liza dalam risetnya.
Ia menambahkan, keberadaan perusahaan berkapitalisasi besar di dalam indeks memberikan ruang likuiditas yang lebih luas bagi investor. Hal ini membuat pasar modal Indonesia semakin kompetitif dan berpotensi menarik lebih banyak aliran dana asing ke depannya.
Investor Asing Fokus ke Sektor Perbankan, Rupiah dan IHSG Ikut Menguat
Strategi masuknya investor asing ke pasar modal Indonesia saat ini banyak diarahkan ke sektor perbankan. Menurut Head of Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, saham-saham bluechip perbankan yang selama ini cenderung tertinggal (laggard) justru menjadi target utama.
“Bluechips yang sudah lama laggard penting untuk dimasukkan ke portofolio skala besar karena mereka adalah tulang punggung IHSG atau index mover,” jelas Liza.
Aliran dana asing yang deras tak hanya mengangkat IHSG, tetapi juga memberikan dukungan terhadap penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Faktor lain yang memperkuat sentimen adalah melemahnya indeks dolar AS serta ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada September mendatang.
“Probability Fed Rate cut on September yang hampir di price-in ke pasar membuat yield obligasi ikut merendah, sehingga menggeser investment appetite ke arah lebih risk-on, yakni saham,” tambah Liza.
Dengan kombinasi faktor eksternal dan fokus pada sektor perbankan, prospek pasar modal Indonesia dinilai semakin solid untuk menarik arus modal asing dalam jangka menengah.
Pertumbuhan Ekonomi dan Arus Investasi Asing Jadi Penopang Pasar Modal Indonesia
Liza Camelia Suryanata, Head of Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai bahwa data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 yang mencapai 5,12% menjadi sinyal positif bagi pasar. Menurutnya, asumsi dasar makro ekonomi 2026 juga lebih realistis dengan proyeksi pertumbuhan di kisaran 5,2%–5,8%, meskipun sejumlah target lain dipandang cukup menantang di tengah kondisi global yang masih beradaptasi terhadap kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
“Namun, kami melihat investasi asing memang mulai merangkak naik, tumbuh 2,5% pada semester I 2025 dengan nilai mencapai USD 25,56 miliar,” jelas Liza.
Ia menambahkan, ke depan pasar perlu mengamati stabilitas dan konsistensi dari arus masuk dana asing ini. Menurutnya, peran pemerintah sangat krusial dalam membaca arah perubahan peta ekonomi global.
“Kejelian pemerintah memanfaatkan celah dalam pergeseran ekonomi global sangat menentukan sebanyak apa benefit yang bisa diraih Indonesia,” tutur Liza.
Dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi domestik yang solid, arus modal asing yang kembali meningkat, serta kebijakan pemerintah yang adaptif, pasar modal Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tetap atraktif di tengah dinamika global.
Apakah Anda ingin saya rangkum potensi risiko eksternal yang bisa memengaruhi aliran dana asing ke Indonesia dalam waktu dekat?
📊 Aksi Beli Investor Asing Dorong IHSG
Sepanjang pekan perdagangan 11–15 Agustus 2025, investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih saham dengan nilai total sekitar Rp 6,6 triliun. Pembelian terbesar terjadi pada 12 Agustus 2025 yang mencapai Rp 2,2 triliun.
Berikut rincian aliran dana asing ke pasar saham Indonesia selama sepekan:
11 Agustus 2025: Rp 850 miliar
12 Agustus 2025: Rp 2,20 triliun
13 Agustus 2025: Rp 1,48 triliun
14 Agustus 2025: Rp 827,17 miliar
15 Agustus 2025: Rp 1,30 triliun
Konsistensi aliran dana asing ini menjadi salah satu pendorong utama penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan yang sama.
Serratalhadafc.com – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan bahwa hingga saat ini terdapat lima perusahaan yang sedang dalam proses pencatatan saham (listing) di papan bursa. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, pada Minggu (27/7/2025).
Nyoman menyebutkan kepada Anugerahslot Finance bahwa sejak awal tahun hingga 25 Juli 2025, sebanyak 22 perusahaan telah resmi melantai di BEI, dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 10,39 triliun.
“Saat ini terdapat lima perusahaan dalam pipeline pencatatan saham di BEI,” jelas Nyoman.
Berdasarkan klasifikasi aset sesuai dengan Peraturan OJK Nomor 53/POJK.04/2017, rincian kelima perusahaan tersebut adalah sebagai berikut:
0 perusahaan dengan aset skala kecil (kurang dari Rp 50 miliar)
1 perusahaan dengan aset skala menengah (Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar)
4 perusahaan dengan aset skala besar (lebih dari Rp 250 miliar)
Dari sisi sektor usaha, kelima perusahaan tersebut berasal dari berbagai sektor ekonomi:
2 perusahaan dari sektor basic materials
1 perusahaan dari sektor energi
1 perusahaan dari sektor keuangan
1 perusahaan dari sektor transportasi dan logistik
Sementara itu, belum ada perusahaan dari sektor consumer goods, perawatan kesehatan, industri, infrastruktur, properti, maupun teknologi yang tercatat dalam pipeline saat ini.
