Tag: tips n trik

  • Bitcoin Bersiap Cetak Rekor Baru, Investor Mulai Masuk Kembali

    Bitcoin Bersiap Cetak Rekor Baru, Investor Mulai Masuk Kembali

    Serratalhadafc.com – Minat investor terhadap Bitcoin kembali meningkat, ditandai dengan aksi pembelian yang mulai menggeliat menjelang akhir Mei 2025. Sejumlah indikator teknikal dan fundamental mengisyaratkan potensi besar bagi Bitcoin untuk menembus level tertinggi sepanjang masa dalam waktu dekat.

    Analis dari Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengungkapkan bahwa berdasarkan data dari Glassnode, metrik Realized Cap—yang mengukur nilai total Bitcoin berdasarkan harga terakhir koin berpindah tangan—telah mengalami lonjakan signifikan. Sejak 20 April 2025, Realized Cap naik sekitar USD 30 miliar dan kini berada di angka USD 900 miliar, atau tumbuh 3 persen hanya dalam dua pekan pertama bulan Mei.

    “Peningkatan ini mencerminkan bahwa aliran dana yang masuk ke Bitcoin bukan hanya bersifat spekulatif, tapi juga menunjukkan perubahan pandangan terhadap Bitcoin sebagai aset pelindung nilai, terutama di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian,” ujar Fyqieh dalam pernyataan resminya, Jumat (16/5/2026).

    Dari sisi teknikal, Bitcoin saat ini tengah berada dalam fase konsolidasi yang dinilai sehat. Pergerakannya yang stabil antara kisaran USD 100.678 hingga USD 105.700 menunjukkan pola yang kuat, dan membuka peluang untuk menembus level psikologis USD 110.000 dalam waktu dekat.

    “Struktur harga membentuk pola higher high dan higher low, yang merupakan indikasi tren naik. Selain itu, indikator RSI yang masih berada di zona netral memberikan ruang yang cukup besar untuk kelanjutan penguatan,” jelasnya.

    Faktor Global Berperan

    Fyqieh juga menyoroti bahwa sentimen positif terhadap Bitcoin turut dipengaruhi oleh meredanya tensi geopolitik, khususnya perang tarif antara Amerika Serikat dan China. Kedua negara telah sepakat untuk menurunkan tarif perdagangan selama 90 hari ke depan, yang memicu optimisme pasar global dan mendorong sikap risk-on di kalangan investor.

    Tak hanya itu, inflasi Amerika Serikat yang turun ke angka 2,3 persen pada April 2025—terendah sejak Februari 2021—turut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga acuan.

    “Gabungan dari faktor teknikal dan makroekonomi ini membuat prospek Bitcoin semakin cerah dalam waktu dekat,” tutup Fyqieh.

    Bitcoin Berpeluang Tembus USD 150.000, Tapi Risiko Tetap Ada

    Seiring dengan menguatnya sinyal teknikal dan fundamental, sejumlah analis memperkirakan bahwa siklus bullish kali ini dapat membawa harga Bitcoin melesat hingga menyentuh kisaran USD 120.000 hingga USD 150.000 sebelum akhir 2025. Namun, proyeksi ini tetap dibayangi oleh volatilitas tinggi yang menjadi karakter utama pasar kripto.

    Menurut Fyqieh Fachrur, tren saat ini didorong oleh kombinasi faktor yang saling memperkuat—mulai dari kondisi global yang membaik, efek berkelanjutan dari siklus post-halving, hingga meningkatnya partisipasi investor domestik. Semua ini menempatkan Bitcoin dalam jalur yang menjanjikan untuk mencetak rekor harga baru dalam waktu dekat.

    “Walau peluangnya besar, tetap penting bagi investor untuk tidak mengabaikan prinsip manajemen risiko,” ujarnya. “Pasar kripto memang penuh potensi, tapi juga sangat dinamis. Maka dari itu, setiap keputusan investasi harus diambil dengan perhitungan matang dan strategi yang jelas.”

    Fyqieh menekankan pentingnya keseimbangan antara optimisme dan kehati-hatian. Menurutnya, pemahaman terhadap siklus pasar, pengelolaan portofolio yang bijak, serta disiplin dalam mengambil posisi akan menjadi kunci bagi investor untuk bertahan dan meraih hasil maksimal di tengah pergerakan pasar yang fluktuatif.

  • Warren Buffett Pengaruhi CEO eToro untuk Kurangi Fokus pada Kripto

    Warren Buffett Pengaruhi CEO eToro untuk Kurangi Fokus pada Kripto

    Serratalhadafc.com – Warren Buffett kembali mencuri perhatian publik setelah memberikan nasihat yang cukup mengejutkan kepada CEO eToro, Yoni Assia. Dikenal sebagai “Oracle of Omaha”, Buffett memang telah lama menjadi panutan bagi banyak tokoh besar dunia bisnis, mulai dari Bill Gates hingga Bill Ackman.

    Mengutip laporan Yahoo Finance pada Jumat (16/5/2025), Buffett yang baru saja mundur dari posisi CEO Berkshire Hathaway setelah lebih dari 60 tahun memimpin, tetap menunjukkan pengaruh besarnya di dunia investasi. Salah satu buktinya adalah pernyataan Yoni Assia dalam wawancara dengan program Squawk Box CNBC pada 15 Mei 2025.

    Assia mengungkapkan bahwa saran dari Buffett membuatnya mulai mempertimbangkan ulang strategi eToro, khususnya terkait aset kripto.

    “Nasihatnya benar-benar membuat saya lebih fokus ke saham dan mulai mengurangi ketergantungan pada kripto,” ujar Assia.

    Pandangan Buffett terhadap aset digital seperti Bitcoin memang sudah lama dikenal tegas. Ia pernah menyebut Bitcoin sebagai “racun tikus dalam bentuk kuadrat” dan bahkan mengibaratkannya sebagai “token perjudian”. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Berkshire Hathaway selama ini menolak untuk terlibat dalam investasi aset kripto.

