Tag: bursa saham

  • Bos OJK Ungkap Kekuatan Pasar Modal Indonesia Lawan Ketidakpastian Global

    Bos OJK Ungkap Kekuatan Pasar Modal Indonesia Lawan Ketidakpastian Global

    Serratalhadafc.com – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menegaskan pasar modal Indonesia mampu menunjukkan ketahanan di tengah gejolak global. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi nasional dan kinerja pasar yang positif sepanjang semester I 2025.

    “Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi dan tentu kita sekarang dapat memperkirakan akan terus berjalan dalam beberapa waktu ke depan seperti kebijakan suku bunga tinggi di sejumlah negara maju dan meningkatnya tensi geopolitik serta perdagangan yang semakin diliputi oleh ketidakpastian, Indonesia mampu menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat,” ujar Mahendra dalam sambutannya pada acara Anugerahslot Seremoni Pembukaan Perdagangan dalam Rangka 48 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia, Senin (11/8/2025), di Main Hall BEI.

    Kinerja IHSG

    Mahendra menjelaskan, sepanjang semester I 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,12% year on year, mencerminkan kokohnya pondasi ekonomi nasional. Hingga 8 Agustus 2025, IHSG ditutup di level 7.533,39 dengan kapitalisasi pasar meningkat 9,88% menjadi Rp 13.555 triliun. Sementara itu, Indonesia Composite Bond Index juga naik 7,42% ke posisi 421,81.

    Capaian ini tak lepas dari resiliensi pasar modal yang tetap mampu beradaptasi meski menghadapi tekanan eksternal. Aktivitas penghimpunan dana telah mencapai Rp 144,78 triliun dari 16 emiten baru, dengan 13 perusahaan lainnya dalam pipeline IPO senilai indikatif Rp 16,65 triliun.

    “Pasar modal Indonesia tetap mampu menunjukkan resiliensi dan kapasitas adaptasi yang baik. Ini menjadi bukti bahwa infrastruktur pasar modal kita semakin tangguh dalam menghadapi guncangan eksternal dan komitmen bersama kita untuk menjaga stabilitas dan kepastian sekalipun dengan kondisi eksternal yang tidak semakin mudah,” tegasnya.

    HUT ke-48 Pasar Modal Indonesia, Simak Kinerja IHSG hingga Investor pada 2025

    Tepat 48 tahun pasar modal kembali diaktifkan di Indonesia pada 10 Agustus 2025. Seiring 48 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia, pembukaan perdagangan pada Senin, 11 Agustus 2025 akan dibuka oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

    Dalam rangka HUT diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia, menarik diketahui sejumlah pencapaian sepanjang 2025. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah investor pasar modal Indonesia sentuh 17.016.329 Single Investor Identification (SID) pada Kamis, 3 Juli 2025.

    Investor pasar modal telah tumbuh 2.144.690 SID atau 11,42% dibandingkan posisi akhir 2024 yang mencapai 14.871.639 SID.

    Sejak 2020, jumlah investor pasar modal Indonesia terus bertumbuh pesat. Pada tahun 2020, jumlah investor tercatat sebesar 3,8 juta SID. Angka ini kemudian mengalami pertumbuhan sebesar 93% atau bertambah 3,6 juta SID menjadi 7,4 juta SID pada 2021.

    Pada tahun 2022, jumlah investor bertambah sebesar 38% atau 2,8 juta SID menjadi 10,3 juta SID. Jumlah investor pasar modal kembali meningkat pada tahun 2023, yaitu sebesar 17,9% atau 1,9 juta SID menjadi 12,1 juta SID. Selanjutnya, jumlah investor tumbuh sebesar 22,2% atau 2,7 juta SID menjadi 14,8 juta SID pada tahun 2024 yang hingga saat ini telah mencapai 17 juta SID.

    “Salah satu strategi utama BEI untuk mendorong pertumbuhan investor adalah berkolaborasi aktif dengan seluruh stakeholder untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat melalui edukasi dan sosialisasi yang masif, berkelanjutan serta adaptif terhadap perkembangan zaman,” demikian seperti dikutip dari keterangan resmi, Sabtu, 5 Juli 2025, ditulis Senin (11/8/2025).

    HUT ke-48 Pasar Modal Indonesia, Simak Kinerja IHSG hingga Investor pada 2025

    Tepat 48 tahun pasar modal kembali diaktifkan di Indonesia pada 10 Agustus 2025. Seiring 48 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia, pembukaan perdagangan pada Senin, 11 Agustus 2025 akan dibuka oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

    Dalam rangka HUT diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia, menarik diketahui sejumlah pencapaian sepanjang 2025. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah investor pasar modal Indonesia sentuh 17.016.329 Single Investor Identification (SID) pada Kamis, 3 Juli 2025.

    Investor pasar modal telah tumbuh 2.144.690 SID atau 11,42% dibandingkan posisi akhir 2024 yang mencapai 14.871.639 SID.

    Sejak 2020, jumlah investor pasar modal Indonesia terus bertumbuh pesat. Pada tahun 2020, jumlah investor tercatat sebesar 3,8 juta SID. Angka ini kemudian mengalami pertumbuhan sebesar 93% atau bertambah 3,6 juta SID menjadi 7,4 juta SID pada 2021.

    Pada tahun 2022, jumlah investor bertambah sebesar 38% atau 2,8 juta SID menjadi 10,3 juta SID. Jumlah investor pasar modal kembali meningkat pada tahun 2023, yaitu sebesar 17,9% atau 1,9 juta SID menjadi 12,1 juta SID. Selanjutnya, jumlah investor tumbuh sebesar 22,2% atau 2,7 juta SID menjadi 14,8 juta SID pada tahun 2024 yang hingga saat ini telah mencapai 17 juta SID.

    “Salah satu strategi utama BEI untuk mendorong pertumbuhan investor adalah berkolaborasi aktif dengan seluruh stakeholder untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat melalui edukasi dan sosialisasi yang masif, berkelanjutan serta adaptif terhadap perkembangan zaman,” demikian seperti dikutip dari keterangan resmi, Sabtu, 5 Juli 2025, ditulis Senin (11/8/2025).

  • Ketegangan Dagang dan Musim Laporan Keuangan Tekan Pasar Saham AS

    Ketegangan Dagang dan Musim Laporan Keuangan Tekan Pasar Saham AS

    Serratalhadafc.com – Pasar saham Amerika Serikat kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Minggu malam waktu setempat, menyusul meningkatnya kekhawatiran investor terhadap memanasnya hubungan dagang dan akan dimulainya musim laporan keuangan kuartal kedua.

    Mengutip laporan dari Anugerahslot Finance pada Selasa (15/7/2025), kontrak berjangka untuk ketiga indeks utama menunjukkan penurunan serentak. Indeks S&P 500 futures (ES=F) tercatat melemah 0,4%, diikuti oleh Nasdaq 100 futures (NQ=F) yang juga turun 0,4%, serta Dow Jones Industrial Average futures (YM=F) yang mengalami koreksi serupa.

    Tekanan ini muncul setelah pernyataan mengejutkan dari mantan Presiden Donald Trump pada akhir pekan lalu. Dalam pernyataannya pada Sabtu, Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan mulai menerapkan tarif baru sebesar 30% terhadap produk impor dari Uni Eropa dan Meksiko mulai 1 Agustus mendatang.