Kondisi ini mencerminkan bahwa minat untuk melantai di bursa tetap terjaga, terutama dari perusahaan berskala besar dan sektor-sektor yang terkait dengan kebutuhan fundamental dan pembangunan jangka panjang.
BEI: 113 Emisi EBUS Diterbitkan, Lima Penerbit Masih dalam Pipeline
Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mencatat perkembangan positif dalam pasar efek bersifat utang dan sukuk (EBUS). Hingga 25 Juli 2025, telah diterbitkan sebanyak 113 emisi EBUS yang berasal dari 65 penerbit, dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 129,2 miliar.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyampaikan bahwa selain emisi yang telah diterbitkan, masih terdapat sejumlah emisi yang sedang dalam proses pencatatan.
“Sampai dengan 25 Juli 2025 terdapat delapan emisi dari lima penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline,” ungkap Nyoman, Minggu (27/7/2025).
Adapun klasifikasi sektor dari lima perusahaan yang berada dalam pipeline EBUS tersebut mencakup:
1 perusahaan dari sektor basic materials
2 perusahaan dari sektor energi
1 perusahaan dari sektor keuangan
1 perusahaan dari sektor properti dan real estate
Sementara itu, belum terdapat perusahaan dari sektor consumer goods, perawatan kesehatan, industri manufaktur, infrastruktur, teknologi, maupun transportasi dan logistik dalam pipeline EBUS hingga saat ini.
Kondisi ini menunjukkan bahwa minat penerbitan instrumen utang dan sukuk masih cukup aktif, terutama dari sektor-sektor dengan kebutuhan pembiayaan besar dan jangka panjang.
BEI: Rights Issue Capai Rp 16,53 Triliun, Empat Emiten Masih dalam Pipeline
Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan perkembangan aktivitas rights issue hingga 25 Juli 2025. Tercatat sudah ada 10 perusahaan tercatat yang berhasil menerbitkan rights issue, dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 16,53 triliun.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menjelaskan bahwa aktivitas rights issue masih akan berlanjut, seiring masih adanya perusahaan yang tengah memproses aksi korporasi serupa.
“Masih terdapat empat perusahaan tercatat dalam pipeline rights issue BEI,” kata Nyoman, dikutip Minggu (27/7/2025).
Adapun rincian sektor dari empat perusahaan yang masih berada dalam pipeline rights issue tersebut adalah sebagai berikut:
2 perusahaan dari sektor basic materials
1 perusahaan dari sektor perawatan kesehatan
1 perusahaan dari sektor transportasi dan logistik
Tidak terdapat perusahaan dari sektor consumer goods (siklikal maupun nonsiklikal), energi, keuangan, industri, infrastruktur, properti dan real estate, maupun teknologi yang sedang merencanakan rights issue dalam waktu dekat.
Hal ini menunjukkan bahwa sektor-sektor tertentu masih aktif melakukan penggalangan dana melalui pasar modal, terutama untuk mendukung ekspansi bisnis atau memperkuat struktur permodalan.
Serratalhadafc.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah signifikan pada penutupan perdagangan Selasa, 22 Juli 2025. IHSG terkoreksi sebesar 0,72% ke level 7.344, dipicu oleh aksi jual bersih yang dilakukan oleh investor asing.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dirilis Anugerahslot Finance Rabu (23/7/2025), IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 7.457,38 dan terendah di 7.344,73 sepanjang sesi perdagangan. Total volume perdagangan tercatat mencapai 30,21 miliar saham, dengan nilai transaksi harian sebesar Rp 19,74 triliun dalam 2,01 juta kali transaksi.
Kapitalisasi Pasar Turun, Sektor Saham Mayoritas Melemah
Seiring dengan koreksi indeks, kapitalisasi pasar BEI menyusut menjadi Rp 13.172 triliun. Dari seluruh sektor, hanya sektor infrastruktur yang berhasil mencatatkan kenaikan sebesar 1,69%. Sementara itu, mayoritas sektor lainnya justru bergerak di zona merah:
Basic Materials: -4,36% (terkoreksi paling dalam)
Energi: -0,20%
Industri: -0,01%
Consumer Non-Cyclicals: -0,53%
Consumer Cyclicals: -0,85%
Kesehatan: -0,41%
Keuangan: -0,41%
Properti: -1,01%
Teknologi: -0,29%
Transportasi dan Logistik: -0,62%
Asing Jual Saham Rp 561,47 Miliar
Tekanan terhadap IHSG diperparah oleh aksi jual investor asing yang mencatatkan net sell senilai Rp 561,47 miliar pada hari tersebut. Secara kumulatif sepanjang 2025, investor asing telah menjual saham senilai Rp 60,24 triliun.