    Langkah Yoni Assia untuk mendengarkan nasihat Buffett bisa menjadi sinyal perubahan pendekatan strategis eToro di masa mendatang, terutama di tengah gejolak pasar kripto yang masih penuh ketidakpastian.

    CEO eToro: Masa Depan Bisnis Lebih Terjamin di Saham daripada Kripto

    CEO eToro, Yoni Assia, mengungkapkan refleksi mendalam terkait perjalanan perusahaannya di dunia kripto dan saham. Dalam pernyataannya, Assia menegaskan bahwa meski eToro merupakan pelopor perdagangan aset digital di Eropa, keberlanjutan bisnis justru lebih kuat di sektor saham.

    “eToro sudah terlibat di kripto sejak awal. Kami bahkan menjadi perusahaan pertama di Eropa yang mendapat regulasi resmi untuk memperdagangkan aset kripto,” jelas Assia.

    Namun, seiring berjalannya waktu dan pengalaman yang terus bertambah, ia menyadari bahwa masa depan perusahaan lebih stabil jika berfokus pada saham. Data tahun lalu menunjukkan bahwa 75% pendapatan eToro berasal dari saham, sementara hanya 25% dari kripto.

    Assia juga mengenang keputusan penting yang ia buat pada tahun 2011, saat membatalkan rencana go public. Ia mengakui bahwa langkah itu menjadi pelajaran berharga dalam perjalanan bisnisnya.

    “Saya belajar bahwa penting untuk memastikan perusahaan sudah menguntungkan sebelum masuk ke bursa,” ungkapnya.

    Meskipun begitu, Assia tetap yakin bahwa kripto tidak akan menghilang. Ia menegaskan:

    “Tidak seorang pun meragukan bahwa kripto akan tetap ada.”

    Pandangan ini menunjukkan posisi eToro yang kini lebih bijak dalam mengelola eksposur terhadap kripto, sambil tetap menjaga fondasi bisnisnya melalui perdagangan saham.

    Nubank Gandeng Circle dan Talos

    Meskipun Warren Buffett dikenal sebagai salah satu kritikus keras aset kripto, salah satu perusahaan yang didukungnya justru terus memperluas eksposur ke dunia aset digital. Nubank, bank digital raksasa asal Brasil yang didukung oleh Berkshire Hathaway dan Softbank Group Corp, kini bekerja sama dengan Circle dan Talos untuk meningkatkan adopsi kripto di Brasil.

    Dalam pengumuman terbarunya, Nubank Cripto—layanan kripto dari Nubank—menambahkan 11 opsi cryptocurrency baru sepanjang tahun 2023. Dengan penambahan ini, total aset digital yang tersedia di platform Nubank kini mencapai 15, tidak termasuk Nucoin, token utilitas yang digunakan dalam program loyalitas mereka.

    Kolaborasi strategis dengan Circle membawa USDC (USD Coin) ke dalam ekosistem Nubank. Jeremy Allaire, CEO dan salah satu pendiri Circle, menyebutkan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk mempermudah akses masyarakat Brasil terhadap dolar digital.

    “Melalui integrasi USDC di Nubank Cripto, pengguna dapat membeli dan menyimpan dolar digital dengan lebih mudah,” ungkap Allaire.

    Langkah ini menegaskan arah baru Nubank dalam menyediakan layanan finansial yang lebih inklusif dan terhubung dengan teknologi blockchain, meski berada di bawah naungan tokoh legendaris seperti Buffett yang selama ini skeptis terhadap kripto.

    Sebagai informasi, Nubank merupakan salah satu bank digital terbesar di Amerika Latin, dengan 80,4 juta pelanggan di Brasil, serta 1,51 juta nasabah tambahan di Meksiko dan Kolombia. Pada tahun lalu saja, Nubank mencatat pendapatan sebesar USD 1,69 miliar.

    Dengan pertumbuhan agresif dan kolaborasi bersama pemain besar di dunia kripto, Nubank menunjukkan bahwa inovasi finansial tetap bisa berjalan beriringan meski di tengah pandangan konservatif dari para pendukungnya.

  • El Salvador Terus Tambah Cadangan Bitcoin Meski Terikat Kesepakatan IMF

    El Salvador Terus Tambah Cadangan Bitcoin Meski Terikat Kesepakatan IMF

    Serratalhadafc.com – Pemerintah El Salvador terus melanjutkan pembelian Bitcoin untuk memperkuat cadangan kripto nasionalnya, meski negara tersebut tengah berada dalam kesepakatan pinjaman dengan Dana Moneter Internasional (IMF), yang secara eksplisit melarang penggunaan dana publik untuk membeli aset kripto.

    Berdasarkan data dari Kantor Bitcoin El Salvador, dalam sepekan terakhir, negara ini telah menambah 7 Bitcoin ke dalam portofolio cadangannya. Dengan penambahan ini, total kepemilikan Bitcoin El Salvador kini mencapai 6.173 BTC, dengan estimasi nilai lebih dari 637 juta dolar AS.

    Meskipun berada di bawah tekanan regulasi dari kesepakatan IMF, pemerintah El Salvador tetap konsisten dalam strateginya membeli Bitcoin secara rutin. Hingga kini, belum terlihat indikasi bahwa mereka akan menghentikan langkah tersebut.

    El Salvador merupakan salah satu negara pertama yang secara aktif membeli Bitcoin di pasar terbuka untuk dijadikan cadangan nasional. Beberapa pengamat industri menilai bahwa strategi ini dapat menjadi preseden bagi negara lain yang ingin mempertimbangkan Bitcoin sebagai aset strategis jangka panjang.

    El Salvador Tetap Beli Bitcoin Meski Setuju Hentikan Statusnya sebagai Alat Pembayaran Sah

    Dilansir dari Cointelegraph pada Senin (12/5/2025), El Salvador sebelumnya menandatangani kesepakatan pinjaman senilai 1,4 miliar dolar AS dengan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Desember 2024. Dalam kesepakatan tersebut, pemerintah sepakat mencabut status Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah dan mengubah penggunaannya menjadi opsional.