    Pengumuman tersebut langsung menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap potensi ketegangan dagang yang kembali meningkat, serta risiko naiknya inflasi di tengah upaya pemulihan ekonomi global yang masih berlangsung.

    Merespons kabar tersebut, pihak Uni Eropa dan Meksiko menyatakan kesiapan mereka untuk melanjutkan dialog dengan pemerintah AS guna mencari solusi damai atas kebijakan tarif tersebut.

    Penurunan pasar ini sekaligus memperpanjang tren negatif yang telah terlihat sejak pekan sebelumnya. Ketiga indeks utama mengalami koreksi setelah sebelumnya mencatatkan kenaikan selama tiga minggu berturut-turut.

    Meski begitu, posisi ketiga indeks masih bertahan di dekat level tertinggi sepanjang masa, menunjukkan bahwa optimisme pasar belum sepenuhnya pudar di tengah dinamika global yang terus berubah.

    Data Inflasi dan Ketegangan Politik Jadi Sorotan Investor Pekan Ini

    Memasuki pekan baru, perhatian pelaku pasar keuangan akan tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) yang sangat dinantikan. Data inflasi ini diperkirakan akan memberikan sinyal penting mengenai seberapa besar dampak kebijakan tarif terhadap harga-harga barang dan jasa di berbagai sektor ekonomi Amerika Serikat.

    Selain itu, investor juga mulai berspekulasi mengenai langkah kebijakan moneter berikutnya dari Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga dalam waktu kurang dari dua minggu. Pasar tengah mencermati apakah tekanan inflasi yang meningkat akan mendorong The Fed untuk menahan, menurunkan, atau bahkan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

    Situasi kian rumit dengan munculnya ketidakpastian politik yang membayangi arah kebijakan ekonomi. Ketegangan antara Gedung Putih dan The Fed kembali mencuat, menyusul pernyataan Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional, dalam wawancaranya dengan ABC News pada Minggu. Hassett menyatakan bahwa Presiden Donald Trump memiliki wewenang untuk mencopot Ketua The Fed, Jerome Powell, jika terdapat alasan yang mendasari.

    Pernyataan tersebut memperbesar kekhawatiran pasar atas independensi The Fed, serta memperparah suasana ketidakpastian di tengah kondisi ekonomi global yang masih rentan terhadap guncangan kebijakan.

    Musim Laporan Keuangan Dimulai, Investor Pantau Kinerja Bank dan Raksasa Teknologi

    Musim laporan keuangan kuartal kedua resmi dimulai pekan ini, menjadi fokus utama bagi investor yang ingin mengukur kesehatan sektor korporasi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Deretan bank-bank besar Amerika Serikat dijadwalkan mengumumkan kinerja mereka, menandai awal periode penting dalam pasar modal.

    Salah satu yang paling disorot adalah Wells Fargo (WFC). Laporan keuangan bank besar ini menarik perhatian karena menjadi yang pertama sejak berhasil keluar dari pengawasan regulasi ketat yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.

    Tak hanya sektor perbankan, investor juga menantikan laporan dari sektor teknologi. Netflix (NFLX) dijadwalkan menjadi perusahaan teknologi besar pertama yang merilis hasil kinerja kuartalannya. Laporan ini akan menjadi barometer awal bagi kinerja raksasa teknologi lainnya yang akan menyusul dalam beberapa minggu ke depan.

    Sementara itu, perusahaan semikonduktor seperti ASML (ASML) dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) juga menjadi sorotan. Kedua perusahaan ini diperkirakan akan memberikan wawasan penting terkait perkembangan industri chip, khususnya yang terkait dengan teknologi kecerdasan buatan (AI), yang saat ini menjadi motor pertumbuhan utama sektor teknologi global.

    Beberapa perusahaan besar lainnya yang juga dijadwalkan merilis laporan keuangan dalam waktu dekat antara lain PepsiCo (PEP), United Airlines (UAL), dan American Express (AXP). Kinerja mereka akan memberikan gambaran lintas sektor — dari konsumsi, transportasi, hingga layanan keuangan — yang sangat dinantikan pasar sebagai penentu arah indeks saham utama dalam beberapa pekan ke depan.

  • Pasar Saham AS Tertekan Jelang Musim Laporan Keuangan, Ketegangan Dagang Jadi Sorotan

    Pasar Saham AS Tertekan Jelang Musim Laporan Keuangan, Ketegangan Dagang Jadi Sorotan

    Serratalhadafc.com – Pasar saham Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan pada perdagangan Minggu malam waktu setempat, dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap ketegangan dagang yang kembali memanas serta menjelang dimulainya musim laporan keuangan kuartal kedua.

    Dilansir dari Anugerahslot Finance pada Selasa (15/7/2025), kontrak berjangka untuk ketiga indeks utama Wall Street kompak menunjukkan pelemahan. Indeks S&P 500 futures (ES=F) tercatat turun 0,4%, seiring dengan Nasdaq 100 futures (NQ=F) yang juga melemah 0,4%. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average futures (YM=F) mengalami penurunan serupa, sekitar 0,4%.

    Tekanan ini menyusul pernyataan mengejutkan dari mantan Presiden Donald Trump pada Sabtu lalu. Ia mengumumkan bahwa AS akan mulai memberlakukan tarif baru sebesar 30% terhadap barang-barang impor dari Uni Eropa dan Meksiko mulai 1 Agustus mendatang. Kebijakan ini memicu kekhawatiran baru terkait hubungan dagang global, serta potensi lonjakan inflasi di tengah proses pemulihan ekonomi dunia.

    Sebagai respons, pihak Uni Eropa dan Meksiko menyatakan kesiapan mereka untuk melanjutkan dialog dengan AS guna meredakan ketegangan dan membahas kebijakan tarif lebih lanjut.

    Tekanan pasar ini memperpanjang tren koreksi dari pekan sebelumnya, setelah tiga minggu berturut-turut mengalami kenaikan. Meski begitu, posisi ketiga indeks utama masih bertahan di dekat level tertinggi sepanjang masa, mencerminkan optimisme yang masih ada di kalangan investor, meski dibayangi sentimen negatif jangka pendek.

    Pasar Waspada, Investor Menanti Data Inflasi dan Sikap The Fed

    Pekan ini, perhatian para investor akan tertuju pada rilis data inflasi konsumen (IHK) yang sangat dinantikan. Data ini diharapkan menjadi indikator penting dalam membaca dampak lanjutan dari kebijakan tarif terhadap kenaikan harga di berbagai sektor ekonomi Amerika Serikat.

    Selain itu, pelaku pasar juga menanti arah kebijakan moneter Federal Reserve, yang dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga dalam waktu kurang dari dua minggu. Spekulasi pun bermunculan mengenai apakah The Fed akan tetap bersikap hati-hati atau mengambil langkah lebih agresif dalam mengendalikan inflasi.

    Di tengah ketidakpastian tersebut, tensi antara Gedung Putih dan The Fed kembali meningkat. Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional, dalam wawancara dengan ABC News pada Minggu (waktu setempat), menyatakan bahwa Presiden Trump dapat mencopot Ketua The Fed, Jerome Powell, jika ada alasan yang cukup.

    Pernyataan ini turut menambah tekanan psikologis pasar, yang sudah bergulat dengan kekhawatiran tentang hubungan dagang internasional dan arah kebijakan ekonomi dalam negeri. Para analis menilai, kombinasi antara ketegangan politik dan risiko inflasi dapat meningkatkan volatilitas pasar dalam beberapa waktu ke depan.