Beberapa saham unggulan menjadi sasaran aksi lepas asing. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan penjualan asing terbesar, yakni Rp 482,42 miliar, diikuti oleh:
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Rp 291,09 miliar
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI): Rp 40,19 miliar
Top 10 Saham yang Dilepas Asing – 22 Juli 2025 (Data: Stockbit)
Berikut adalah daftar 10 saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing:
(Data lengkap 10 saham tidak dicantumkan dalam naskah sumber)
ANTM – Rp 482,42 miliar
BMRI – Rp 291,09 miliar
PANI – Rp 40,19 miliar
Kesimpulan:
Koreksi IHSG pada perdagangan Selasa menunjukkan tekanan jual yang masih mendominasi pasar, khususnya dari investor asing. Kinerja sektor-sektor utama yang mayoritas negatif menjadi sinyal perlambatan sentimen positif, di tengah potensi ketidakpastian global dan domestik. Pelaku pasar disarankan mencermati sektor infrastruktur yang masih mencatatkan performa positif sebagai potensi peluang investasi ke depan.
Aksi Beli
Berikut 10 saham yang dibeli oleh investor asing berdasarkan data stockbit:
1.PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM): Rp 126,96 miliar
2.PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Rp 100,80 miliar
3.PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Rp 77,13 miliar
4.PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN): Rp 62,27 miliar
5.PT United Tractors Tbk (UNTR): Rp 40,88 miliar
6.PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO): Rp 28,89 miliar
7.PT Astra International Tbk (ASII): Rp 27,03 miliar
8.PT Alamtri Resources Tbk (ADRO): Rp 26,57 miliar
9.PT Indosat Tbk (ISAT): Rp 23,23 miliar
10.PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): Rp 22,18 miliar
Aksi Jual
.PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): Rp 482,42 miliar
2.PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Rp 291,09 miliar
3.PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI): Rp 40,19 miliar
4.PT Darma Henwa Tbk (DEWA): Rp 33,53 miliar
5.PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA): Rp 28,29 miliar
6.PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI): Rp 27,98 miliar
7.PT Rukun Raharja Tbk (RAJA): Rp 24,61 miliar
8.PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI): Rp 24,02 miliar
9.PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA): Rp 23,10 miliar
10.PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB): Rp 22,59 miliar
Serratalhadafc.com – Aktivitas pencatatan efek di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan tren positif sepanjang pekan 7–11 Juli 2025. Dalam periode tersebut, tercatat 43 efek baru yang resmi masuk ke pasar modal Tanah Air. Rinciannya terdiri dari 25 obligasi, 10 sukuk, dan 8 saham perdana.
Lonjakan pencatatan ini menjadi cerminan nyata dari tingginya kepercayaan pelaku pasar terhadap iklim investasi dan mekanisme pendanaan di BEI. Kondisi ini juga menandai geliat pemulihan ekonomi serta meningkatnya kebutuhan perusahaan untuk menghimpun dana publik.
Senin, 7 Juli: Hari Padat Pencatatan Korporasi
Mengutip keterangan resmi Anugerahslot finance di BEI (13 Juli 2025), awal pekan tersebut diwarnai oleh ramainya pencatatan surat utang korporasi. Beberapa instrumen yang masuk ke papan pencatatan antara lain:
Obligasi Berkelanjutan IV Bank Victoria Tahap I 2025
Sustainability Bond milik BNI
Obligasi Bank Mandiri Taspen
Sukuk Ijarah dari Samudera Indonesia
Obligasi dan Obligasi Subordinasi KB Bank
Obligasi dan Sukuk dari Sampoerna Agro
Obligasi Astra Sedaya Finance
Obligasi serta Sukuk Wakalah dari Petrindo Jaya Kreasi
Pencatatan efek dalam jumlah besar pada satu hari ini mempertegas BEI sebagai pusat penghimpunan dana yang aktif dan efisien bagi korporasi.
Selasa, 8 Juli: Dua Emiten Saham Baru Resmi Melantai
Masih dalam pekan yang sama, dua perusahaan baru resmi mencatatkan saham perdana (IPO) di BEI pada Selasa (8 Juli 2025), menjadikan total emiten tahun ini terus bertambah.
PT Pancaran Samudera Transport Tbk (PSAT)
Emiten ke-15 pada 2025
Bergerak di bidang angkutan laut domestik
Berhasil menghimpun dana sebesar Rp200,1 miliar
PT Asia Pramulia Tbk (ASPR)
Emiten ke-16 pada 2025
Fokus pada produksi kemasan plastik rigid untuk segmen B2B
Menggalang dana Rp100,7 miliar
Kehadiran emiten-emiten baru ini menunjukkan bahwa minat investor terhadap sektor logistik dan manufaktur masih tinggi, sekaligus membuka peluang pertumbuhan bisnis yang lebih luas bagi perusahaan bersangkutan.
Secara keseluruhan, pencatatan 43 efek dalam satu pekan ini menjadi indikator kuat bahwa pasar modal Indonesia terus menunjukkan daya tariknya, baik dari sisi investor maupun emiten. BEI dipandang semakin adaptif, transparan, dan inklusif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
BEI Semakin Sibuk: Pencatatan Obligasi dan Saham Baru Padati Bursa pada 9–10 Juli 2025
Aktivitas pencatatan efek di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menunjukkan geliat positif sepanjang pekan kedua Juli 2025. Pada 9 dan 10 Juli, BEI kembali dipadati oleh berbagai pencatatan obligasi, sukuk, dan saham perdana (IPO) dari emiten besar lintas sektor. Ini menjadi bukti bahwa pasar modal Indonesia kian diminati sebagai sarana pendanaan yang efektif dan kredibel.
