Tag: real estate

  • Kinerja BSDE Semester I 2025, Laba Bersih Turun Hampir 45%

    Kinerja BSDE Semester I 2025, Laba Bersih Turun Hampir 45%

    Serratalhadafc.com – Beberapa emiten properti di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai merilis laporan keuangan untuk periode yang berakhir Juni 2025. Salah satunya adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), yang mencatatkan penurunan kinerja sepanjang semester I tahun ini.

    Pendapatan usaha BSDE tercatat sebesar Rp 6,39 triliun, turun 13,01% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 7,34 triliun.

    Kontributor utama masih berasal dari segmen penjualan properti senilai Rp 5,54 triliun, disusul oleh segmen sewa sebesar Rp 498,82 miliar, dan pengelolaan gedung senilai Rp 189,38 miliar.

    Seiring penurunan pendapatan, laba kotor juga melemah 16,54% year on year (yoy) menjadi Rp 4,05 triliun dari Rp 4,85 triliun pada semester I 2024.

    Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk anjlok lebih dalam, yakni 44,79% yoy, dari Rp 2,33 triliun pada Januari–Juni 2024 menjadi hanya Rp 1,28 triliun di periode yang sama tahun ini.

    Laba Bersih LPKR Anjlok 99% pada Semester I 2025

    PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) melaporkan kinerja keuangan yang tertekan pada semester I 2025. Hingga 30 Juni 2025, perusahaan hanya membukukan laba bersih Rp 137,9 miliar, merosot tajam 99,34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 19,88 triliun. Penurunan tersebut ikut menekan laba per saham menjadi Rp 1,95, jauh di bawah posisi tahun lalu Rp 280,61.

    Dari sisi pendapatan usaha, LPKR mencatat Rp 4,11 triliun atau turun 48,62% dari Rp 8 triliun pada semester I 2024. Setelah memperhitungkan beban pajak final yang naik menjadi Rp 86,35 miliar dari Rp 58,67 miliar, pendapatan bersih yang dikantongi perusahaan hanya Rp 4,03 triliun, menyusut dari Rp 7,94 triliun pada periode sama tahun lalu.

    Beban pokok pendapatan tercatat Rp 2,62 triliun, lebih rendah dibanding Rp 4,53 triliun tahun lalu. Namun, pelemahan pendapatan membuat laba kotor ikut turun signifikan menjadi Rp 1,4 triliun dari Rp 3,4 triliun. Beban usaha juga ikut menyusut menjadi Rp 1,08 triliun, dibanding Rp 2,09 triliun pada semester I 2024.

    Dari sisi segmen usaha, real estate development masih menjadi penopang utama dengan kontribusi Rp 3,45 triliun, disusul lifestyle sebesar Rp 659,21 miliar. Sebaliknya, segmen healthcare yang tahun lalu menyumbang 50% pendapatan, kini sudah tidak lagi memberikan kontribusi terhadap kinerja LPKR.

    Laba Bersih CTRA Tumbuh 20% pada Semester I 2025

    PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mencatat kinerja positif sepanjang paruh pertama 2025. Perusahaan berhasil membukukan laba bersih Rp 1,23 triliun yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham pengendali, naik 20,01% year on year (yoy) dibandingkan Rp 1,02 triliun pada semester I 2024.

    Peningkatan laba sejalan dengan pendapatan usaha yang tumbuh 16,76% yoy menjadi Rp 5,88 triliun dari sebelumnya Rp 5,03 triliun. Kontributor terbesar masih berasal dari lini bisnis real estat dengan nilai Rp 4,74 triliun.

    Selain itu, pendapatan dari segmen penyewaan tercatat Rp 705,46 miliar, sedangkan segmen lainnya menyumbang Rp 432,03 miliar.

    Dari sisi beban, CTRA melaporkan beban pokok penjualan dan beban langsung sebesar Rp 3,08 triliun, naik dari Rp 2,58 triliun pada periode yang sama tahun lalu, seiring dengan peningkatan aktivitas usaha.

    APLN Catat Rugi Rp 71,7 Miliar di Semester I 2025

    PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) melaporkan kinerja keuangan yang kurang menggembirakan pada paruh pertama 2025. Perseroan membukukan rugi bersih Rp 71,7 miliar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

    Berdasarkan laporan keuangan interim, penjualan dan pendapatan usaha tercatat sebesar Rp 1,68 triliun hingga Juni 2025, turun dibandingkan Rp 1,88 triliun pada semester I 2024. Penurunan ini juga berdampak pada laba kotor yang menyusut menjadi Rp 652,06 miliar dari sebelumnya Rp 729,80 miliar.