    Musim Laporan Keuangan Dimulai, Investor Pantau Bank dan Raksasa Teknologi

    Musim laporan keuangan kuartal kedua resmi dimulai pekan ini, dengan perhatian pasar tertuju pada deretan perusahaan besar yang dijadwalkan mengungkap kinerja terbarunya. Sektor keuangan menjadi sorotan awal, di mana sejumlah bank besar Amerika Serikat akan membuka rangkaian laporan tersebut.

    Wells Fargo (WFC) menjadi salah satu yang paling dinantikan, terutama setelah berhasil keluar dari pengawasan regulasi ketat selama lebih dari satu dekade. Kinerja bank ini dinilai bisa mencerminkan kekuatan sektor perbankan di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan.

    Sementara itu, Netflix (NFLX) akan memimpin laporan dari sektor teknologi. Kinerja perusahaan streaming ini disebut-sebut sebagai tolok ukur awal bagi raksasa teknologi lainnya yang akan menyusul.

    Dari industri semikonduktor, laporan dari ASML dan Taiwan Semiconductor Manufacturing (TSMC) sangat ditunggu karena dinilai mampu memberikan gambaran penting terkait tren dan permintaan terhadap chip berbasis kecerdasan buatan (AI) yang tengah meningkat pesat.

    Selain itu, sejumlah nama besar seperti PepsiCo (PEP), United Airlines (UAL), dan American Express (AXP) juga dijadwalkan menyampaikan hasil kinerjanya dalam waktu dekat. Investor akan memantau perkembangan ini secara ketat, termasuk potensi pergerakan di sektor IPO serta aksi korporasi seperti merger dan akuisisi.

  • Pasar Saham Eropa Melemah, Kekhawatiran Tarif Baru dari AS Jadi Pemicu

    Pasar Saham Eropa Melemah, Kekhawatiran Tarif Baru dari AS Jadi Pemicu

    Serratalhadafc.com – Pasar saham Eropa ditutup melemah menjelang akhir pekan, dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran atas kemungkinan kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat (AS) terhadap Uni Eropa. Hingga kini, pelaku pasar masih menantikan kepastian dari Gedung Putih terkait surat resmi yang dijadwalkan akan dirilis pada hari Jumat.

    Dilansir dari Anugerahslot CNBC, Sabtu (12/7/2025), indeks Stoxx Europe 600 mengalami penurunan sebesar 1,1%. Indeks-indeks utama lainnya juga mencatat pelemahan serupa: DAX Jerman dan CAC 40 Prancis masing-masing turun sekitar 0,9%, sementara FTSE 100 Inggris ikut terkoreksi sebesar 0,4%.

    Situasi ini terjadi di tengah sinyal kebijakan ekonomi yang bertolak belakang dari Amerika Serikat. Risalah pertemuan Federal Reserve (The Fed) bulan Juni menunjukkan bahwa mayoritas anggota dewan membuka kemungkinan untuk menurunkan suku bunga pada tahun ini—yang sempat menumbuhkan harapan pasar akan pelonggaran moneter.

    Namun demikian, CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, memberikan pandangan berbeda. Dalam pernyataannya saat menghadiri acara di Departemen Luar Negeri Irlandia pada Kamis lalu, Dimon memperingatkan bahwa risiko kenaikan suku bunga justru lebih tinggi dari yang diperkirakan oleh banyak investor.

    “Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 20%, tapi menurut saya angkanya lebih dekat ke 40-50%. Ini alasan yang cukup kuat untuk waspada,” ungkap Dimon.

    Ia juga menambahkan bahwa inflasi berpotensi kembali menjadi ancaman serius bagi perekonomian AS jika tidak ditangani dengan hati-hati.

    Sentimen Pasar Global Tertekan, Tarif Baru AS Picu Kekhawatiran Investor

    Sentimen pasar global kembali goyah setelah muncul kabar bahwa Amerika Serikat (AS) akan memberlakukan tarif impor sebesar 35% terhadap Kanada. Kebijakan ini menambah daftar panjang langkah proteksionis AS, menyusul tarif 25% terhadap Jepang, serta 50% untuk Brasil dan seluruh impor tembaga—angka yang jauh melebihi perkiraan para pelaku pasar.

    Dampaknya langsung terasa di pasar keuangan. Pada perdagangan siang di London, indeks Stoxx 600 mencatat penurunan hampir 1%. Sementara itu, kontrak berjangka untuk indeks Dow Jones Industrial Average di AS juga terkoreksi sebesar 0,7%, menandakan perubahan tajam dalam sentimen setelah euforia sebelumnya.

    Padahal, hanya sehari sebelumnya, bursa saham di Inggris dan Wall Street sempat mencatatkan rekor tertinggi, didorong oleh optimisme investor terhadap prospek ekonomi global dan kemungkinan pelonggaran suku bunga oleh The Fed.

    Namun, minimnya kemajuan dalam perundingan perdagangan antara Uni Eropa dan AS turut memperburuk suasana. Ketidakpastian yang terus berlanjut membuat investor mulai menahan diri menjelang musim panas yang penuh spekulasi.

    “Entah ini hanya jeda sejenak atau peringatan bagi investor soal risiko yang membayangi, yang pasti ketidakpastian belum akan berakhir,” tulis Dan Coatsworth, analis investasi dari AJ Bell, dalam catatannya.

    Kondisi ini menjadi sinyal bahwa pasar global masih sangat sensitif terhadap perkembangan kebijakan dagang, terutama dari AS, yang terus mengedepankan pendekatan proteksionis dalam menghadapi mitra dagangnya.

    Tekanan Global

    Ia menambahkan bahwa fokus pasar kini mulai bergeser menuju musim laporan keuangan kuartalan, yang akan diawali oleh sejumlah bank besar di Amerika Serikat.

    Kinerja perusahaan-perusahaan tersebut dianggap sebagai indikator penting untuk menilai sejauh mana dunia usaha mampu bertahan dan beradaptasi menghadapi tekanan global yang semakin rumit.

  • Bursa Asia Menguat Meski Trump Umumkan Tarif Baru untuk Sejumlah Negara

    Bursa Asia Menguat Meski Trump Umumkan Tarif Baru untuk Sejumlah Negara

    Serratalhadafc.com – Sebagian besar bursa saham di kawasan Asia dan Pasifik mengalami kenaikan pada perdagangan Selasa (8/7/2025), meskipun pasar global dikejutkan oleh pengumuman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait pemberlakuan tarif impor baru terhadap sejumlah negara mitra dagang utama, termasuk di Asia.

    Melalui surat yang diunggah di akun Anugerahslot Truth Social-nya, Trump menyampaikan bahwa mulai 1 Agustus 2025, barang-barang yang diimpor ke AS dari Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Kazakhstan, dan Tunisia akan dikenakan tarif sebesar 25%.

    Tidak hanya itu, tarif impor lebih tinggi juga akan diberlakukan untuk beberapa negara Asia lainnya:

    • Indonesia: 32%
    • Bangladesh: 35%
    • Kamboja dan Thailand: 36%
    • Laos dan Myanmar: 40%

    Kebijakan ini berpotensi memicu ketegangan dagang baru, namun sejauh ini pasar tampaknya masih merespons dengan tenang.