Rabu, 9 Juli 2025: Emiten Besar Dominasi Pasar
Sejumlah korporasi ternama mencatatkan instrumen obligasi dan sukuk pada Rabu (9/7). Di antara emiten yang masuk ke papan pencatatan adalah:
Toyota Astra Financial Services
Merdeka Battery Materials
BUMI Resources
Adira Finance
Permodalan Nasional Madani (PNM)
TBS Energi Utama
Dan sejumlah emiten lainnya
Tak hanya itu, dua emiten baru juga resmi melantai di BEI dengan perolehan dana yang signifikan:
PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA)
Emiten ke-17 tahun ini
Berhasil menghimpun dana jumbo senilai Rp2,37 triliun
PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN)
Emiten ke-18
Meraih dana segar sebesar Rp220,6 miliar
Kamis, 10 Juli 2025: Empat Emiten Baru Ramaikan BEI
Pencatatan saham perdana kembali berlanjut sehari setelahnya, dengan empat perusahaan dari sektor berbeda mencatatkan sahamnya di BEI, yaitu:
PT Diastika Biotekindo Tbk (CHEK)
Bergerak di bidang alat kesehatan
Menghimpun dana Rp104,3 miliar
PT Trimitra Trans Persada Tbk (BLOG)
Perusahaan logistik
Meraih dana Rp140,8 miliar
PT Merry Riana Edukasi Tbk (MERI)
Fokus pada pendidikan dan pengembangan diri
Menggalang dana Rp30 miliar
PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk (PMUI)
Bidang telekomunikasi dan konsultasi manajemen B2B
Menghimpun dana Rp208,8 miliar
Pencatatan instrumen pendanaan juga tetap berlangsung aktif di hari yang sama dengan:
Sukuk Wakalah dari Metro Healthcare
Obligasi RMK Energy
Obligasi dari Pyridam Farma
Kesimpulan: BEI Makin Dilirik sebagai Sarana Pendanaan Korporasi
Tren pencatatan yang padat dan beragam ini menunjukkan bahwa Bursa Efek Indonesia berhasil menjaga kepercayaan pasar serta memperkuat peran strategisnya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan semakin banyak perusahaan dari berbagai sektor yang bergabung ke lantai bursa, BEI menjadi simbol dinamika ekonomi yang sehat, inklusif, dan kompetitif.
Jumat Jadi Penutup Pekan yang Kuat, Total Emisi Obligasi & Sukuk di BEI Tembus Rp125 Triliun
Jumat, 11 Juli 2025 menutup pekan perdagangan dengan dua pencatatan penting di Bursa Efek Indonesia (BEI):
Obligasi BRI Finance
Obligasi Daaz Bara Lestari
Dengan tambahan ini, total emisi obligasi dan sukuk sepanjang 2025 telah mencapai:
112 emisi
Diterbitkan oleh 64 emiten
Total nilai emisi mencapai Rp125,11 triliun
Angka ini mencerminkan optimisme dan kepercayaan tinggi pelaku pasar terhadap pasar modal Indonesia sebagai sumber pendanaan jangka panjang.
Serratalhadafc.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah pada perdagangan Jumat pagi, 20 Juni 2025. IHSG turun 20,36 poin atau sekitar 0,29 persen ke level 6.948,28. Di saat yang sama, indeks saham unggulan LQ45 juga terkoreksi 3,55 poin atau 0,46 persen ke posisi 771,26. Informasi ini dikutip dari Antara.
Meski demikian, peluang penguatan IHSG dalam jangka pendek secara teknikal masih terbuka. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menjelaskan kepada Anugerahslot Finance bahwa setelah koreksi tajam yang terjadi pada Kamis (19/6), indeks berpotensi mengalami rebound teknikal menuju kisaran 7.000 hingga 7.050.
Namun Fanny juga memberikan catatan bahwa potensi penguatan tersebut bisa dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking), mengingat IHSG masih berpeluang terkoreksi lebih dalam hingga menyentuh level 6.800 dalam beberapa waktu ke depan.
“Level support saat ini berada di 6.900–6.950, sementara resistance jangka pendek ada di kisaran 7.000–7.050,” ujarnya.
Sementara itu, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Tasrul Tanar, mengamati bahwa tekanan jual memang meningkat, namun tren jangka pendek IHSG masih terjaga dalam arah positif. Berdasarkan analisis tren, IHSG masih menunjukkan kenaikan moderat dengan slope 21,26 dan r-square 0,806, menandakan konsistensi arah naik masih cukup valid meskipun tekanan jual melanda pasar.
“Level support kritis saat ini berada di 6.959 atau hanya turun 0,14 persen dari posisi terkini. Ini menjadi batas penting untuk menguji kekuatan buyer. Adapun resistance jangka pendek berada di kisaran 7.090 hingga 7.408, yang menjadi target teknikal bila terjadi rebound,” jelas Tasrul.