    Selain itu, pemerintah El Salvador juga diminta menghentikan pembelian Bitcoin menggunakan dana publik. Salah satu syarat lainnya adalah privatisasi Chivo Wallet—dompet digital resmi yang sempat didanai negara namun jarang digunakan oleh masyarakat.

    Pada Januari 2025, parlemen El Salvador resmi mencabut status sah Bitcoin sebagai alat pembayaran dengan hasil pemungutan suara 55 anggota parlemen menyetujui dan hanya 2 yang menolak. Meskipun demikian, langkah itu tidak menghentikan pembelian Bitcoin oleh negara, yang masih berlangsung secara aktif hingga saat ini.

    Presiden El Salvador Tolak Tekanan IMF, Tegaskan Tetap Beli Bitcoin

    Pada Maret 2025, Dana Moneter Internasional (IMF) kembali memperingatkan El Salvador untuk menghentikan pembelian Bitcoin, sesuai dengan kesepakatan pinjaman yang telah disepakati sebelumnya. Namun, Presiden El Salvador, Nayib Bukele, secara tegas menolak permintaan tersebut.

    Bukele menyatakan bahwa pemerintahnya tidak akan menghentikan akumulasi Bitcoin, meskipun menghadapi tekanan dari lembaga keuangan internasional.

    “Tidak, kami tidak akan berhenti. Jika dulu kami tetap melanjutkan meskipun dunia mengucilkan dan banyak pendukung Bitcoin meninggalkan kami, maka kami juga tidak akan berhenti sekarang ataupun di masa mendatang,” tulis Bukele dalam unggahannya di platform X (sebelumnya Twitter) pada 4 Maret 2025.

  • Kontras Digital: Saat Judi Online Menurun, Industri Kripto Justru Tumbuh Positif

    Kontras Digital: Saat Judi Online Menurun, Industri Kripto Justru Tumbuh Positif

    Serratalhadafc.com – Di tengah sorotan tajam terhadap maraknya perputaran dana dari praktik judi online (judol), industri aset kripto justru memperlihatkan tren yang semakin positif. Data dari dua lembaga negara memperlihatkan kontras yang mencolok antara dua aktivitas digital tersebut.

    Berdasarkan catatan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), total perputaran dana dari aktivitas judol pada kuartal I 2025 mencapai Rp 47 triliun. Angka ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 90 triliun.

    Sebaliknya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa transaksi aset kripto di Indonesia justru mencatatkan pertumbuhan signifikan, dengan nilai transaksi mencapai Rp 109,3 triliun selama kuartal I 2025. Jumlah konsumen aktif di ekosistem kripto pun meningkat, dengan 13,71 juta pengguna tercatat hingga Maret 2025.

    Dari sisi kontribusi terhadap negara, sektor kripto terus menunjukkan peran strategis. Sejak diberlakukannya kebijakan pajak atas aset kripto pada 2022, total penerimaan pajak hingga Maret 2025 telah mencapai Rp 1,2 triliun. Khusus untuk tahun 2025, pajak kripto yang telah dikumpulkan sebesar Rp 115,1 miliar.

    Wan Iqbal, Chief Marketing Officer (CMO) Tokocrypto, menegaskan bahwa kripto bukan sekadar instrumen spekulatif, melainkan bagian penting dari transformasi keuangan global. Ia menekankan perbedaan mendasar antara kripto dan judi online, baik dari segi manfaat sosial maupun ekonomi.

    “Industri kripto memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Selain sebagai alat investasi, kripto juga membuka lapangan kerja, mendorong literasi keuangan digital, serta menyumbang penerimaan negara melalui pajak. Sangat berbeda dengan judi online, yang hanya mengalihkan uang tanpa menciptakan nilai tambah,” ujar Iqbal pada Sabtu (10/5/2025).

    Kripto Dinilai Lebih Sehat dan Berkelanjutan Dibanding Judol

    Menurut Wan Iqbal, CMO Tokocrypto, industri aset kripto menawarkan potensi ekonomi yang lebih sehat, legal, dan berkelanjutan dibanding praktik judi online. Ia menyebut kripto kini telah berkembang menjadi inovasi yang mendefinisikan ulang konsep nilai dan transaksi dalam dunia keuangan.

    “Kita berada di era di mana teknologi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan menjadi tulang punggung perekonomian,” ujar Iqbal.

    Ia juga menekankan bahwa dengan penguatan regulasi dan peningkatan literasi masyarakat, aset kripto memiliki peluang besar untuk memperluas inklusi keuangan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.

    Aset Kripto, Jembatan Menuju Inklusi Keuangan

    Lebih dari sekadar alat transaksi atau instrumen investasi, aset kripto dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong inklusi keuangan di Indonesia. Wan Iqbal, CMO Tokocrypto, menyatakan bahwa teknologi blockchain memungkinkan individu yang belum terjangkau layanan perbankan—masyarakat unbanked—untuk terhubung dengan sistem keuangan global secara lebih mudah dan efisien.

    “Teknologi ini menghadirkan transparansi dan efisiensi tinggi dalam pengelolaan aset, bahkan untuk pelaku usaha mikro maupun masyarakat di wilayah terpencil,” jelasnya.

    Iqbal menambahkan, bila didukung kebijakan yang berpihak pada inovasi serta program literasi digital yang masif, industri kripto dapat menjadi penggerak utama dalam menciptakan ekosistem ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan.

    Dengan kesadaran masyarakat yang terus tumbuh dan dukungan regulasi yang tepat, sektor kripto dan blockchain dipandang sebagai bagian penting dari masa depan sistem keuangan nasional—bukan hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga menata ulang fondasi keuangan modern Indonesia.