    Kinerja Bursa Asia

    Hong Kong: Kontrak berjangka indeks Hang Seng diperdagangkan pada level 23.886, sedikit lebih rendah dibandingkan penutupan terakhir di angka 23.887,83, mengindikasikan pembukaan yang cenderung melemah.

    Jepang: Indeks acuan Nikkei 225 naik 0,36% di awal perdagangan, sementara indeks Topix yang mencerminkan performa lebih luas naik 0,31%.

    Korea Selatan: Indeks Kospi mencatat kenaikan 0,44%, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil, Kosdaq, turut menguat 0,19%.

    Australia: Berbeda dengan bursa Asia lainnya, indeks acuan S&P/ASX 200 justru mengalami penurunan 0,44%. Pasar di Australia tengah menantikan keputusan dari Reserve Bank of Australia (RBA), yang diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,6% dalam pertemuan kebijakan yang berakhir besok.

    Meskipun tekanan tarif dari AS menimbulkan kekhawatiran, pelaku pasar tampaknya tetap optimistis terhadap prospek ekonomi regional, setidaknya dalam jangka pendek. Namun, investor akan terus memantau perkembangan kebijakan dagang lebih lanjut serta respons dari negara-negara yang terdampak.

    Wall Street Tertekan Setelah Pengumuman Kenaikan Tarif Impor oleh Presiden Trump

    Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street mengalami tekanan signifikan pada penutupan perdagangan Senin (7/7/2025). Penurunan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump membocorkan sejumlah surat resmi yang berisi pengumuman kenaikan tarif impor terhadap beberapa negara mitra dagang utama.

    Mengutip CNBC pada Selasa (8/7/2025), indeks saham acuan Dow Jones Industrial Average turun sebanyak 422,17 poin atau 0,94%, dan ditutup di level 44.406,36. Sementara itu, indeks S&P 500 turun sebesar 0,79%, berakhir di angka 6.229,98, dan indeks teknologi Nasdaq Composite anjlok 0,92%, ditutup pada 20.412,52.

    Penutupan ketiga indeks utama ini menjadi yang terburuk sejak pertengahan Juni 2025, mencerminkan kekhawatiran investor atas dampak kebijakan tarif yang diumumkan.

    Tarif Baru Mulai Berlaku 1 Agustus

    Presiden Trump mengumumkan melalui serangkaian posting di platform Truth Social pada Senin bahwa barang impor dari setidaknya tujuh negara akan dikenakan tarif yang lebih tinggi mulai tanggal 1 Agustus 2025.

    Dalam unggahan tersebut, Trump membagikan tangkapan layar surat resmi yang ditandatanganinya, ditujukan kepada para pemimpin Korea Selatan, Jepang, Malaysia, Kazakhstan, Afrika Selatan, Laos, dan Myanmar. Surat-surat ini secara resmi menetapkan tarif impor baru untuk setiap negara tersebut, menandai eskalasi kebijakan proteksionis AS yang berdampak langsung pada hubungan perdagangan global.

    Kebijakan tarif ini menimbulkan ketidakpastian di pasar global, mendorong investor untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Para analis memperingatkan bahwa langkah ini bisa memperpanjang ketegangan dagang dan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global dalam beberapa bulan ke depan.

    Saham Otomotif dan Teknologi Tertekan Usai Pengumuman Tarif Trump, Kekhawatiran Perdagangan Meningkat

    Saham-saham perusahaan besar terdampak langsung dari pengumuman tarif impor Presiden Donald Trump. Saham Toyota Motor turun tajam sebesar 4%, sementara Honda Motor anjlok 3,9%. Di sektor teknologi, saham Nvidia sedikit menurun, sedangkan saham Apple dan Alphabet turun lebih dari 1%. Selain itu, saham AMD juga merosot lebih dari 2%.

    Pengumuman ini menjadi yang pertama dari beberapa pengumuman kebijakan perdagangan yang akan diluncurkan oleh Trump dalam beberapa hari mendatang.

    Menteri Keuangan, Scott Bessent, menyatakan dalam program Squawk Box CNBC pada Senin bahwa selama 48 jam ke depan, akan ada beberapa pengumuman terkait kebijakan perdagangan. Ia menambahkan, “Ini akan menjadi beberapa hari yang sibuk.”

    Selain itu, ketegangan perdagangan semakin meningkat setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10% terhadap negara-negara yang mendukung apa yang disebutnya sebagai “kebijakan Anti-Amerika BRICS.” Kelompok BRICS ini terdiri dari negara-negara pasar berkembang seperti Brasil, Rusia, India, dan Cina.

    Kebijakan ini memicu kekhawatiran investor mengenai eskalasi perang dagang yang dapat berdampak pada stabilitas pasar global dalam waktu dekat.

  • Wall Street Ditutup Menguat, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru

    Wall Street Ditutup Menguat, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru

    Serratalhadafc.comBursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Jumat (28/6/2025), dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite mencetak rekor tertinggi baru, meskipun di tengah ketidakpastian komentar Presiden AS Donald Trump mengenai tarif terhadap Kanada.

    Indeks S&P 500 naik 0,52% dan ditutup pada posisi tertinggi sepanjang masa di 6.173,07. Bahkan, pada sesi sebelumnya, indeks ini sempat menyentuh level 6.187,68, melampaui rekor sebelumnya di 6.147,43.

    Sementara itu, Nasdaq Composite juga mencatatkan rekor baru, naik 0,52% menjadi 20.273,46. Sedangkan Dow Jones Industrial Average (DJIA) melonjak 432,43 poin atau 1%, dan ditutup di level 43.819,27.

    Kenaikan tajam ini menjadi titik balik dari kondisi pasar saham yang sempat melemah tajam pada April lalu, di tengah puncak ketegangan perdagangan global yang dipicu oleh kebijakan proteksionis pemerintahan Trump.

    Namun, sepanjang sesi perdagangan, pasar sempat terkoreksi dari level tertingginya setelah Presiden Trump mengumumkan lewat platform Truth Social bahwa pembicaraan dagang antara AS dan Kanada kembali dihentikan.

    Meskipun begitu, optimisme investor tetap terjaga. Dorongan utama datang dari pernyataan Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, yang mengungkapkan kepada Anugerahslot News pada Kamis malam bahwa kerangka kerja sama dagang antara AS dan Tiongkok telah disepakati. Ia juga menambahkan bahwa pemerintahan Trump optimistis akan mencapai kesepakatan serupa dengan sepuluh mitra dagang utama lainnya dalam waktu dekat.

    Kabar tersebut memicu aksi beli oleh para investor dan mendorong pasar menuju level tertinggi, mencerminkan kepercayaan bahwa ketegangan perdagangan global dapat diredakan dalam waktu dekat.

    Wall Street Bangkit di Tengah Ketidakpastian Perdagangan dan Geopolitik

    Pergerakan tajam pasar saham AS pada Jumat menandai babak terbaru dalam upaya Wall Street menavigasi dinamika perdagangan global yang terus berubah. Kenaikan indeks utama ini terjadi di tengah optimisme yang hati-hati terhadap arah kebijakan ekonomi dan perdagangan pemerintah AS.

    Pada awal tahun, S&P 500 sempat mencetak rekor baru pada Februari, didorong oleh harapan akan kebijakan yang pro-bisnis dari pemerintahan Trump. Namun, ekspektasi tersebut terguncang ketika Presiden Trump secara tiba-tiba menerapkan tarif impor yang lebih tinggi, memicu ketegangan dagang yang luas.

