Tag: tarif as

  • Pasar Saham Eropa Melemah, Kekhawatiran Tarif Baru dari AS Jadi Pemicu

    Pasar Saham Eropa Melemah, Kekhawatiran Tarif Baru dari AS Jadi Pemicu

    Serratalhadafc.com – Pasar saham Eropa ditutup melemah menjelang akhir pekan, dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran atas kemungkinan kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat (AS) terhadap Uni Eropa. Hingga kini, pelaku pasar masih menantikan kepastian dari Gedung Putih terkait surat resmi yang dijadwalkan akan dirilis pada hari Jumat.

    Dilansir dari Anugerahslot CNBC, Sabtu (12/7/2025), indeks Stoxx Europe 600 mengalami penurunan sebesar 1,1%. Indeks-indeks utama lainnya juga mencatat pelemahan serupa: DAX Jerman dan CAC 40 Prancis masing-masing turun sekitar 0,9%, sementara FTSE 100 Inggris ikut terkoreksi sebesar 0,4%.

    Situasi ini terjadi di tengah sinyal kebijakan ekonomi yang bertolak belakang dari Amerika Serikat. Risalah pertemuan Federal Reserve (The Fed) bulan Juni menunjukkan bahwa mayoritas anggota dewan membuka kemungkinan untuk menurunkan suku bunga pada tahun ini—yang sempat menumbuhkan harapan pasar akan pelonggaran moneter.

    Namun demikian, CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, memberikan pandangan berbeda. Dalam pernyataannya saat menghadiri acara di Departemen Luar Negeri Irlandia pada Kamis lalu, Dimon memperingatkan bahwa risiko kenaikan suku bunga justru lebih tinggi dari yang diperkirakan oleh banyak investor.

    “Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 20%, tapi menurut saya angkanya lebih dekat ke 40-50%. Ini alasan yang cukup kuat untuk waspada,” ungkap Dimon.

    Ia juga menambahkan bahwa inflasi berpotensi kembali menjadi ancaman serius bagi perekonomian AS jika tidak ditangani dengan hati-hati.

    Sentimen Pasar Global Tertekan, Tarif Baru AS Picu Kekhawatiran Investor

    Sentimen pasar global kembali goyah setelah muncul kabar bahwa Amerika Serikat (AS) akan memberlakukan tarif impor sebesar 35% terhadap Kanada. Kebijakan ini menambah daftar panjang langkah proteksionis AS, menyusul tarif 25% terhadap Jepang, serta 50% untuk Brasil dan seluruh impor tembaga—angka yang jauh melebihi perkiraan para pelaku pasar.

    Dampaknya langsung terasa di pasar keuangan. Pada perdagangan siang di London, indeks Stoxx 600 mencatat penurunan hampir 1%. Sementara itu, kontrak berjangka untuk indeks Dow Jones Industrial Average di AS juga terkoreksi sebesar 0,7%, menandakan perubahan tajam dalam sentimen setelah euforia sebelumnya.

    Padahal, hanya sehari sebelumnya, bursa saham di Inggris dan Wall Street sempat mencatatkan rekor tertinggi, didorong oleh optimisme investor terhadap prospek ekonomi global dan kemungkinan pelonggaran suku bunga oleh The Fed.

    Namun, minimnya kemajuan dalam perundingan perdagangan antara Uni Eropa dan AS turut memperburuk suasana. Ketidakpastian yang terus berlanjut membuat investor mulai menahan diri menjelang musim panas yang penuh spekulasi.

    “Entah ini hanya jeda sejenak atau peringatan bagi investor soal risiko yang membayangi, yang pasti ketidakpastian belum akan berakhir,” tulis Dan Coatsworth, analis investasi dari AJ Bell, dalam catatannya.

    Kondisi ini menjadi sinyal bahwa pasar global masih sangat sensitif terhadap perkembangan kebijakan dagang, terutama dari AS, yang terus mengedepankan pendekatan proteksionis dalam menghadapi mitra dagangnya.

    Tekanan Global

    Ia menambahkan bahwa fokus pasar kini mulai bergeser menuju musim laporan keuangan kuartalan, yang akan diawali oleh sejumlah bank besar di Amerika Serikat.

    Kinerja perusahaan-perusahaan tersebut dianggap sebagai indikator penting untuk menilai sejauh mana dunia usaha mampu bertahan dan beradaptasi menghadapi tekanan global yang semakin rumit.

  • Investor Pantau Batas Waktu Tarif AS, Pasar Bersiap Hadapi Dampaknya

    Investor Pantau Batas Waktu Tarif AS, Pasar Bersiap Hadapi Dampaknya

    Serratalhadafc.com – Para investor global tengah mencermati perkembangan kebijakan tarif dari Washington, seiring berakhirnya masa penangguhan sementara atas pungutan impor. Jika batas waktu tersebut lewat pada Rabu tanpa munculnya eskalasi ketegangan dagang, hal ini berpotensi memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan.