  • Mantan CEO Celsius Network, Alex Mashinsky, Dijatuhi Hukuman 12 Tahun Penjara

    Mantan CEO Celsius Network, Alex Mashinsky, Dijatuhi Hukuman 12 Tahun Penjara

    Serratalhadafc.com – Pendiri sekaligus mantan CEO Celsius Network, Alex Mashinsky, resmi dijatuhi hukuman 12 tahun penjara setelah mengaku bersalah atas tuduhan penipuan sekuritas dan komoditas pada Desember tahun lalu. Putusan dijatuhkan oleh Hakim Distrik AS, John Koeltl, di pengadilan Manhattan pada Kamis lalu.

    Dikutip dari Yahoo Finance (Jumat, 9 Mei 2025), hukuman ini menjadi salah satu yang terberat dalam kasus kriminal terkait runtuhnya pasar kripto pada 2022. Sebagai perbandingan, Sam Bankman-Fried—mantan CEO FTX—menerima hukuman 25 tahun penjara atas kasus penipuan serupa, meskipun saat ini tengah mengajukan banding.

    Dalam dakwaan, jaksa federal menuduh Mashinsky telah menyesatkan nasabah mengenai tingkat keamanan investasi di platform Celsius. Ia juga dituduh secara artifisial menaikkan harga token CEL, token kripto milik perusahaan, guna memperkaya diri sendiri.

    Mashinsky, yang kini berusia 59 tahun, disebut memperoleh keuntungan pribadi sebesar lebih dari USD 48 juta atau sekitar Rp794 miliar (asumsi kurs Rp16.551 per USD). Jaksa awalnya menuntut hukuman minimal 20 tahun penjara, menilai bahwa kerugian besar yang dialami ribuan korban pantas mendapat ganjaran yang setimpal.

    “Tokenisasi dan penggunaan aset digital adalah inovasi yang kuat, namun bukanlah pembenaran untuk melakukan penipuan,” tegas Jaksa AS, Jay Clayton, dalam pernyataan resminya

    Mashinsky Ajukan Permohonan Hukuman Ringan

    Sebelum putusan dijatuhkan, Alex Mashinsky sempat memohon agar dijatuhi hukuman ringan—hanya satu tahun dan satu hari penjara. Ia menyampaikan penyesalan mendalam serta keinginannya untuk memperbaiki keadaan bagi keluarganya dan para mantan nasabah Celsius Network.

    Namun, pengadilan menolak permohonan tersebut dan tetap menjatuhkan hukuman 12 tahun penjara, ditambah tiga tahun pembebasan bersyarat. Mashinsky juga dikenai penyitaan aset senilai USD 48,4 juta. Hingga kini, tim pengacaranya belum memberikan pernyataan resmi atas vonis tersebut.

    Keruntuhan Celsius Network

    Celsius Network, yang didirikan oleh Mashinsky pada 2017 dan berbasis di Hoboken, New Jersey, pernah dikenal sebagai salah satu platform pinjaman kripto terbesar. Perusahaan ini menarik banyak pengguna dengan tawaran bunga tinggi—bahkan hingga 17%—untuk aset digital yang disimpan di platform mereka.

    Model bisnis Celsius didasarkan pada meminjamkan aset dari nasabah ritel ke investor institusional, dengan harapan memperoleh keuntungan dari selisih suku bunga. Namun, strategi tersebut akhirnya runtuh ketika pasar kripto anjlok pada 2022, menyebabkan Celsius kehilangan likuiditas dan mengajukan kebangkrutan.

    Kejatuhan Celsius dan Dampaknya

    Ketika pasar kripto mulai merosot tajam pada pertengahan 2022, ribuan nasabah Celsius Network secara serentak menarik dananya. Akibatnya, perusahaan mengalami krisis likuiditas parah dan mencatatkan defisit sebesar USD 1,19 miliar. Situasi ini memaksa Celsius mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11 di Amerika Serikat pada Juli 2022.

    Alex Mashinsky, pendiri Celsius, memiliki latar belakang internasional. Ia lahir di Ukraina, sempat tinggal di Israel, dan kemudian menetap di New York setelah pertama kali mengunjungi kota tersebut pada tahun 1988.

    Masih Hadapi Gugatan Perdata

    Selain hukuman pidana 12 tahun penjara, Mashinsky juga masih harus menghadapi serangkaian gugatan perdata dari beberapa lembaga regulator utama, termasuk:

    • Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC)
    • Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC)
    • Komisi Perdagangan Federal (FTC)
    • Kantor Jaksa Agung Negara Bagian New York, Letitia James

    Gugatan-gugatan tersebut mencerminkan kompleksitas dan besarnya dampak dari kasus Celsius terhadap ekosistem kripto dan kepercayaan investor.

  • Changpeng Zhao Prediksi Harga Bitcoin Bisa Tembus USD 1 Juta

    Changpeng Zhao Prediksi Harga Bitcoin Bisa Tembus USD 1 Juta

    Serratalhadafc.comChangpeng Zhao, Co-Founder Binance, memprediksi bahwa harga Bitcoin (BTC) berpotensi melonjak hingga mencapai antara USD 500.000 hingga USD 1 juta (sekitar Rp8,2 miliar hingga Rp16,4 miliar) dalam siklus pasar saat ini. Optimisme ini didorong oleh sejumlah faktor, termasuk adopsi institusional yang meningkat, akumulasi aset oleh negara-negara, dan kebijakan pro-kripto dari pemerintahan Amerika Serikat.

    “Ada ETF, dan Bitcoin kini semakin dilembagakan. Ini jelas menjadi faktor positif bagi harga. Nilai aset kita naik—mungkin tidak semua altcoin, tapi Bitcoin pasti naik,” ujar Zhao dalam wawancara bersama Rug Radio, seperti dikutip dari Cointelegraph, Rabu (7/5/2025).

    Zhao menjelaskan bahwa kehadiran Exchange-Traded Fund (ETF) berbasis Bitcoin telah membuka jalan masuknya dana institusional tradisional ke pasar kripto. Menurutnya, sebagian besar uang di Amerika Serikat berasal dari institusi, dan itu kini mulai mengalir ke Bitcoin berkat adanya ETF.