    Akibatnya, indeks S&P 500 mengalami penurunan signifikan dan merosot hampir 18% hingga mencapai titik terendahnya pada 8 April 2025. Namun, pemulihan dramatis mulai terjadi tak lama setelah Trump mencabut tarif tertingginya dan membuka kembali ruang dialog dengan mitra dagang utama AS.

    Sejak titik nadir tersebut, S&P 500 telah melonjak lebih dari 20%, menandakan reli yang kuat di tengah lanskap ekonomi yang masih penuh tantangan. Secara keseluruhan, indeks acuan ini kini mencatatkan kenaikan hampir 5% sepanjang tahun 2025.

    Meskipun pasar telah menunjukkan ketahanan, perjalanan pemulihan ini bukan tanpa hambatan. Investor tetap aktif melakukan aksi beli meskipun dibayangi oleh sejumlah risiko global, termasuk lonjakan harga minyak akibat konflik Israel-Iran, serta kenaikan imbal hasil obligasi AS yang dipicu kekhawatiran terhadap membengkaknya defisit fiskal.

    Kombinasi antara kebijakan perdagangan, ketegangan geopolitik, dan faktor makroekonomi domestik menjadikan tahun ini sebagai periode yang dinamis bagi pasar keuangan. Namun, sejauh ini, Wall Street tampaknya berhasil mempertahankan momentumnya, dengan optimisme bahwa stabilitas dan pertumbuhan jangka menengah masih berada dalam jangkauan.

    Saham AI Dorong Pemulihan, Tapi Pasar Masih Waspada

    Pemulihan pasar saham baru-baru ini turut didorong oleh reli di sektor kecerdasan buatan (AI), terutama oleh saham-saham unggulan seperti Nvidia dan Microsoft yang memimpin rebound. Antusiasme investor terhadap prospek teknologi AI memberikan dorongan signifikan bagi sentimen pasar secara keseluruhan.

    Namun demikian, para analis mengingatkan bahwa pemulihan ini tetap dibayangi risiko ketidakpastian, khususnya terkait arah kebijakan perdagangan AS.

    “Saya melihat ada risiko di sini—jika kemajuan perdagangan hanya sebatas retorika dari Gedung Putih dan tidak menghasilkan kesepakatan nyata, maka pasar bisa dengan cepat berbalik arah,” ujar Thierry Wizman, analis valas dan suku bunga global dari Macquarie Group.

    Wizman menegaskan bahwa pada akhirnya, fundamental ekonomi AS dan kinerja pendapatan perusahaanlah yang akan menjadi penentu arah pasar ke depan.

  • IHSG Dibuka Melemah, Analis Prediksi Rebound Jangka Pendek Masih Dimungkinkan

    IHSG Dibuka Melemah, Analis Prediksi Rebound Jangka Pendek Masih Dimungkinkan

    Serratalhadafc.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah pada perdagangan Jumat pagi, 20 Juni 2025. IHSG turun 20,36 poin atau sekitar 0,29 persen ke level 6.948,28. Di saat yang sama, indeks saham unggulan LQ45 juga terkoreksi 3,55 poin atau 0,46 persen ke posisi 771,26. Informasi ini dikutip dari Antara.

    Meski demikian, peluang penguatan IHSG dalam jangka pendek secara teknikal masih terbuka. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menjelaskan kepada Anugerahslot Finance bahwa setelah koreksi tajam yang terjadi pada Kamis (19/6), indeks berpotensi mengalami rebound teknikal menuju kisaran 7.000 hingga 7.050.

    Namun Fanny juga memberikan catatan bahwa potensi penguatan tersebut bisa dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking), mengingat IHSG masih berpeluang terkoreksi lebih dalam hingga menyentuh level 6.800 dalam beberapa waktu ke depan.

    “Level support saat ini berada di 6.900–6.950, sementara resistance jangka pendek ada di kisaran 7.000–7.050,” ujarnya.

    Sementara itu, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Tasrul Tanar, mengamati bahwa tekanan jual memang meningkat, namun tren jangka pendek IHSG masih terjaga dalam arah positif. Berdasarkan analisis tren, IHSG masih menunjukkan kenaikan moderat dengan slope 21,26 dan r-square 0,806, menandakan konsistensi arah naik masih cukup valid meskipun tekanan jual melanda pasar.

    “Level support kritis saat ini berada di 6.959 atau hanya turun 0,14 persen dari posisi terkini. Ini menjadi batas penting untuk menguji kekuatan buyer. Adapun resistance jangka pendek berada di kisaran 7.090 hingga 7.408, yang menjadi target teknikal bila terjadi rebound,” jelas Tasrul.

    Dengan kondisi ini, investor disarankan tetap waspada namun juga mencermati peluang jangka pendek yang mungkin muncul dari pergerakan teknikal pasar.

    IHSG Masih Berpeluang Menguat, Ini Saham Pilihan Analis Hari Ini

    Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan potensi penguatan secara teknikal, meskipun tekanan jual belum sepenuhnya mereda. Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Tasrul Tanar, menilai bahwa peluang rebound akan tetap terbuka selama level support 6.959 mampu bertahan.

    “IHSG berpeluang menguat secara teknikal jika support 6.959 tidak jebol. Namun tetap harus diwaspadai kemungkinan breakdown jika tekanan jual berlanjut. Critical level yang harus dijaga ada di 6.910,” ujar Tasrul dalam keterangannya.

    Untuk perdagangan hari ini, sejumlah saham menjadi rekomendasi utama dari para analis.

    Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, merekomendasikan enam saham potensial yang patut dicermati:

    • PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)
    • PT Sentul City Tbk (BKSL)
    • PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO)
    • PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
    • PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI)
    • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)

    Sementara itu, Tasrul Tanar dari Mirae Asset memberikan tiga rekomendasi saham dari sektor energi dan bahan baku, yaitu:

    • PT Barito Pacific Tbk (BRPT)
    • PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
    • PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA)

    Saham-saham tersebut diperkirakan memiliki daya tahan terhadap volatilitas pasar dan berpotensi mencatatkan kinerja yang baik dalam jangka pendek hingga menengah, seiring dengan dinamika harga komoditas dan kondisi teknikal pasar.

    Rekomendasi Saham Hari Ini dari BNI Sekuritas: Ini Level Beli dan Target Harganya

    BNI Sekuritas merilis rekomendasi teknikal harian untuk Jumat, 20 Juni 2025. Sejumlah saham potensial dipilih untuk trading jangka pendek dengan strategi speculative buy maupun buy on breakout. Berikut ulasan lengkapnya:

    🔹 Trading Ideas Hari Ini:

    1. BRMS – PT Bumi Resources Minerals Tbk
      • Strategi: Spec Buy
      • Area Beli: 420–422
      • Cutloss: < 418
      • Target Harga: 430–438
    2. BKSL – PT Sentul City Tbk
      • Strategi: Spec Buy
      • Area Beli: 131–134
      • Cutloss: < 129
      • Target Harga: 137–139
    3. PGEO – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk
      • Strategi: Spec Buy
      • Area Beli: 1.460–1.470
      • Cutloss: < 1.435
      • Target Harga: 1.500–1.515
    4. MEDC – PT Medco Energi Internasional Tbk
      • Strategi: Buy If Break
      • Level Breakout: 1.460
      • Target Harga: 1.490–1.515
      • Catatan: Hindari jika belum tembus 1.460
    5. PANI – PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk
      • Strategi: Spec Buy
      • Area Beli: 11.600–11.750
      • Cutloss: < 11.500
      • Target Harga: 12.025–12.325
    6. AMMN – PT Amman Mineral Internasional Tbk
      • Strategi: Spec Buy
      • Area Beli: 7.825–7.900
      • Cutloss: < 7.800
      • Target Harga: 8.000–8.100

    ⚠️ Disclaimer: Rekomendasi ini bersifat teknikal dan untuk keperluan edukasi. Seluruh keputusan jual beli saham sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Lakukan analisis lanjutan sebelum mengambil keputusan investasi.