Dengan kondisi ini, investor disarankan tetap waspada namun juga mencermati peluang jangka pendek yang mungkin muncul dari pergerakan teknikal pasar.
IHSG Masih Berpeluang Menguat, Ini Saham Pilihan Analis Hari Ini
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan potensi penguatan secara teknikal, meskipun tekanan jual belum sepenuhnya mereda. Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Tasrul Tanar, menilai bahwa peluang rebound akan tetap terbuka selama level support 6.959 mampu bertahan.
“IHSG berpeluang menguat secara teknikal jika support 6.959 tidak jebol. Namun tetap harus diwaspadai kemungkinan breakdown jika tekanan jual berlanjut. Critical level yang harus dijaga ada di 6.910,” ujar Tasrul dalam keterangannya.
Untuk perdagangan hari ini, sejumlah saham menjadi rekomendasi utama dari para analis.
Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, merekomendasikan enam saham potensial yang patut dicermati:
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)
PT Sentul City Tbk (BKSL)
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO)
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI)
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
Sementara itu, Tasrul Tanar dari Mirae Asset memberikan tiga rekomendasi saham dari sektor energi dan bahan baku, yaitu:
PT Barito Pacific Tbk (BRPT)
PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA)
Saham-saham tersebut diperkirakan memiliki daya tahan terhadap volatilitas pasar dan berpotensi mencatatkan kinerja yang baik dalam jangka pendek hingga menengah, seiring dengan dinamika harga komoditas dan kondisi teknikal pasar.
Rekomendasi Saham Hari Ini dari BNI Sekuritas: Ini Level Beli dan Target Harganya
BNI Sekuritas merilis rekomendasi teknikal harian untuk Jumat, 20 Juni 2025. Sejumlah saham potensial dipilih untuk trading jangka pendek dengan strategi speculative buy maupun buy on breakout. Berikut ulasan lengkapnya:
🔹 Trading Ideas Hari Ini:
BRMS – PT Bumi Resources Minerals Tbk
Strategi: Spec Buy
Area Beli: 420–422
Cutloss: < 418
Target Harga: 430–438
BKSL – PT Sentul City Tbk
Strategi: Spec Buy
Area Beli: 131–134
Cutloss: < 129
Target Harga: 137–139
PGEO – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk
Strategi: Spec Buy
Area Beli: 1.460–1.470
Cutloss: < 1.435
Target Harga: 1.500–1.515
MEDC – PT Medco Energi Internasional Tbk
Strategi: Buy If Break
Level Breakout: 1.460
Target Harga: 1.490–1.515
Catatan: Hindari jika belum tembus 1.460
PANI – PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk
Strategi: Spec Buy
Area Beli: 11.600–11.750
Cutloss: < 11.500
Target Harga: 12.025–12.325
AMMN – PT Amman Mineral Internasional Tbk
Strategi: Spec Buy
Area Beli: 7.825–7.900
Cutloss: < 7.800
Target Harga: 8.000–8.100
⚠️ Disclaimer: Rekomendasi ini bersifat teknikal dan untuk keperluan edukasi. Seluruh keputusan jual beli saham sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Lakukan analisis lanjutan sebelum mengambil keputusan investasi.
Serratalhadafc.com – Saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) kembali menunjukkan performa impresif pada perdagangan hari ini, Rabu, 4 Juni 2025. Hingga berita ini diturunkan, saham PSAB tercatat menguat sebesar 21,40% ke level Rp 590. Dalam sepekan terakhir, saham ini telah mencatat kenaikan 85,13%, dan sejak awal tahun (year to date/YTD), lonjakannya telah mencapai 139,75%.
Sehari sebelumnya, pada Selasa, 3 Juni 2025, PSAB ditutup menguat tajam sebesar 24,62% ke posisi Rp 486, bahkan menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA). Pergerakan signifikan tersebut langsung menjadi sorotan Anugerahslot pelaku pasar dan ramai dibicarakan di berbagai forum komunitas investasi.
Tak hanya investor domestik yang antusias, minat dari investor asing juga terlihat meningkat. Pada 3 Juni, tercatat terjadi aksi beli bersih (net buy) dari investor asing sebesar Rp 52 miliar. Masuknya dana asing ini dinilai sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek emiten, meskipun volatilitas harga yang tinggi tetap menyisakan unsur spekulatif.
“PSAB sudah menguat sekitar 50% dalam waktu singkat. Ini merupakan lonjakan yang sangat luar biasa,” ujar Mino, Team Leader Retail Research dari CGS International Sekuritas Indonesia, Rabu (4/6/2025).
Analisis Teknikal Saham PSAB
Dari sisi teknikal, PSAB diperkirakan akan bergerak dalam kisaran support di level Rp 450 dan Rp 414, serta resistance di area Rp 525 hingga Rp 560.
Dengan kenaikan yang tergolong sangat agresif dalam waktu singkat, potensi koreksi jangka pendek pun perlu diperhatikan. Risiko tekanan jual bisa meningkat apabila saham ini gagal menembus atau bertahan di atas area resistance tersebut.
“Untuk hari ini, secara teknikal, PSAB berpeluang bergerak dalam rentang support 450–414 dan resistance 525–560,” tambah Mino.