    Dilansir dari Channel Anugerahslot Asia, Minggu (6/7/2025), para negosiator Amerika Serikat (AS) saat ini tengah berpacu dengan waktu untuk mencapai kesepakatan dagang dengan lebih dari selusin mitra utama sebelum tenggat 9 Juli. Langkah ini dilakukan guna menghindari kenaikan tarif lebih tinggi yang telah lama diisyaratkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.

    Trump dalam beberapa hari terakhir terus meningkatkan tekanan terhadap mitra dagang. Pada Rabu lalu, ia mengumumkan kesepakatan baru dengan Vietnam yang akan mengenakan tarif sekitar 20 persen lebih rendah dari sebelumnya terhadap sejumlah ekspor utama negara tersebut. Sementara itu, pembicaraan dengan India menunjukkan kemajuan, tetapi dialog dagang dengan Jepang—sekutu dekat AS sekaligus mitra dagang terbesar keenam—masih menghadapi hambatan.

    Di tengah dinamika kebijakan tersebut, pasar saham AS justru menunjukkan performa impresif. Setelah sempat terpukul akibat pengumuman tarif Trump pada awal April, indeks S&P 500 berhasil mencatatkan kenaikan sekitar 26% sejak titik terendahnya pada 8 April. Kinerja ini didorong oleh hasil keuangan perusahaan yang solid serta ketahanan ekonomi AS di tengah perubahan kebijakan yang cukup drastis.

    Namun, lonjakan ini lebih banyak digerakkan oleh investor ritel dan program pembelian kembali saham oleh korporasi, bukan oleh investor institusi. Bahkan, meskipun S&P 500 mencetak rekor baru, menurut estimasi Deutsche Bank, minat investor terhadap saham secara umum masih belum pulih sepenuhnya ke level sebelum Februari.

    Lisa Shalett, Chief Investment Officer Morgan Stanley Wealth Management, menyebut reli ini sebagai “reli yang rapuh dan sarat spekulasi”, mengingat fondasi utamanya bukan berasal dari partisipasi institusi besar atau arus modal kuat yang konsisten.

    Dengan waktu yang terus berjalan menuju tenggat tarif, pasar kini menanti apakah diplomasi dagang AS akan menghasilkan kesepakatan konkret atau justru memicu ketegangan baru yang berisiko mengguncang kembali stabilitas ekonomi global.

    Investor Tetap Waspada Meski Ketegangan Tarif Mereda, Reli Pasar Dinilai Didominasi Sektor Ritel

    Dalam sepekan terakhir, lonjakan pasar saham AS dinilai lebih banyak digerakkan oleh aktivitas investor ritel ketimbang lembaga keuangan besar. “Menurut saya, pergerakan ini sebagian besar didorong oleh sektor ritel. Sementara posisi lembaga masih cenderung netral,” ujar seorang analis pasar.

    Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar. Para analis mencatat bahwa meskipun tidak ada lonjakan besar dalam ketegangan tarif baru-baru ini, investor tetap waspada terhadap sejumlah risiko seperti perlambatan pertumbuhan ekonomi AS dan tingginya valuasi saham yang sudah melampaui rata-rata historis.

    Namun, di tengah kekhawatiran itu, ada harapan bahwa berlalunya batas waktu tarif pada Rabu mendatang tanpa adanya eskalasi berarti bisa menjadi sinyal positif bagi pasar dalam jangka pendek.

    “Saya rasa yang terjadi saat ini lebih banyak ancaman dan gertakan politik. Saya tidak melihat itu sebagai sesuatu yang membahayakan pasar secara signifikan,” ujar Irene Tunkel, Chief US Equities Strategist di BCA Research.

    Meski begitu, para investor juga tidak menaruh ekspektasi berlebihan. Mereka tidak melihat batas waktu tarif ini sebagai solusi permanen atas ketegangan dagang antara AS dan mitra-mitra globalnya.

    “Saya pribadi tidak melihat ini sebagai tenggat yang benar-benar tegas,” ucap Julian McManus, Portfolio Manager di Janus Henderson Investors.

    Ia menjelaskan bahwa penangguhan tarif selama 90 hari sebelumnya diberikan karena pasar sedang dalam kondisi tertekan, dan pemerintah membutuhkan waktu untuk menenangkan situasi sekaligus membuka ruang negosiasi baru. “Ini sebenarnya hanya waktu tambahan untuk mencoba mencari titik temu atau solusi jangka menengah,” katanya.

    Secara keseluruhan, meski situasi terlihat lebih tenang, dinamika pasar global masih sangat bergantung pada perkembangan kebijakan perdagangan AS dalam beberapa hari mendatang.