  • Pasar Keuangan Global Tertekan Sentimen Negatif Usai Pernyataan Donald Trump dan Rilis Data Inflasi AS

    Pasar Keuangan Global Tertekan Sentimen Negatif Usai Pernyataan Donald Trump dan Rilis Data Inflasi AS

    Serratalhadafc.com – Pasar keuangan global kembali diliputi sentimen negatif setelah pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengenai rencananya untuk menaikkan tarif dagang. Pernyataan ini muncul tak lama setelah data inflasi AS untuk Mei 2025 diumumkan, yang mencatat kenaikan sebesar 0,1%.

    Bursa saham AS mengalami pelemahan tipis pada perdagangan Rabu (12/6/2025). Indeks S&P 500 melemah 0,3%, Nasdaq turun 0,5%, sementara Dow Jones nyaris tidak berubah.

    Laporan inflasi menunjukkan bahwa kenaikan harga konsumen berada di bawah ekspektasi sejumlah ekonom. Kenaikan inflasi pada bulan tersebut terutama dipicu oleh meningkatnya biaya sewa. Di sisi lain, harga bensin mengalami penurunan, dan harga pangan tercatat naik sebesar 0,3%. Secara tahunan, inflasi berada di level 2,4%, sementara inflasi inti—yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi—mencapai 2,8%.

    Meskipun tekanan inflasi saat ini tergolong moderat, para analis memperkirakan adanya potensi lonjakan inflasi di masa depan sebagai dampak dari kebijakan tarif baru yang direncanakan.

    Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menjelaskan bahwa dampak dari tarif baru belum sepenuhnya terasa karena banyak peritel masih menjual produk dari stok lama.

    “Pemerintah AS terlihat berupaya menekan perusahaan besar untuk tidak langsung menaikkan harga. Namun, para ekonom memprediksi bahwa efek dari kebijakan tarif akan muncul secara bertahap dan berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi ke depannya,” kata Fahmi dalam pernyataan resmi yang dikutip dari Anugerahslot pada Jumat (13/6/2025).

    Wacana Kenaikan Tarif Dagang oleh Trump Picu Kehati-hatian Investor, Meski Inflasi Mulai Terkendali

    Saat investor mulai melihat sinyal positif dari data inflasi Amerika Serikat, pernyataan terbaru dari mantan Presiden AS, Donald Trump, kembali menghadirkan ketidakpastian. Trump menyuarakan rencana untuk menerapkan tarif dagang secara sepihak terhadap sejumlah mitra dagang AS dalam waktu 1–2 minggu ke depan, menjelang tenggat 9 Juli 2025.

    “Pernyataan ini berpotensi menambah tekanan terhadap pasar, apalagi jika wacana tersebut berkembang menjadi kebijakan konkret,” ujar analis Reku, Fahmi Almuttaqin. Ia menambahkan, saat ini banyak media melaporkan bahwa Trump berniat mengirimkan surat kepada negara-negara mitra dagang yang berisi rincian tarif baru dengan pendekatan ‘take it or leave it’.

    Kendati demikian, masih belum ada kepastian apakah Trump benar-benar akan merealisasikan rencana tersebut tepat waktu. Sebelumnya, ia beberapa kali menetapkan tenggat kebijakan yang akhirnya ditunda atau dibatalkan.

    Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar semakin berhati-hati, meskipun tren inflasi saat ini menunjukkan perbaikan. Investor tetap fokus pada risiko inflasi ke depan, terutama jika kebijakan tarif baru terealisasi dan mendorong kenaikan harga barang impor.

    Aset kripto pun belum menunjukkan lonjakan harga yang signifikan, karena investor menanti kejelasan lebih lanjut dan mempertimbangkan kemungkinan langkah yang akan diambil oleh The Federal Reserve dalam pertemuan FOMC pekan depan.

    Inflasi Mereda, Namun Ketidakpastian Tarif dan Suku Bunga Bayangi Pasar

    Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menyampaikan bahwa perbaikan data inflasi berhasil meredam sentimen negatif yang lebih dalam di pasar keuangan. Namun, ketidakpastian tetap menjadi faktor dominan, terutama jika rencana penerapan tarif dagang benar-benar dijalankan dan negosiasi antara Amerika Serikat dan China tidak menghasilkan kemajuan hingga Agustus.

    Saat ini, pasar memperkirakan bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan minggu depan. Proyeksi pemangkasan suku bunga baru diperkirakan terjadi pada September, dengan syarat inflasi tetap terkendali. Meski demikian, tekanan politik dari Donald Trump agar The Fed segera memangkas suku bunga juga menjadi sorotan, terutama karena kebijakan tarif yang tertunda berpotensi kembali memicu kenaikan inflasi.

    Dalam kondisi pasar yang penuh fluktuasi ini, Fahmi menekankan pentingnya strategi investasi yang bijak. Salah satu pendekatan yang disarankan adalah Dollar Cost Averaging (DCA), yakni strategi investasi dengan membeli aset secara bertahap dalam jangka waktu tertentu. Strategi ini dinilai efektif untuk mengurangi risiko akibat volatilitas harga dan membantu investor tetap konsisten dalam menghadapi ketidakpastian pasar.

  • Prospek Perdagangan Saham 2–5 Juni 2025

    Prospek Perdagangan Saham 2–5 Juni 2025

    Serratalhadafc.com – Perdagangan saham Indonesia pekan ini akan berlangsung hanya selama empat hari (karena adanya hari libur nasional). Meski singkat, sejumlah sentimen penting global dan domestik diperkirakan akan mempengaruhi dinamika pasar, baik secara langsung maupun tidak langsung.

    Sentimen Global

    1. Tarif Impor AS dan Kebijakan Trump
      • Mahkamah Perdagangan Internasional AS memblokir kebijakan tarif impor Donald Trump yang dinilai melampaui wewenang.
      • Namun, pemerintahan Trump merespons dengan kemungkinan tarif impor sementara sebesar 15% selama 150 hari untuk sebagian besar mitra dagang global.
      • Ada pula rencana menaikkan tarif baja dan aluminium hingga 50%, yang dapat memicu ketegangan dagang global dan berdampak pada pasar komoditas serta sentimen investasi.
    2. Gejolak Politik AS
      • Elon Musk mundur dari posisi penasihat senior Gedung Putih.
      • Rumor pengunduran diri Ray Dalio sebagai penasihat Danantara (belum dikonfirmasi), turut menambah ketidakpastian pasar.
    3. Data Ekonomi AS
      • S&P Global Manufacturing PMI (Mei) diprediksi naik ke 52,3 (vs. 50,2 sebelumnya), mengindikasikan ekspansi sektor manufaktur.
      • JOLTs Job Openings diperkirakan turun ke 7,05 juta (vs. 7,192 juta).
      • Initial Jobless Claims minggu ke-3 Mei diperkirakan sedikit turun ke 235.000.
      • Non-Farm Payrolls (NFP) Mei diperkirakan menurun ke 130.000 (vs. 177.000 sebelumnya), menunjukkan potensi pelonggaran pasar tenaga kerja.

    Dampak ke pasar: Kenaikan PMI dan penurunan NFP bisa memicu spekulasi pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut oleh The Fed, atau setidaknya mendorong pendekatan yang lebih hati-hati.

    Sentimen Domestik

    1. S&P Global Manufacturing PMI Indonesia
      • Diprediksi naik ke 48,3 (vs. 46,7), namun masih berada di zona kontraksi (<50), mencerminkan perbaikan yang belum sepenuhnya pulih.
    2. Neraca Dagang April
      • Tetap surplus, namun menurun menjadi sekitar USD 2,75 miliar (vs. USD 4,33 miliar), menandakan pelemahan ekspor atau kenaikan impor.
    3. Disinflasi
      • Inflasi tahunan diperkirakan turun ke 1,9% dari 1,95%, mencerminkan tekanan harga yang rendah. Ini memberi ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif.

    Rekomendasi Strategi Investor

    Menurut Indri Liftiany Travelin Yunus dari Anugerahslot Indo Premier Sekuritas:

    • Investor sebaiknya mewaspadai volatilitas global yang dipicu oleh kebijakan perdagangan AS dan ketegangan geopolitik.
    • Sektor yang berorientasi domestik, seperti konsumsi, telekomunikasi, dan infrastruktur, bisa menjadi pilihan defensif di tengah ketidakpastian eksternal.
    • Perhatikan saham berbasis komoditas seperti batu bara dan logam, karena bisa terdampak langsung oleh kebijakan tarif dan permintaan global.
    • Arah inflasi dan data PMI domestik akan menjadi indikator penting untuk menilai kekuatan daya beli dan aktivitas industri dalam negeri.

    📈 Rekomendasi Saham IPOT Pekan Ini

    Berikut adalah analisis teknikal dan strategi risiko dari rekomendasi saham pilihan PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) untuk pekan ini (2–5 Juni 2025), seiring perkembangan pasar global dan domestik:

    1. ANTM – PT Aneka Tambang Tbk

    • Current Price: 3.110
    • Entry Price: 3.110
    • Target Price: 3.330 (⬆️ +7,07%)
    • Stop Loss: 3.030 (⬇️ −2,57%)
    • Risk to Reward Ratio: 1 : 2,8

    Analisis:

    • Trend: Masih dalam fase strong uptrend.
    • Teknikal: Bertahan di atas EMA 5, yang menunjukkan momentum beli jangka pendek.
    • Volume: Volume pembelian tinggi menunjukkan dukungan pasar.
    • Asing: Net buy asing Rp233 miliar sepanjang pekan lalu.

    Strategi: Cocok untuk swing trader jangka pendek–menengah. Rasio risiko cukup sehat dengan potensi kenaikan signifikan. Disarankan langsung buy di harga pasar (market buy).

    2. BRMS – PT Bumi Resources Minerals Tbk

    • Current Price: 360
    • Entry Price: 370
    • Target Price: 408 (⬆️ +10,27%)
    • Stop Loss: 350 (⬇️ −5,41%)
    • Risk to Reward Ratio: 1 : 1,9

    Analisis:

    • Trend: Masih berada di fase konsolidasi, membentuk base kuat.
    • Teknikal: Harga di atas EMA 5. Volume tinggi mendukung potensi breakout.
    • Stochastic: Masih di level 60 – berpotensi menuju zona overbought.

    Strategi: Buy on breakout level 370 dengan target 408. Cocok untuk trader teknikal yang mencari peluang breakout. Perhatikan volume sebagai konfirmasi.

    3. BRIS – PT Bank Syariah Indonesia Tbk

    • Current Price: 3.000
    • Entry Price: 3.040
    • Target Price: 3.350 (⬆️ +10,20%)
    • Stop Loss: 2.870 (⬇️ −5,59%)
    • Risk to Reward Ratio: 1 : 1,8

    Analisis:

    • Trend: Konsolidasi dengan potensi breakout.
    • Volume: Cukup tinggi — mendukung peluang breakout.
    • Asing: Net buy Rp232,7 miliar, indikasi minat investor institusi.

    Strategi: Tunggu konfirmasi breakout >3.040, lalu masuk posisi. Saham ini menarik secara fundamental dan teknikal.

    🔁 Ringkasan Strategi & Tips Eksekusi

    SahamStrategiPotensi GainStop LossRisk/RewardCatatan Penting
    ANTMBuy+7,07%-2,57%1:2,8Strong uptrend, dukungan asing tinggi
    BRMSBuy on Breakout+10,27%-5,41%1:1,9Konsolidasi kuat, tunggu breakout 370
    BRISBuy on Breakout+10,20%-5,59%1:1,8Potensi breakout, net buy asing signifikan

    📊 Pergerakan IHSG Pekan Lalu (27–31 Mei 2025)

    • Kinerja IHSG: Melemah -0,53%
      Dari: 7.231 ➡️ 7.175
    • Net Buy Asing (pasar reguler): Rp149,3 miliar

    🔼 Sektor Penguat

    1. Healthcare: +1,95%
      • Didukung oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi kebangkitan kasus Covid-19.
      • Saham farmasi dan rumah sakit mencatat kenaikan.

    🔽 Sektor Melemah

    • Teknologi: -1,97%
      • Tertekan oleh saham GOTO yang anjlok lebih dari -11% dalam seminggu.

    🔮 Prospek IHSG Pekan Ini (2–5 Juni 2025)

    📌 Faktor Teknis & Sentimen:

    • Perdagangan hanya 4 hari: Libur Idul Adha membuat pasar lebih singkat.
    • Support – Resistance IHSG:
      • Support: 7.140
      • Resistance: 7.320
      • Prediksi: Bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat.

    🌐 Sentimen Global:

    • Ketidakpastian tarif Trump:
      • Tarif dinyatakan ilegal oleh Mahkamah Perdagangan Internasional AS.
      • Investor menanti kepastian final apakah tarif baru (15% global + 50% baja/aluminium) akan diberlakukan.
    • Data ekonomi penting AS:
      • Non-Farm Payrolls (NFP): Prediksi turun ke 130.000 (sebelumnya 177.000).
      • Jobless Claims & JOLTs juga diperkirakan melunak.

    🇮🇩 Sentimen Domestik:

    • PMI Manufaktur Indonesia: Diperkirakan naik dari 46,7 ➡️ 48,3
    • Neraca Dagang April: Masih surplus, meski turun jadi USD 2,75 miliar
    • Inflasi: Potensi disinflasi ke 1,9% (vs 1,95%)

    🧭 Kesimpulan & Strategi Investor

    Faktor UtamaImplikasi
    Net buy asingSentimen positif meski IHSG melemah
    Ketidakpastian tarif TrumpVolatilitas tinggi, investor wait & see
    Data ekonomi ASPenentu arah The Fed, sensitif untuk sektor berbasis ekspor
    Libur Idul AdhaVolume transaksi kemungkinan menurun
    Sektor defensif (healthcare)Masih menjadi pilihan saat ketidakpastian meningkat

    Strategi:

    • Fokus pada saham sektor defensif: healthcare, konsumer non-cyclical.
    • Pantau sektor komoditas: Potensi rebound jika data global mendukung.
    • Hati-hati terhadap saham teknologi dan high beta, terutama jika volatilitas global meningkat.
    • Manfaatkan volatilitas pendek untuk strategi trading jangka pendek pada saham berfundamental kuat dengan volume tinggi.

    📆 Ringkasan Perdagangan 26–28 Mei 2025

    🧩 Sentimen Utama yang Mempengaruhi Market:

    1. 🇺🇸 Trump Tunda Tarif Uni Eropa
      • Rencana tarif 50% atas produk Uni Eropa ditunda hingga 9 Juli 2025 (90 hari).
      • Penundaan ini sementara meredakan kekhawatiran pelaku pasar global terkait eskalasi perang dagang.
      • Namun, pasar tetap cautious karena ancaman kebijakan tetap membayangi.
    2. 💬 Risalah FOMC (The Fed)
      • The Fed menegaskan akan tetap dalam mode “wait and see”.
      • Menunggu data ekonomi lanjutan untuk ambil keputusan suku bunga dan kebijakan lanjutan.
      • Sinyal dovish ini menciptakan ekspektasi suku bunga tetap (belum naik/turun), namun masih data-dependent.
    3. 📉 Sentimen Konsumen AS
      • Tidak berubah di level 52,2 — menunjukkan kepercayaan konsumen tetap stagnan.
      • Ini menambah sinyal bahwa ekonomi AS belum terlalu menggeliat, membuat pelaku pasar cenderung hati-hati.
    4. 🚫 Penghentian Visa Pelajar dan Pengunjung
      • Trump menghentikan sementara pengajuan visa F, M, dan J (pertukaran pelajar, akademik).
      • Kebijakan ini menambah kekhawatiran terhadap keterbukaan dan kerja sama internasional AS, memicu sentimen negatif minor bagi sektor pendidikan dan mobilitas global.

    ⚖️ Dampak Terhadap Perdagangan Saham

    FaktorImplikasi Bagi Market
    Penundaan tarifRedakan tekanan jangka pendek, tapi risiko tetap ada
    Sikap The FedPasar terjebak dalam ketidakpastian, wait and see
    Sentimen konsumen flatTidak memberi dorongan positif pada sektor retail
    Visa dihentikanSentimen negatif pada sektor pendidikan & internasional
    Libur long weekendVolume perdagangan menurun, pelaku pasar cautious

    💡 Kesimpulan: Strategi Investor

    Dengan waktu perdagangan hanya tiga hari dan dominasi sentimen politik serta makroekonomi yang belum pasti:

    Strategi yang Disarankan:

    • Minimalkan transaksi spekulatif, karena pasar sedang dalam fase low conviction.
    • Fokus pada saham defensif dan likuid yang memiliki sentimen netral hingga positif.
    • Manfaatkan technical rebound secara selektif.
    • Hindari sektor yang sangat sensitif terhadap kebijakan luar negeri (e.g., ekspor Uni Eropa, pendidikan internasional).
  • IHSG Melemah, Investor Asing Ramai-ramai Lepas Saham di Tengah Aksi Jual

    IHSG Melemah, Investor Asing Ramai-ramai Lepas Saham di Tengah Aksi Jual

    Serratalhadafc.com – Pada perdagangan Selasa, 20 Mei 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan di tengah meningkatnya aksi jual saham oleh investor asing. Mengutip data dari Bursa Efek Indonesia pada Rabu (21/5/2025), IHSG tercatat melemah 0,65% ke level 7.094,60, sementara Indeks LQ45 turun lebih dalam sebesar 1,12% ke posisi 802,54.

    Aktivitas transaksi di pasar modal tergolong tinggi dengan total volume perdagangan mencapai 24,94 miliar saham dan nilai transaksi harian sebesar Rp 16,14 triliun. Frekuensi transaksi pun cukup padat, tercatat 1,45 juta kali transaksi.

    Setelah sebelumnya aktif melakukan pembelian saham, pada perdagangan Selasa, investor asing mulai melakukan aksi jual besar-besaran dengan nilai mencapai Rp 406,19 miliar. Sejak awal tahun 2025, total aksi jual saham oleh investor asing sudah menembus angka Rp 48,83 triliun.

    Berikut adalah daftar 10 saham yang paling banyak dilepas investor asing pada perdagangan Selasa, 20 Mei 2025, berdasarkan data dari Stockbit:

    1. PT Astra International Tbk (ASII)
      ➤ Nilai jual: Rp 244,56 miliar
    2. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
      ➤ Nilai jual: Rp 216,40 miliar
    3. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
      ➤ Nilai jual: Rp 137,07 miliar
    4. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)
      ➤ Nilai jual: Rp 96,97 miliar
    5. PT Panin Financial Tbk (PNLF)
      ➤ Nilai jual: Rp 38,99 miliar
    6. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)
      ➤ Nilai jual: Rp 37,87 miliar
    7. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)
      ➤ Nilai jual: Rp 36,89 miliar
    8. PT Amman Mineral Indonesia Tbk (AMMN)
      ➤ Nilai jual: Rp 32,09 miliar
    9. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA)
      ➤ Nilai jual: Rp 25,84 miliar
    10. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR)
      ➤ Nilai jual: Rp 25,48 miliar

    Aksi jual ini menandakan kehati-hatian investor asing terhadap kondisi pasar saham nasional, meskipun transaksi tetap berlangsung aktif. Para pelaku pasar kini menanti sentimen baru yang dapat kembali mendorong pergerakan IHSG ke zona hijau.

    Bursa Asia Menguat, Pasar Respon Positif Pemangkasan Suku Bunga oleh PBoC

    Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment di Pilarmas Investindo Sekuritas, menyampaikan bahwa pasar saham regional Asia menguat, didorong oleh serangkaian stimulus kebijakan yang diterapkan oleh Bank Sentral China (PBoC).

    Menurut Nico, salah satu kebijakan yang mendapat perhatian besar adalah keputusan PBoC memangkas suku bunga pinjaman utama untuk pertama kalinya sejak Oktober 2024. Langkah ini dinilai sebagai upaya mendongkrak ekonomi China yang tengah lesu serta merespons dampak negatif dari kenaikan tarif oleh Amerika Serikat.

    PBoC memangkas Loan Prime Rate (LPR) tenor 1 tahun sebesar 1 basis poin menjadi 3,0%, sementara LPR tenor 5 tahun juga diturunkan dengan besaran yang sama menjadi 3,5%.

    “Pelaku pasar menilai pemangkasan suku bunga ini sebagai strategi untuk merangsang aktivitas ekonomi di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan yang berisiko menekan pertumbuhan,” ujar Nico, dikutip dari Antara.

    Sikap Pasar Terhadap Kebijakan Dalam Negeri

    Dari dalam negeri, para pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang akan ditentukan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 20–21 Mei 2025.

    Ada ekspektasi bahwa BI memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan. Secara konsensus, pelaku pasar memperkirakan penurunan sebesar 25 basis poin, dari 5,75% menjadi 5,5%.

    Penurunan suku bunga ini dinilai strategis karena dapat meningkatkan daya beli masyarakat, serta mendorong pelaku usaha untuk memperluas investasi. Dengan demikian, langkah ini diharapkan dapat memberikan dorongan bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.