Saham PSAB Melonjak di Tengah Spekulasi Akuisisi, Manajemen Kembali Bantah Isu
Saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) kembali menarik perhatian pasar setelah mencatatkan lonjakan harga signifikan. Pada perdagangan Rabu, 4 Juni 2025, saham PSAB terpantau melonjak 21,40% ke level Rp 590. Dalam sepekan, saham ini telah menguat 85,13%, sementara secara year to date (YTD), kenaikannya mencapai 139,75%.
Sehari sebelumnya, pada Selasa (3/6), PSAB ditutup melonjak 24,62% ke posisi Rp 486 dan menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA). Kenaikan tajam ini memicu perbincangan luas di kalangan pelaku pasar dan komunitas investasi.
Rumor Akuisisi Jadi Pemicu Lonjakan?
Kuat dugaan bahwa sentimen positif tersebut dipicu oleh kembalinya rumor akuisisi PSAB oleh Grup Sinar Mas dan PT BUMA International Tbk (DOID). Keduanya disebut-sebut tengah berupaya mengambil alih sekitar 92,5% saham PSAB yang saat ini dikuasai oleh Jimmy Budiarto, pemegang saham mayoritas perusahaan.
Namun hingga kini, tidak ada konfirmasi resmi mengenai kebenaran kabar tersebut. Pihak manajemen PSAB sendiri telah kembali membantah rumor akuisisi, sebagaimana pernah mereka lakukan pada tahun 2024 ketika isu serupa mencuat.
“Sebenarnya rumor itu sudah pernah muncul di tahun 2024, dan itu sudah dibantah oleh manajemen bahwa itu tidak benar,” ujar Mino, Team Leader Retail Research dari CGS International Sekuritas Indonesia.
Dana Asing Masuk, Pasar Tetap Spekulatif
Menariknya, meski rumor belum terverifikasi, minat pasar terhadap saham ini meningkat. Pada 3 Juni 2025, tercatat investor asing melakukan net buy senilai Rp 52 miliar, mencerminkan optimisme terhadap potensi perusahaan atau spekulasi jangka pendek yang sedang terjadi.
Teknikal: Waspadai Koreksi Setelah Kenaikan Tajam
Secara teknikal, saham PSAB diperkirakan akan bergerak dalam kisaran support di Rp 450 dan Rp 414, serta resistance pada Rp 525 hingga Rp 560. Dengan harga saat ini berada di atas resistance, potensi koreksi jangka pendek cukup tinggi jika tidak ada katalis positif lanjutan.
🔍 Kesimpulan: Antara Spekulasi dan Realita
Kenaikan saham PSAB saat ini tampaknya lebih banyak ditopang oleh sentimen pasar dan rumor, bukan pengumuman fundamental resmi. Meskipun manajemen sudah membantah isu akuisisi, pasar tetap bereaksi agresif terhadap potensi konsolidasi.
Investor disarankan tetap waspada dan mempertimbangkan risiko koreksi teknikal, terutama bagi mereka yang masuk di harga tinggi. Sebagai tambahan, transparansi dari manajemen dalam waktu dekat akan sangat menentukan arah pergerakan saham selanjutnya.
Laba Bersih Melonjak 412%, Kinerja Cemerlang Dorong Saham PSAB Meroket
Saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) terus mencatatkan penguatan signifikan, didorong oleh sejumlah katalis positif, salah satunya adalah laporan keuangan kuartal I 2025 yang menunjukkan lonjakan laba bersih luar biasa.
Perusahaan membukukan laba bersih sebesar USD 11,45 juta, atau naik 412% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar USD 2,24 juta. Kinerja keuangan yang impresif ini sebagian besar ditopang oleh lonjakan harga emas global dalam beberapa bulan terakhir.
“Kinerja keuangannya ini naiknya sangat luar biasa. Jadi karena harga emasnya naik signifikan, maka dengan asumsi yang lain ceteris paribus, ini sangat berdampak ke laba bersih,” ungkap Mino, Team Leader Retail Research dari CGS International Sekuritas Indonesia.
Harga Emas Melejit, Dorong Optimisme Pasar
Dalam dua hari terakhir, harga emas dunia naik hampir 5%, dan secara year-to-date (YTD) telah menguat sekitar 28%, menyentuh level USD 3.353 per ons. Kondisi ini menjadi angin segar bagi perusahaan tambang emas seperti PSAB, yang secara langsung menikmati peningkatan margin profit tanpa perlu meningkatkan produksi secara signifikan.
Dengan asumsi operasional dan biaya tetap stabil, kenaikan harga emas memberi dampak langsung terhadap peningkatan pendapatan dan laba bersih perusahaan. Hal inilah yang kemudian mendorong ekspektasi pasar terhadap prospek PSAB di sisa tahun 2025.
Sentimen Tambahan Perkuat Momentum Saham
Selain kinerja keuangan yang solid, saham PSAB juga terdorong oleh rumor akuisisi oleh Grup Sinar Mas dan DOID, meskipun kabar tersebut telah dibantah oleh manajemen. Di sisi lain, aliran dana asing pun turut menambah tekanan beli, dengan net buy tercatat mencapai Rp 52 miliar pada 3 Juni 2025.