    Investor Masih Hati-Hati, Tapi Potensi Kenaikan Pasar Saham Masih Terbuka Lebar

    Strategis Deutsche Bank, Parag Thatte, mengungkapkan bahwa sikap hati-hati investor dalam menambah eksposur saham saat ini mengingatkan pada kondisi setelah koreksi pasar akibat pandemi pada Maret 2020. Kala itu, alokasi dana untuk saham kembali meningkat, namun dengan laju yang lebih lambat dibandingkan pemulihan indeks pasar utama.

    “Ini menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk peningkatan eksposur saham, yang bisa menjadi sinyal positif bagi pasar jika semua kondisi tetap stabil,” jelas Thatte.

    Sementara itu, berdasarkan analisis Reuters terhadap data LSEG, setelah melalui semester pertama yang penuh gejolak, indeks S&P 500 kini memasuki periode yang secara historis kuat. Selama 20 tahun terakhir, bulan Juli tercatat sebagai bulan terbaik untuk indeks ini, dengan rata-rata pengembalian sebesar 2,5%.

    Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada rilis data ekonomi penting, terutama laporan inflasi dan hasil kinerja kuartal kedua perusahaan. Data tersebut akan menjadi indikator utama bagi pelaku pasar untuk menilai kesehatan ekonomi AS serta kemungkinan arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.

    “Kita berada di titik kritis di mana para investor institusi harus menentukan sikap—apakah mereka akan percaya pada reli pasar ini atau justru mengambil langkah sebaliknya,” ujar Lisa Shalett, Chief Investment Officer Morgan Stanley Wealth Management.

  • Strategi Tepat Hadapi Tarif Baru AS

    Strategi Tepat Hadapi Tarif Baru AS

    Serratalhadafc.com – Perubahan tarif baru yang diterapkan oleh Amerika Serikat telah mengguncang pasar global, menciptakan ketidakpastian sekaligus membuka celah peluang strategis bagi investor.

    Menanggapi hal ini, Marc Franklin, Deputy Head of Multi-Asset Solutions untuk Asia sekaligus Senior Portfolio Manager di Manulife Investment Management, menekankan pentingnya memahami dinamika pasar yang terus berubah untuk dapat mengambil keputusan investasi secara cerdas dan fleksibel.

    Ia menilai bahwa lonjakan volatilitas pasar merupakan reaksi langsung atas kebijakan tarif tersebut, yang menjadi bagian dari upaya AS untuk merevitalisasi industrinya. Langkah ini berpotensi menggeser arah arus perdagangan dunia secara signifikan.

    “China mungkin akan terdorong untuk mengadopsi model ekonomi berbasis konsumsi domestik, dan pergeseran ini bisa menciptakan pihak-pihak yang diuntungkan maupun dirugikan,” ujar Franklin, Selasa (15/4/2025).

    Fokus Kepada Sektor Manufaktur

    Franklin menyarankan para investor untuk mulai menyesuaikan portofolio mereka dengan menitikberatkan pada sektor manufaktur dan jasa domestik di Amerika Serikat, yang berpotensi mendapat keuntungan dari strategi reindustrialisasi ini.

    Di sisi lain, sektor konsumen di China juga patut diperhatikan, terutama jika pemerintah setempat merespons kebijakan tarif tersebut dengan menggelontorkan stimulus untuk mendorong konsumsi dalam negeri.

    Saran Marc Franklin Bagi Investor Asean

    Marc Franklin menyoroti potensi tantangan yang dihadapi negara-negara ASEAN yang bergantung pada ekspor, seperti Vietnam dan Thailand, akibat tekanan terhadap model transshipment mereka. Sebaliknya, India dinilai lebih tahan terhadap guncangan eksternal karena ekonominya lebih bertumpu pada permintaan domestik.

    Ia menyarankan investor untuk mulai mempertimbangkan diversifikasi ke negara-negara dengan basis konsumsi domestik yang kuat. Hal ini dinilai dapat mengurangi risiko geopolitik dan meningkatkan ketahanan portofolio.

    Meski valuasi aset berisiko diperkirakan akan turun, Franklin menekankan bahwa koreksi tidak akan terjadi merata di semua kelas aset. “Saham teknologi dengan kapitalisasi besar di AS dan spread kredit menjadi yang pertama mengalami penyesuaian valuasi,” ujarnya.

    Karena itu, investor perlu bersikap fleksibel dan rutin memantau pergerakan spread kredit dan valuasi ekuitas untuk mengidentifikasi peluang yang muncul. Ia juga mencatat bahwa arah kebijakan yang cenderung domestik bisa memicu arus modal keluar dari pasar AS.

    Namun, Franklin menilai pelemahan valuasi justru dapat menjadi momen strategis. “Jika valuasi saham AS turun ke level rata-rata jangka panjang, ini bisa menjadi titik masuk yang menarik bagi investor lokal maupun global,” tutupnya.