    Meski demikian, APLN menunjukkan perbaikan di sisi operasional dengan berhasil membukukan marketing sales Rp 881,5 miliar, tumbuh sekitar 10,5% yoy dibandingkan Rp 796,3 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

    PWON Catat Laba Rp 1,13 Triliun di Semester I 2025

    PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) berhasil membukukan laba bersih Rp 1,13 triliun pada paruh pertama 2025. Angka ini naik 34,26% yoy dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2025, pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan 3,45% yoy menjadi Rp 3,37 triliun.

    Kontributor terbesar masih berasal dari segmen recurring income, yakni pengelolaan pusat perbelanjaan, perkantoran, dan apartemen sewa dengan nilai Rp 2,13 triliun. Sementara itu, penjualan real estat menyumbang Rp 679,12 miliar dan bisnis perhotelan Rp 581,50 miliar. Jika dirinci, pendapatan pusat perbelanjaan mencapai Rp 1,93 triliun, penyewaan perkantoran Rp 147 miliar, dan unit hospitality Rp 618 miliar.

    Di sisi lain, beban pokok PWON naik 5,73% yoy menjadi Rp 1,50 triliun. Meski begitu, perseroan tetap mampu meningkatkan laba kotor 1,70% yoy menjadi Rp 1,88 triliun.

    Laba ASRI Naik, Meski Pendapatan Tertekan

    PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) mencatat laba periode berjalan Rp 43,86 miliar pada semester I 2025. Raihan ini tumbuh signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 23,67 miliar.

    Namun, dari sisi pendapatan, ASRI mengalami penurunan. Hingga Juni 2025, perseroan membukukan pendapatan usaha Rp 1,11 triliun, turun dari Rp 1,88 triliun pada semester I 2024.

    Sejalan dengan itu, beban pokok penjualan juga terkoreksi dari Rp 907,53 miliar menjadi Rp 504,49 miliar, sehingga margin keuntungan perseroan relatif lebih terjaga meski pendapatan melemah.

    Laba DILD Anjlok 96,57% di Semester I 2025

    PT Intiland Development Tbk (DILD) membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 12,56 miliar pada semester I 2025. Angka ini merosot tajam 96,57% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 366,85 miliar.

    Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2025, pendapatan usaha DILD tercatat Rp 1,21 triliun, turun 10,80% year on year (yoy) dari Rp 1,36 triliun pada semester I 2024.

    Kontributor utama berasal dari pendapatan pengembangan senilai Rp 772 miliar atau 63% dari total pendapatan. Dari jumlah tersebut, segmen kawasan industri menjadi motor terbesar dengan Rp 394 miliar atau sekitar 51%. Sementara itu, recurring income naik 7% yoy menjadi Rp 444 miliar, menyumbang 37% dari total pendapatan.

    Di sisi lain, beban pokok penjualan dan beban langsung berhasil ditekan 16,79% menjadi Rp 791,34 miliar dari Rp 951,12 miliar tahun lalu. Efisiensi ini membuat laba kotor DILD justru tumbuh tipis 3,03% yoy menjadi Rp 424,64 miliar.

    Prospek Sektor Properti Masih Cerah, BSDE–CTRA–SMRA Jadi Andalan

    Sektor properti diperkirakan tetap memiliki prospek cerah sepanjang 2025, didukung oleh pelonggaran suku bunga dan insentif pemerintah.

    VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi menjelaskan, kebijakan penurunan suku bunga Bank Indonesia mampu menekan biaya dana sekaligus mendorong pertumbuhan kredit properti. Selain itu, insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPNDTP) yang berlaku hingga akhir 2025 juga memberi tambahan dorongan bagi penjualan emiten properti.

    “Hal ini sudah tercermin pada capaian marketing sales paruh pertama 2025, khususnya di segmen menengah hingga atas,” ujar Audi.

    Beberapa capaian marketing sales semester I 2025 antara lain:

    • BSDE Rp 5,08 triliun (50% dari target)
    • CTRA Rp 4,2 triliun (38% dari target)
    • SMRA Rp 2,2 triliun (44% dari target)
    • LPKR Rp 2,47 triliun (40% dari target)

    Dari sisi segmen residensial, BSDE menjadi pemain dominan dengan kontribusi lebih dari 65% marketing sales. Sementara CTRA diuntungkan dengan portofolio produk di kisaran Rp 1–3 miliar, dan SMRA memiliki porsi residensial lebih dari 70%.

    “Dengan karakteristik tersebut, ketiga emiten ini berpotensi terus mendapat dukungan permintaan yang solid,” tambah Audi.

    Berdasarkan analisisnya, Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk beberapa saham properti unggulan:

    • BSDE target harga Rp 1.220
    • CTRA target harga Rp 1.240
    • SMRA target harga Rp 580