🔍 Kesimpulan: Kombinasi Fundamental & Sentimen Dorong Lonjakan PSAB
Lonjakan saham PSAB tidak hanya dipicu oleh spekulasi pasar, tetapi juga didukung oleh fundamental yang kuat, terutama dari pertumbuhan laba yang luar biasa pada kuartal pertama 2025. Jika tren harga emas tetap menguat, PSAB berpotensi mempertahankan kinerja positifnya hingga akhir tahun.
Meski begitu, investor tetap disarankan untuk mencermati risiko koreksi teknikal setelah kenaikan tajam dalam waktu singkat, terutama jika katalis eksternal seperti harga emas atau isu akuisisi mengalami perubahan.
Serratalhadafc.com – Pada perdagangan Selasa, 20 Mei 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan di tengah meningkatnya aksi jual saham oleh investor asing. Mengutip data dari Bursa Efek Indonesia pada Rabu (21/5/2025), IHSG tercatat melemah 0,65% ke level 7.094,60, sementara Indeks LQ45 turun lebih dalam sebesar 1,12% ke posisi 802,54.
Aktivitas transaksi di pasar modal tergolong tinggi dengan total volume perdagangan mencapai 24,94 miliar saham dan nilai transaksi harian sebesar Rp 16,14 triliun. Frekuensi transaksi pun cukup padat, tercatat 1,45 juta kali transaksi.
Setelah sebelumnya aktif melakukan pembelian saham, pada perdagangan Selasa, investor asing mulai melakukan aksi jual besar-besaran dengan nilai mencapai Rp 406,19 miliar. Sejak awal tahun 2025, total aksi jual saham oleh investor asing sudah menembus angka Rp 48,83 triliun.
Berikut adalah daftar 10 saham yang paling banyak dilepas investor asing pada perdagangan Selasa, 20 Mei 2025, berdasarkan data dari Stockbit:
PT Astra International Tbk (ASII) ➤ Nilai jual: Rp 244,56 miliar
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) ➤ Nilai jual: Rp 216,40 miliar
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) ➤ Nilai jual: Rp 137,07 miliar
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) ➤ Nilai jual: Rp 96,97 miliar
PT Panin Financial Tbk (PNLF) ➤ Nilai jual: Rp 38,99 miliar
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ➤ Nilai jual: Rp 37,87 miliar
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) ➤ Nilai jual: Rp 36,89 miliar
PT Amman Mineral Indonesia Tbk (AMMN) ➤ Nilai jual: Rp 32,09 miliar
PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) ➤ Nilai jual: Rp 25,84 miliar
PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) ➤ Nilai jual: Rp 25,48 miliar
Aksi jual ini menandakan kehati-hatian investor asing terhadap kondisi pasar saham nasional, meskipun transaksi tetap berlangsung aktif. Para pelaku pasar kini menanti sentimen baru yang dapat kembali mendorong pergerakan IHSG ke zona hijau.
Bursa Asia Menguat, Pasar Respon Positif Pemangkasan Suku Bunga oleh PBoC
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment di Pilarmas Investindo Sekuritas, menyampaikan bahwa pasar saham regional Asia menguat, didorong oleh serangkaian stimulus kebijakan yang diterapkan oleh Bank Sentral China (PBoC).
Menurut Nico, salah satu kebijakan yang mendapat perhatian besar adalah keputusan PBoC memangkas suku bunga pinjaman utama untuk pertama kalinya sejak Oktober 2024. Langkah ini dinilai sebagai upaya mendongkrak ekonomi China yang tengah lesu serta merespons dampak negatif dari kenaikan tarif oleh Amerika Serikat.
PBoC memangkas Loan Prime Rate (LPR) tenor 1 tahun sebesar 1 basis poin menjadi 3,0%, sementara LPR tenor 5 tahun juga diturunkan dengan besaran yang sama menjadi 3,5%.
“Pelaku pasar menilai pemangkasan suku bunga ini sebagai strategi untuk merangsang aktivitas ekonomi di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan yang berisiko menekan pertumbuhan,” ujar Nico, dikutip dari Antara.
Sikap Pasar Terhadap Kebijakan Dalam Negeri
Dari dalam negeri, para pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang akan ditentukan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 20–21 Mei 2025.
Ada ekspektasi bahwa BI memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan. Secara konsensus, pelaku pasar memperkirakan penurunan sebesar 25 basis poin, dari 5,75% menjadi 5,5%.
Penurunan suku bunga ini dinilai strategis karena dapat meningkatkan daya beli masyarakat, serta mendorong pelaku usaha untuk memperluas investasi. Dengan demikian, langkah ini diharapkan dapat memberikan dorongan bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Serratalhadafc.com – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih diliburkan hari ini, Kamis, 3 April 2025. Libur ini merupakan bagian dari rangkaian cuti bersama dan libur nasional dalam rangka Hari Raya Idulfitri 1446 Hijriah yang berlangsung sejak 31 Maret hingga 7 April 2025.