    Lebih lanjut, Zhao juga menyoroti tren pembelian Bitcoin oleh negara-negara sebagai faktor pendukung kenaikan harga BTC. Ia menilai hal tersebut sebagai bentuk validasi penting terhadap aset digital ini.

    Salah satu contohnya adalah El Salvador, negara pertama di dunia yang mengakui Bitcoin sebagai alat pembayaran sah. Pada April 2025, El Salvador kembali menambah cadangannya dengan membeli 7 BTC senilai lebih dari USD 650.000. Saat ini, menurut data Kantor Bitcoin El Salvador, total kepemilikan negara itu mencapai sekitar 6.170 BTC senilai hampir USD 580 juta (sekitar Rp9,5 triliun).

    Selain El Salvador, Kerajaan Bhutan juga dilaporkan terus mengakumulasi Bitcoin sebagai bagian dari strategi keuangan negara.

    Zhao juga menyinggung perubahan kebijakan di Amerika Serikat di bawah pemerintahan baru Presiden Donald Trump yang lebih ramah terhadap aset digital. Ia menyebut, langkah sejumlah negara dalam membeli Bitcoin menunjukkan pemahaman strategis akan potensi aset ini.

    “Mereka cukup cerdas untuk menyadari bahwa membeli Bitcoin adalah langkah yang bagus. Sekarang, negara-negara lain perlu menyusul,” pungkasnya.

    Standard Chartered Prediksi Bitcoin Tembus USD 200.000 pada Akhir 2025

    Bank multinasional asal Inggris, Standard Chartered, memproyeksikan harga Bitcoin (BTC) akan melonjak hingga USD 200.000 (sekitar Rp3,3 miliar) pada akhir tahun 2025. Prediksi ini disampaikan oleh Geoffrey Kendrick, Kepala Penelitian Aset Digital Standard Chartered, dalam laporan riset yang dibagikan kepada para klien bank.

    “Kami memperkirakan tren kenaikan akan terus berlanjut sepanjang musim panas, hingga BTC-USD mendekati target akhir tahun kami sebesar 200.000,” ujar Kendrick, dikutip dari News.bitcoin.com, Rabu (30/4/2025).

    Menurut Kendrick, arus dana yang mengalir ke Bitcoin sebagian besar didorong oleh kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang dinilai belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi ini membuat investor mulai mencari alternatif non-AS, termasuk aset digital seperti Bitcoin.

    Laporan juga mencatat bahwa premi obligasi Treasury AS saat ini berada di level tertinggi dalam 12 tahun, yang menandakan meningkatnya persepsi risiko terhadap investasi berbasis dolar AS. Hal ini menjadi salah satu alasan investor beralih ke Bitcoin.

    Kendrick menyoroti sejumlah faktor lain yang mendorong kenaikan harga Bitcoin, di antaranya:

    • Akumulasi oleh investor besar (whales), yaitu individu atau entitas yang memegang lebih dari 1.000 BTC.
    • Meningkatnya daya tarik ETF Bitcoin, sementara ETF emas mulai kehilangan pamor.

    Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, Standard Chartered memperkirakan harga Bitcoin akan menyentuh USD 120.000 pada kuartal kedua 2025, sebelum akhirnya mencapai USD 200.000 di akhir tahun.

    Sementara itu, Alex Obchakevich, pendiri Obchakevich Research, mengungkapkan bahwa sekitar 70% pertumbuhan nilai Bitcoin berasal dari modal institusional baru, sementara sisanya adalah hasil dari redistribusi aset kripto yang sudah ada.

    “ETF, khususnya ETF Bitcoin, menjadi pendorong utama tren bullish saat ini, meskipun disertai koreksi harga dalam jangka pendek,” jelas Obchakevich.

    Studi: Harga Bitcoin Bisa Tembus USD 1 Juta pada Awal 2027

    Sebuah studi terbaru memprediksi bahwa harga Bitcoin (BTC) berpotensi melonjak hingga USD 1 juta atau sekitar Rp16,8 miliar (asumsi kurs Rp16.863/USD) pada awal tahun 2027. Prediksi ini didasarkan pada tren meningkatnya penarikan harian dari pasokan Bitcoin yang likuid, yang kini melebihi 1.000 BTC per hari.

    Dilansir dari Yahoo Finance, riset tersebut mengandalkan model ekonomi fundamental yang mengkaji dampak akumulasi institusional dan terbatasnya pasokan terhadap pergerakan harga Bitcoin.

    Studi berjudul “A Supply and Demand Framework for Forecasting Bitcoin Prices” ini dipublikasikan dalam Journal of Risk and Financial Management. Peneliti menggunakan pendekatan ekuilibrium antara pasokan dan permintaan, dengan menyesuaikan karakteristik unik Bitcoin yang memiliki sistem penerbitan tetap, yakni jumlah total Bitcoin yang dibatasi hingga 21 juta unit.

    Tidak seperti komoditas konvensional, Bitcoin tidak dapat diproduksi lebih banyak saat permintaan meningkat. Inilah yang membuatnya sangat rentan terhadap guncangan pasokan, khususnya ketika akumulasi terjadi dalam jumlah besar dan konsisten.

    “Model ini menunjukkan bahwa Bitcoin bisa mencapai USD 1 juta pada awal 2027 jika penarikan harian dari pasokan likuid tetap berada di atas 1.000 BTC,” tulis laporan tersebut.

    Prediksi ini memperkuat pandangan sejumlah analis yang menyebut bahwa adopsi institusional dan kelangkaan suplai menjadi penggerak utama kenaikan harga BTC di masa depan.

  • Fenomena Worldcoin Tunjukkan Kesadaran Publik terhadap Aset Digital

    Fenomena Worldcoin Tunjukkan Kesadaran Publik terhadap Aset Digital

    Serratalhadafc.com – Direktur Utama PT Central Finansial X (CFX), Subani, angkat bicara terkait fenomena proyek kripto Worldcoin yang tengah menjadi sorotan publik. Proyek ini dikenal luas karena melibatkan teknologi pemindaian iris mata sebagai bagian dari sistem identitas digital yang disebut WorldID.

    Melalui mekanisme tersebut, masyarakat dapat memindai iris mata mereka untuk mendapatkan identitas digital, yang selanjutnya dapat ditukar dengan aset kripto secara gratis. Fenomena ini pun memunculkan diskusi luas di tengah masyarakat, terutama terkait isu privasi dan nilai tukar data biometrik.

    Namun di balik kontroversinya, Subani melihat sisi positif dari tren ini. Menurutnya, minat masyarakat terhadap Worldcoin mencerminkan tumbuhnya pemahaman dan apresiasi terhadap aset digital.

    “Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai mengerti tentang kripto dan menilai kripto adalah sesuatu yang berharga,” ujarnya dalam pernyataan tertulis yang diterima oleh Serratalhadafc.com, Rabu (7/5/2025).

    Ia menambahkan bahwa perkembangan seperti ini menandakan pergeseran paradigma, di mana aset digital semakin diterima sebagai bagian dari ekosistem ekonomi masa depan.

    Perlu Memahami Risiko di Baliknya

    Namun, Subani mengingatkan pemindahan data iris mata tersebut pada dasarnya merupakan bentuk pemberian data pribadi kepada pihak lain, sehingga masyarakat harus benar-benar memahami risiko di baliknya.

    “Tapi masyarakat harus menyadari bahwa aksi pemindahan data iris mata tersebut sama dengan mereka sudah memberikan data pribadi ke orang lain,” ujarnya.

    Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku di Indonesia dalam menyikapi teknologi baru seperti Worldcoin. Subani mengapresiasi langkah Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) yang telah memiliki kerangka aturan terkait Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) dan Tanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik (TDPSE).

    Dirut CFX: Worldcoin Tunjukkan Kesadaran Publik terhadap Kripto

    Direktur Utama PT Central Finansial X (CFX), Subani, memberikan pandangannya terhadap fenomena Worldcoin, proyek kripto yang menarik perhatian karena penggunaan data biometrik, khususnya pemindaian iris mata, sebagai identitas digital.

    Proyek Worldcoin memungkinkan masyarakat untuk memindai iris mata mereka guna mendapatkan WorldID—identitas digital yang kemudian dapat ditukar dengan aset kripto secara gratis. Menurut Subani, tren ini menandai meningkatnya kesadaran publik terhadap nilai aset digital.

    “Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai mengerti tentang kripto dan menilai kripto adalah sesuatu yang berharga,” ujarnya dalam pernyataan tertulis kepada Serratalhadafc.com, Rabu (7/5/2025).

    Meski begitu, Subani mengingatkan bahwa di balik inovasi tersebut, terdapat isu penting terkait perlindungan data pribadi. Ia menekankan bahwa tindakan memindai iris mata sejatinya adalah bentuk pemberian data sensitif kepada pihak lain.

    “Tapi masyarakat harus menyadari bahwa aksi pemindahan data iris mata tersebut sama dengan mereka sudah memberikan data pribadi ke orang lain,” tegasnya.

    Ia juga menyoroti pentingnya regulasi yang jelas dalam menghadapi teknologi semacam ini. Subani mengapresiasi upaya Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) yang telah menetapkan kerangka hukum melalui sistem Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) dan Tanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik (TDPSE).

    Menurutnya, kepatuhan terhadap aturan yang berlaku sangat penting untuk memastikan perlindungan konsumen dan menjaga kepercayaan publik dalam ekosistem digital yang berkembang pesat.

    Bappebti: Worldcoin Terdaftar Resmi, Tapi Status Legal Kripto Bisa Berubah

    Menanggapi sorotan publik terhadap proyek kripto Worldcoin, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Tirta Karma Senjaya, menyatakan bahwa aset kripto tersebut telah melalui proses evaluasi yang ketat sebelum resmi masuk dalam daftar legal di Indonesia.

    “Worldcoin (WLD) sudah terdaftar dalam peraturan Bappebti karena telah lulus penilaian Analytical Hierarchy Process (AHP), sesuai kriteria yang ditetapkan. Selain itu, aset ini juga sudah terdaftar dan aktif diperdagangkan di berbagai crypto exchange global, serta tercatat di CoinMarketCap,” jelas Tirta, dikutip dari Serratalhadafc.com, Selasa (6/5/2025).

    Meski demikian, Tirta mengingatkan bahwa status legal suatu aset kripto tidak bersifat permanen. Legalitasnya dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada hasil evaluasi berkala terhadap aktivitas perdagangan dan kepatuhan aset tersebut terhadap regulasi yang berlaku.

    Dengan pernyataan ini, Bappebti menegaskan pentingnya pengawasan yang dinamis dalam ekosistem kripto untuk memastikan keamanan investor serta stabilitas pasar.

  • TRIV Jadi Aplikasi Kripto Terpopuler di Indonesia Sepanjang 2025

    Serratalhadafc.com – TRIV, platform pertukaran aset kripto asal Indonesia, mencatat pencapaian besar di tahun 2025 dengan menjadi aplikasi kripto paling banyak diunduh di Indonesia. Berdasarkan data dari Google Play dan Sensor Tower, aplikasi ini telah diunduh lebih dari 1 juta kali sepanjang tahun.

    Founder TRIV, Gabriel Rey, menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari komitmen TRIV dalam menjaga keamanan dan kenyamanan pengguna. “Capaian ini tak lepas dari kerja keras kami membangun produk yang aman dan nyaman bagi nasabah,” ujar Gabriel dalam keterangan tertulis, Kamis (1/5/2025).

    Saat ini, TRIV menyediakan lebih dari 1.000 aset kripto, dan telah mengantongi izin resmi untuk layanan staking dan futures dari Bappebti serta OJK.