Sebelumnya, bursa sudah libur sejak 28 Maret 2025 karena cuti bersama Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947. Total, terdapat tujuh hari libur bursa yang mencakup perayaan Nyepi dan Idulfitri tahun ini.
Perdagangan saham dijadwalkan kembali berlangsung pada Selasa, 8 April 2025. Dengan masa libur yang cukup panjang, investor disarankan mulai menyiapkan strategi untuk menghadapi potensi pergerakan pasar saat bursa kembali dibuka, mengingat kemungkinan meningkatnya volatilitas.
Selain libur Lebaran, BEI juga akan tutup pada 18 April 2025 untuk memperingati Wafat Isa Almasih. Dengan demikian, jumlah hari aktif perdagangan di bulan April tersisa 16 hari.
Jadwal Libur Bursa Setelah Idul Fitri
Setelah libur panjang Idul Fitri, pasar saham masih akan menghadapi sejumlah hari libur hingga akhir tahun. Pada Mei 2025, Bursa Efek Indonesia akan tutup pada 1 Mei untuk memperingati Hari Buruh Internasional.
Disusul kemudian dengan libur Hari Raya Waisak pada 12 Mei dan cuti bersama Waisak pada 13 Mei.
Bursa juga akan diliburkan pada 29 dan 30 Mei dalam rangka peringatan Kenaikan Isa Almasih dan cuti bersama terkait.
Dengan serangkaian libur tersebut, total hari perdagangan aktif di bulan Mei hanya tersisa 17 hari
Jadwal Libur Bursa Juni–Desember 2025
Memasuki bulan Juni 2025, Bursa Efek Indonesia akan kembali libur pada 6 Juni untuk perayaan Idul Adha 1446 H. Libur dilanjutkan pada 9 Juni sebagai cuti bersama Idul Adha, dan kembali tutup pada 27 Juni untuk memperingati Tahun Baru Islam 1447 H. Dengan rangkaian ini, jumlah hari perdagangan aktif di Juni tinggal 18 hari.
Memasuki paruh kedua 2025, frekuensi libur bursa mulai berkurang. Juli dan Agustus tidak memiliki libur nasional, sehingga aktivitas perdagangan hanya berhenti di akhir pekan.
Pada September, bursa akan libur pada 5 September dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW. Selebihnya, perdagangan berjalan normal sepanjang bulan dengan total 21 hari bursa.
Oktober dan November tidak ada libur tambahan di luar akhir pekan.
Di penghujung tahun, bursa akan tutup pada 25 Desember untuk Hari Raya Natal, dilanjutkan cuti bersama pada 26 Desember. Terakhir, perdagangan akan berhenti lagi pada 31 Desember untuk persiapan tutup tahun. Dengan itu, Desember hanya menyisakan 20 hari bursa.
Serratalhadafc.com – Pada Selasa, 18 Maret 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 5,02%, turun ke level 6.146,91 dari posisi pembukaan di 6.458,66.
Penurunan drastis ini mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menerapkan trading halt atau penghentian sementara perdagangan saham pada pukul 11.19 WIB dalam sistem Jakarta Automated Trading System (JATS).
Secara umum, trading halt adalah penghentian sementara perdagangan saham ketika IHSG turun hingga batas tertentu. Jika kondisi pasar tidak memungkinkan perdagangan untuk dilanjutkan pada hari yang sama, trading halt dapat diperpanjang menjadi trading suspend.
Hukum Trading Halt
Ketentuan terbaru mengenai trading halt tertuang dalam Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor: Kep-00024/BEI/03-2020 tanggal 10 Maret 2020. Keputusan ini membahas perubahan panduan penanganan kelangsungan perdagangan di Bursa Efek Indonesia dalam kondisi darurat.
Jika IHSG mengalami penurunan tajam dalam satu hari bursa, BEI menerapkan trading halt selama 30 menit apabila penurunan mencapai lebih dari 5 persen. Jika penurunan berlanjut hingga lebih dari 10 persen, trading halt dapat diberlakukan kembali selama 30 menit. Apabila IHSG turun lebih dari 15 persen, BEI dapat menerapkan trading suspend atau penghentian perdagangan untuk sisa hari tersebut.
Saat trading halt, seluruh pesanan yang belum teralokasi (open order) tetap tersimpan dalam sistem Jakarta Automated Trading System (JATS) dan dapat ditarik oleh anggota bursa. Namun, jika terjadi trading suspend, seluruh pesanan yang belum teralokasi akan otomatis ditarik oleh JATS.
Investor Jangan Panik
DPR RI mengimbau investor untuk tetap tenang dan tidak panik menghadapi gejolak pasar. “Penurunan seperti ini adalah hal yang wajar, dan kami yakin pasar akan segera mengalami rebound dalam waktu dekat,” ujar Dasco.
Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa meskipun terjadi koreksi tajam, perdagangan saham kembali normal setelah mekanisme trading halt dicabut. Pada penutupan sesi, IHSG mulai menunjukkan perbaikan.
Dengan berbagai langkah yang diambil oleh pemerintah dan regulator pasar modal, diharapkan kepercayaan investor kembali pulih dan IHSG dapat kembali ke jalur positif dalam waktu dekat.