    Gabriel menekankan bahwa seluruh aktivitas perdagangan di TRIV mengikuti standar keamanan tinggi dan berada dalam pengawasan regulator resmi seperti OJK, Bappebti, dan CFX. Hal ini bertujuan menciptakan ekosistem perdagangan kripto yang sehat, transparan, dan terpercaya.

    “Kami berterima kasih kepada para Trivers yang telah mempercayakan TRIV sebagai platform utama mereka. Keamanan dan kepercayaan akan selalu menjadi prioritas kami,” lanjut Gabriel.

    TRIV juga mengumumkan rencana untuk menambah fitur baru dan memperluas pilihan aset kripto, guna meningkatkan pengalaman pengguna dalam bertransaksi di pasar kripto yang terus berkembang.

    SEC Cabut Aturan Pembatas Kripto

    Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) resmi mencabut aturan yang selama ini menghambat perbankan dan institusi keuangan tradisional dalam memberikan layanan kripto. Keputusan ini dinilai sebagai langkah besar yang membuka jalan adopsi kripto secara lebih luas di sektor keuangan arus utama.

    Mengutip laporan dari Bitcoin.com, keputusan ini tertuang dalam pembaruan terbaru melalui Staff Accounting Bulletin (SAB) 122, yang secara resmi mencabut SAB 121, aturan kontroversial yang diterbitkan pada Maret 2022.

    SAB 121 sempat mewajibkan bank untuk mencatat kripto milik nasabah dalam neraca mereka, menimbulkan beban biaya dan risiko yang tinggi. Aturan ini banyak dikritik karena dianggap menghambat perkembangan industri aset digital dalam lingkungan perbankan.

    Mark T. Uyeda, selaku pemimpin sementara SEC, mengumumkan pencabutan aturan tersebut, yang juga menjadi hasil dari tekanan panjang dari komunitas kripto dan Kongres AS. Sebelumnya, Kongres sempat menyetujui pembatalan SAB 121 lewat Undang-Undang Tinjauan Kongres (CRA) dengan dukungan bipartisan, namun inisiatif itu diveto oleh Presiden Joe Biden dengan alasan menjaga kewenangan SEC.

    Kini, pencabutan resmi akhirnya dilakukan langsung oleh SEC sendiri.

    Komisioner SEC yang dikenal pro-kripto, Hester Peirce, menyambut gembira kabar ini. “Selamat tinggal, SAB 121! Itu tidak menyenangkan,” ujarnya, menegaskan kembali penolakannya sejak awal terhadap aturan tersebut.

    Dukungan serupa juga datang dari Senator Cynthia Lummis, yang menyebut aturan sebelumnya sebagai penghambat inovasi dan kerugian bagi industri perbankan dalam mengejar peluang di dunia aset digital.

    Dengan dihapusnya hambatan tersebut, bank dan lembaga keuangan kini memiliki ruang lebih luas untuk memberikan layanan kripto, termasuk sebagai kustodian aset digital. Langkah ini diperkirakan akan memperluas partisipasi publik dalam dunia kripto dan mempercepat integrasi aset digital ke dalam sistem keuangan tradisional di Amerika Serikat.

  • Bank Swiss Tegaskan Tolak Bitcoin untuk Cadangan Nasional

    Bank Swiss Tegaskan Tolak Bitcoin untuk Cadangan Nasional

    Serratalhadafc.com – Bank Nasional Swiss (SNB) kembali menegaskan pendekatan konservatifnya terhadap bitcoin, di tengah tekanan yang meningkat untuk menambahkannya ke dalam cadangan nasional sebagai respons terhadap inflasi global dan ketidakpastian geopolitik.

    Dalam rapat umum pemegang saham di Bern pada 25 April lalu, Ketua SNB, Martin Schlegel, memperjelas sikap bank sentral tersebut. Dilansir Reuters, Schlegel menyatakan bahwa SNB hanya memilih aset yang sangat likuid untuk cadangan nasional, guna memastikan fleksibilitas tinggi dalam membeli atau menjual valuta asing sesuai kebutuhan.

    Schlegel menyoroti tingginya volatilitas nilai bitcoin sebagai alasan utama penolakannya, menyebut mata uang kripto sebagai aset dengan fluktuasi yang “sangat, sangat tinggi”, sehingga tidak sesuai untuk menjaga stabilitas dan ketahanan keuangan negara.

    “Mata uang kripto saat ini tidak memenuhi persyaratan cadangan mata uang kita,” tegasnya, dikutip dari Bitcoin.com, Minggu (27/4/2025).

    Dorongan untuk memasukkan bitcoin ke cadangan nasional Swiss datang dari inisiatif referendum, dengan pendukung yang berpendapat bahwa bitcoin, bersama emas, dapat membantu melindungi kekayaan negara dari risiko keuangan sistemik — terutama setelah gejolak pasar global yang dipicu oleh kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.

    Meskipun dorongan eksternal terus menguat, SNB tetap teguh mempertahankan pendekatan hati-hatinya terhadap aset digital. Selain volatilitas, Schlegel juga menyoroti risiko teknis kripto, mengingat sistem berbasis perangkat lunak rawan mengalami bug, yang menambah kekhawatiran terhadap keandalan jangka panjang mata uang digital.

    SNB Tegaskan Lagi Tolak Bitcoin untuk Cadangan Devisa

    Penolakan Bank Nasional Swiss (SNB) terhadap bitcoin sebagai bagian dari cadangan nasional bukanlah hal baru. Bulan lalu, Ketua SNB Martin Schlegel kembali menegaskan kepada Bloomberg Television bahwa pihaknya tidak berencana membeli aset kripto. Ia menekankan bahwa cadangan devisa hanya bertujuan mendukung kebijakan moneter nasional, bukan untuk spekulasi terhadap aset digital.

    Sementara itu, diskusi tentang memasukkan bitcoin ke dalam cadangan nasional semakin hangat di berbagai negara. Amerika Serikat, misalnya, telah mengambil langkah awal pada Maret lalu dengan membentuk cadangan bitcoin strategis dari aset digital yang disita dalam proses hukum.

    Langkah AS ini membuka peluang bagi negara lain untuk mempertimbangkan kebijakan serupa, meskipun banyak yang masih berhati-hati terhadap volatilitas harga dan tantangan likuiditas bitcoin.

    Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Pastikan untuk melakukan riset dan analisis sebelum membeli atau menjual aset kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas segala keuntungan atau kerugian yang timbul dari keputusan investasi tersebut.

    Industri Kripto di Indonesia Kian Bergairah, 1.444 Token Kini Terdaftar Resmi

    Industri mata uang kripto di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dalam beberapa waktu terakhir. Saat ini, tercatat ada 1.444 token atau koin kripto yang masuk dalam daftar resmi Bursa Kripto, CFX. Jumlah ini bisa terus bertambah atau berkurang sesuai dengan kebutuhan pasar dan hasil evaluasi rutin.

    Chief Marketing Officer (CMO) Tokocrypto, Wan Iqbal, menyambut baik perkembangan ini. Ia menyatakan bahwa penambahan daftar token kripto bisa menjadi stimulus baru untuk membangkitkan kembali volume transaksi yang belakangan ini melambat.

    “Kebijakan ini sangat tepat untuk menjawab kebutuhan pasar. Dengan semakin banyak pilihan aset yang sah untuk diperdagangkan, kami berharap volume transaksi kripto bisa kembali tumbuh,” ujar Iqbal dalam keterangannya.

    Tokocrypto sendiri telah menambahkan beberapa token baru dalam platformnya, termasuk TRUMP, BIO, VANA, PENGU, BERA, dan ANIME. Selain itu, beberapa aset yang sebelumnya dihentikan sementara kini kembali tersedia setelah evaluasi ulang. Kini, total token yang dapat diperdagangkan di Tokocrypto mencapai lebih dari 420 jenis.

    Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi aset kripto pada Februari 2025 tercatat sebesar Rp 32,78 triliun, menurun dibandingkan Januari yang mencapai Rp 44,07 triliun. Meski demikian, jumlah pengguna kripto terus mengalami peningkatan, dari 22,92 juta menjadi 23,31 juta orang. Penerimaan pajak dari transaksi aset kripto pun sudah mencapai Rp 1,21 triliun hingga Februari 2025.

    “Semakin banyak aset yang diakui secara resmi, semakin besar pula potensi pertumbuhan industri kripto di Indonesia. Ini adalah angin segar bagi seluruh ekosistem,” tutup Iqbal.

  • Waspada Dividend Trap, Ini Tips Menghindarinya

    Waspada Dividend Trap, Ini Tips Menghindarinya

    Serratalhadafc.com – Dividen menjadi daya tarik utama bagi banyak investor saham, terutama bagi mereka yang mengejar pendapatan pasif atau keuntungan jangka pendek. Namun, dividen tinggi tidak selalu berarti peluang bagus. Ada risiko yang dikenal sebagai dividend trap atau jebakan dividen.

    Dividend trap terjadi ketika perusahaan menawarkan dividen tinggi untuk menarik investor, padahal kondisi keuangan mereka sebenarnya tidak sehat. Biasanya, setelah pengumuman dividen, harga saham turun signifikan hingga cum date, membuat investor terjebak dan mengalami kerugian.

    Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengingatkan bahwa investor tidak boleh terpaku hanya pada angka yield yang tinggi. Ia menekankan pentingnya memperhatikan fundamental perusahaan sebelum mengambil keputusan.

    “Kalau dividend yield tinggi tapi fundamentalnya buruk, lebih baik tidak mengambil dividennya. Cukup manfaatkan pergerakan harga sahamnya,” ujar Nico, dikutip Senin (28/4/2025).

    Ia juga menyarankan investor untuk menyesuaikan strategi dengan tujuan masing-masing, apakah ingin menikmati dividen atau hanya mengejar capital gain. “Ini penting karena biasanya harga saham akan turun setelah terjadi dividend trap,” tambahnya.

    Dengan pemahaman yang tepat, investor bisa lebih bijak dalam memilih saham dan menghindari jebakan dividen.

    Fokus pada Fundamental Perusahaan

    Pengamat pasar modal sekaligus founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menegaskan pentingnya memilih perusahaan dengan fundamental kuat dan prospek jangka panjang yang cerah. Menurutnya, fokus pada dividen jangka pendek saja tidak cukup untuk membangun strategi investasi yang aman.

    “Jangan hanya beli saham menjelang cum date demi mengejar dividen sesaat. Pilih perusahaan yang fundamentalnya solid dan prospek bisnisnya menjanjikan, agar kenaikan harga jangka panjang bisa menutupi penurunan setelah ex date,” ujar Wahyu.

    Ia menekankan bahwa investor harus berpikir jauh ke depan. Memilih saham hanya karena dividen tanpa mempertimbangkan kemampuan perusahaan bertahan dan berkembang bisa membawa risiko. Setelah cum date, harga saham umumnya turun, dan jika prospek perusahaan buruk, kerugian bisa lebih besar daripada dividen yang didapat.

    Dengan memperhatikan kekuatan fundamental dan prospek pertumbuhan, investor dapat menghindari jebakan dividen dan membangun portofolio yang lebih stabil dan menguntungkan.

    Dividen Tinggi Bisa Jadi Sinyal Bahaya, Ini Penjelasannya

    Dividen dengan yield tinggi memang menggoda, tapi investor harus waspada. Yield yang sangat tinggi bisa jadi tanda ada masalah di perusahaan.

    Dalam banyak kasus, yield tinggi muncul karena harga saham sudah jatuh tajam, sehingga persentase dividen tampak besar. “Jangan mudah tergiur yield tinggi sesaat. Itu bisa jadi sinyal ada masalah di perusahaan atau harga saham yang sedang anjlok,” kata Wahyu Laksono, founder Traderindo.com.

    Investor disarankan untuk tidak hanya terpaku pada angka yield, tapi juga menilai kondisi perusahaan secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan.