Tag: investasi

  • Idul Adha 2025 Diperkirakan Dorong Konsumsi, Meski Terbatas

    Idul Adha 2025 Diperkirakan Dorong Konsumsi, Meski Terbatas

    Serratalhadafc.com – Perayaan Idul Adha 2025 diprediksi tetap memberikan dorongan pada aktivitas konsumsi masyarakat, terutama karena bertepatan dengan akhir pekan dan hari libur panjang. Momen ini biasanya dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga, bepergian, hingga menggelar makan bersama, yang berdampak langsung pada sektor transportasi, makanan-minuman, dan ritel.

    Namun demikian, dorongan konsumsi selama Idul Adha cenderung tidak sekuat saat Idul Fitri. Selain karena sifat perayaannya yang lebih sederhana, pelemahan ekonomi nasional turut memengaruhi daya beli masyarakat. Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perlambatan, dari 5,02% menjadi 4,87%, terendah sejak 2023.

    “Penurunan kelas menengah hingga 20% karena terbatasnya lapangan kerja formal dan dominasi sektor upah rendah telah mengikis konsumsi domestik,” jelas Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, dalam riset Anugerahslot yang dirilis Sabtu (7/6/2025).

    Dengan kondisi tersebut, peningkatan konsumsi saat Idul Adha kemungkinan hanya bersifat jangka pendek dan terbatas pada sektor tertentu.

    Saham Transportasi dan Jalan Tol Berpeluang Naik

    Sektor transportasi menjadi salah satu yang paling diuntungkan dari momen Idul Adha. Berdasarkan data tahun 2024, terjadi lonjakan penggunaan kendaraan pribadi sebesar 63,6% di Jakarta selama libur Idul Adha, yang seluruhnya digunakan untuk perjalanan domestik. Tren ini diperkirakan berulang di 2025 seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.

    Salah satu emiten yang berpotensi terdampak positif adalah PT Jasa Marga Tbk (JSMR), operator jalan tol nasional. Perusahaan ini berpeluang mencatat kenaikan Volume Lalu Lintas Harian Rata-Rata (VLLR), meskipun belum setinggi saat Idul Fitri atau musim libur panjang nasional.

    “Lalu lintas di jalan tol biasanya meningkat saat Idul Adha, terutama untuk perjalanan jarak pendek dari kota ke daerah sekitarnya,” terang Liza.

    Kendati terbatas, peningkatan mobilitas ini tetap bisa menjadi kontributor positif bagi kinerja keuangan JSMR pada kuartal berjalan, serta menghadirkan sentimen jangka pendek bagi saham sektor transportasi.

    Produk Herbal dan Personal Care Berpeluang Terdongkrak Selama Idul Adha

    Selain sektor transportasi, Idul Adha 2025 juga diperkirakan memberikan dorongan pada permintaan produk herbal dan personal care, seiring pola konsumsi masyarakat yang cenderung meningkat, khususnya terhadap daging merah.

    Salah satu emiten yang berpotensi memetik manfaat adalah PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO). Konsumsi daging dalam jumlah besar saat Idul Adha kerap diikuti dengan peningkatan permintaan terhadap produk seperti Tolak Angin, Kuku Bima, maupun suplemen pencernaan lainnya yang diklaim membantu menjaga daya tahan tubuh dan sistem cerna.

    Meski kenaikan permintaan ini bersifat tidak langsung dan segmentatif, SIDO memiliki keunggulan berupa basis konsumen yang luas dan loyal, sehingga tetap berpeluang mencatat pertumbuhan penjualan. Kondisi ini menjadi penting di tengah melemahnya konsumsi nasional yang turut menekan kinerja sektor farmasi secara umum.

    “SIDO kemungkinan mendapat dorongan dari perubahan pola konsumsi selama Idul Adha, terutama untuk produk herbal pencernaan dan energi. Meski bukan kebutuhan utama hari raya, produk SIDO bisa jadi pilihan masyarakat pasca-makan berat,” jelas Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.

    Liza juga menambahkan, di tengah fluktuasi pasar setelah libur panjang, SIDO dapat berperan sebagai saham defensif yang tetap relevan, terutama karena bisnisnya tidak terlalu bergantung pada siklus musiman, namun tetap mendapat manfaat dari tren konsumsi tahunan seperti Idul Adha.

    Saham Ritel dan Konsumsi Dasar Berpotensi Terdongkrak Usai Idul Adha

    Perayaan Idul Adha 2025 yang bertepatan dengan akhir pekan dan libur panjang diperkirakan turut mengerek kinerja sejumlah emiten ritel dan barang konsumsi.

    PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), pengelola merek gaya hidup seperti Zara, Starbucks, hingga Domino’s, dinilai berpeluang mencatat kenaikan penjualan moderat. Momentum ini ditopang oleh kecenderungan masyarakat untuk tetap berbelanja dan menikmati makan bersama selama liburan. Faktor lain seperti diskon dan promosi hari raya juga menjadi pemicu tambahan peningkatan transaksi ritel.

    Di segmen barang konsumsi dasar, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) diperkirakan mendapat manfaat dari meningkatnya penggunaan produk personal care dan kebutuhan rumah tangga. Tradisi berkumpul keluarga serta aktivitas penyembelihan hewan kurban mendorong masyarakat untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan, sehingga permintaan sabun, sampo, dan pasta gigi mengalami kenaikan.

    Meski begitu, analis menilai lonjakan konsumsi kali ini tidak sebesar saat Idul Fitri, mengingat daya beli masih tertahan akibat tekanan ekonomi.

    “UNVR bisa mendapat dorongan dari kebiasaan menjaga kebersihan saat Idul Adha, meski skalanya tidak masif. Sementara itu, MAPI bisa memanfaatkan promosi untuk menjaga penjualan,” ungkap Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.

    Liza menambahkan, dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, saham berbasis konsumsi dasar dan gaya hidup cenderung lebih defensif dibanding sektor siklikal lain, dan tetap menarik untuk dipantau dalam jangka pendek.

  • Danantara Siapkan Investasi Jumbo Rp 81 Triliun hingga Akhir 2025, Garuda Indonesia Jadi Salah Satu Target

    Danantara Siapkan Investasi Jumbo Rp 81 Triliun hingga Akhir 2025, Garuda Indonesia Jadi Salah Satu Target

    Serratalhadafc.comPT BPI Danantara berencana menyalurkan investasi besar senilai USD 5 miliar atau sekitar Rp 81 triliun hingga akhir 2025. Menurut Arief Budiman, Managing Director Finance Danantara, dana ini berasal dari proyeksi penerimaan dividen BUMN yang diperkirakan mencapai Rp 120 triliun pada tahun yang sama.

    Investasi tersebut akan difokuskan pada delapan sektor strategis yang dinilai memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor-sektor yang menjadi prioritas meliputi:

    1. Hilirisasi mineral
    2. Energi baru terbarukan
    3. Infrastruktur digital
    4. Layanan kesehatan
    5. Jasa keuangan
    6. Utilitas infrastruktur
    7. Kawasan industri
    8. Pangan dan pertanian

    Arief menjelaskan kepada Anugerahslot bahwa sektor-sektor ini dipilih karena berpotensi menghasilkan imbal hasil tinggi serta memberikan kontribusi langsung bagi pembangunan ekonomi. Selain menggunakan dana dari dividen, Danantara juga membuka peluang untuk co-investment bersama mitra dalam maupun luar negeri.

    Di tengah rencana ekspansi ini, beredar kabar bahwa Danantara akan menyuntikkan modal sebesar USD 500 juta atau sekitar Rp 8,1 triliun ke maskapai pelat merah Garuda Indonesia (GIAA). Investasi tersebut rencananya akan dilakukan dalam dua tahap, dengan tahap pertama ditargetkan selesai pada Juni atau Juli 2025. Jika terealisasi, ini akan menjadi investasi perdana Danantara sejak resmi berdiri pada awal tahun ini.

    Rumor suntikan dana tersebut turut mendongkrak sentimen positif terhadap saham GIAA. Menurut laporan tim riset Stockbit Sekuritas, saham GIAA menguat 5,08% pada Rabu (4/6) dan telah melonjak hingga 72% sejak kabar ini pertama kali muncul pada 16 Mei 2025.

    Pada perdagangan sesi I, Kamis (5/6/2025), saham GIAA ditutup naik 4,48% ke level 65. Secara mingguan, saham GIAA telah naik 12,07%, dan sejak 15 Mei mencatat kenaikan 80,56%. Sepanjang tahun 2025 (YTD), saham ini telah menguat sebesar 18,18%.

    Citilink Bakal Dapat Suntikan Dana dari Danantara, Konsolidasi dengan Pelita Air Masih Tanda Tanya

    Sebagian dana investasi USD 500 juta (sekitar Rp 8,1 triliun) yang direncanakan Danantara untuk Garuda Indonesia (GIAA) dikabarkan akan dialokasikan kepada anak usahanya, Citilink. Maskapai berbiaya rendah ini disebut akan menggunakan dana tersebut untuk mengaktifkan kembali lebih dari selusin armada yang sebelumnya tidak beroperasi.

    Langkah ini dinilai strategis guna memperkuat posisi Citilink di tengah pemulihan sektor aviasi pasca-pandemi, seiring meningkatnya permintaan penerbangan domestik.

    “Jika terwujud, suntikan modal ini akan menjadi investasi perdana Danantara sejak resmi berdiri pada awal 2025,” tulis tim riset Stockbit dalam laporannya.

    Namun, di balik rencana tersebut, muncul wacana peralihan pengendalian Citilink dari GIAA ke Pertamina. Diskusi internal terkait hal ini disebut masih berlangsung, meski belum mengarah pada keputusan final. Pemerintah disebut mempertimbangkan opsi ini sebagai bagian dari strategi restrukturisasi industri penerbangan nasional yang melibatkan sejumlah BUMN.

    Pertamina sendiri mengonfirmasi bahwa ide konsolidasi Citilink dan Pelita Air pernah dibahas bersama Kementerian BUMN, meskipun belum ada keputusan resmi hingga saat ini.

    Wacana konsolidasi maskapai pelat merah sebenarnya bukan hal baru. Sejak 2023, Menteri BUMN Erick Thohir telah mendorong integrasi antara GIAA, Citilink, dan Pelita Air, dengan target penyelesaian pada pertengahan 2025. Namun, dengan berkembangnya kabar pergeseran arah pengendalian, proses konsolidasi ini berpotensi mengalami perubahan strategi ke depan.

    Pasar Respons Positif Rencana Investasi Danantara, Saham GIAA Melonjak

    Kabar rencana suntikan dana dari Danantara ke Garuda Indonesia (GIAA) mendapat sambutan positif dari pelaku pasar. Pada perdagangan Rabu, 4 Juni 2025, saham GIAA tercatat menguat 5,08%, bahkan telah mengalami kenaikan 72% sejak rumor tersebut pertama kali beredar pada 16 Mei 2025.

    Kenaikan ini mencerminkan optimisme investor terhadap potensi pemulihan GIAA, terutama dengan dukungan langsung dari modal negara. Tak hanya berdampak pada saham GIAA, rencana investasi besar senilai USD 5 miliar dari Danantara juga menjadi perhatian pelaku pasar sebagai indikator baru pengelolaan dana publik oleh pemerintah.

    Keberhasilan Danantara dalam menyalurkan dan mengelola investasi ini akan menjadi tolak ukur kredibilitas keuangan negara. Arah dan implementasi kebijakan investasi ini sangat krusial dalam menjaga dan meningkatkan kepercayaan investor, baik domestik maupun asing.

    Investasi strategis seperti ke GIAA dinilai bisa menjadi pembuktian bahwa dana dividen BUMN tidak hanya dikembalikan ke negara, tetapi diolah menjadi pertumbuhan ekonomi konkret. Jika dikelola secara transparan dan efektif, investasi ini berpotensi menarik lebih banyak aliran dana asing ke pasar Indonesia.

    “Langkah ini akan memengaruhi tingkat kepercayaan dan selera risiko investor asing terhadap pasar Indonesia,” tulis tim riset Stockbit Sekuritas.

    Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Pastikan untuk melakukan analisis menyeluruh sebelum membeli atau menjual saham. Anugerahslot tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi Anda.

  • Saham BRIS Stabil, Isu Pemisahan dari Mandiri Muncul ke Permukaan

    Saham BRIS Stabil, Isu Pemisahan dari Mandiri Muncul ke Permukaan

    Serratalhadafc.com – Pada perdagangan Kamis, 5 Juni 2025, saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) terpantau bergerak stabil di level 2.550, tanpa perubahan dari penutupan hari sebelumnya. Saham BRIS sempat diperdagangkan pada kisaran 2.540 hingga 2.600, setelah dibuka di level 2.580.

    Secara mingguan, saham BRIS mencatat penurunan 13,51%, dan secara year to date (YTD) turun sebesar 8,27%. Meski begitu, para analis menilai bahwa kondisi ini tidak mencerminkan kinerja fundamental perusahaan, yang dinilai masih kuat dan stabil.

    “Yang namanya investasi itu, kalau naik tinggi, dilakukan profit taking. Ketika turun, it’s time to buy,” ujar Wisnu, salah satu petinggi BSI, kepada wartawan Anugerahslot pada Rabu (4/6/2025).

    Kinerja Fundamental Tetap Kuat Meski Saham Melemah

    Pelemahan harga saham BSI dinilai sebagai bagian dari dinamika pasar yang wajar pasca pembagian dividen. Para pelaku pasar kerap melakukan aksi ambil untung (profit taking), yang menyebabkan tekanan sementara pada harga saham.

    Namun demikian, prospek jangka panjang BRIS dinilai tetap positif, terutama dengan fundamental perusahaan yang tetap sehat dan target bisnis yang terus dikejar.

    Isu Pemisahan BSI dari Bank Mandiri

    Isu pemisahan BSI dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) kembali mencuat. Pihak BSI akhirnya buka suara, meski belum memberikan kejelasan lebih lanjut. Wisnu menegaskan bahwa hal tersebut sepenuhnya menjadi ranah pemegang saham.

    “So far itu ranahnya pemegang saham, karena itu ranahnya pemegang saham kita tunggu aja,” ujar Wisnu.

    Selain itu, Wisnu juga menolak untuk berspekulasi mengenai pengaruh akuisisi oleh PT BPI Danantara terhadap performa perusahaan. Ia menegaskan bahwa pihak manajemen tetap fokus pada penguatan kinerja internal dan pencapaian target bisnis.

    Jika rencana pemisahan benar terjadi, BSI diperkirakan akan berada langsung di bawah kendali BPI Danantara, bukan lagi sebagai bagian dari Bank Mandiri.

    BSI Bidik Penyaluran Pembiayaan Rp310 Triliun di 2025, Tumbuh 16,5% dari Tahun Lalu

    PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menetapkan target ambisius untuk menyalurkan pembiayaan sebesar Rp310 triliun pada tahun 2025. Angka ini mencerminkan pertumbuhan tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 16,54% dibandingkan dengan capaian pembiayaan pada tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp266 triliun.

    Target tersebut dipasang meski Bank Indonesia (BI) telah merevisi proyeksi pertumbuhan pembiayaan syariah secara nasional menjadi lebih konservatif, dari 11–13% menjadi 8–11% untuk tahun 2025.

    “Kita belum ada penurunan target, dan kalau pun nanti ada revisi akan diumumkan setelah mendapatkan persetujuan regulator,” ujar Wisnu, salah satu eksekutif BSI.

    BSI International Expo Jadi Strategi Kunci

    Salah satu strategi utama BSI untuk mendukung pencapaian target ini adalah melalui penyelenggaraan BSI International Expo 2025. Acara tersebut dijadwalkan berlangsung pada 26–29 Juni 2025 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.

    Expo ini diharapkan menjadi sarana untuk memperkuat ekosistem halal nasional sekaligus memperluas jangkauan pembiayaan syariah ke berbagai sektor ekonomi prioritas.

    BSI Dorong Business Matching dan Pembiayaan Korporasi Lewat BSI International Expo 2025

    Melalui ajang BSI International Expo 2025, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menargetkan terciptanya business matching antara pelaku UMKM dan mitra strategis. Tak hanya fokus pada skala usaha kecil dan menengah, BSI juga membuka peluang untuk penyaluran pembiayaan besar, termasuk dalam bentuk sindikasi korporasi.

    Eksekutif BSI, Wisnu, menyoroti pentingnya pembiayaan korporasi sebagai motor pertumbuhan. Menurutnya, saat ini proporsi pembiayaan korporasi masih relatif kecil dibandingkan segmen ritel.

    “Dari total pembiayaan nasional, 70 persen masih didominasi segmen ritel, dan hanya 30 persen untuk korporasi,” jelasnya.

    Wisnu menambahkan, BSI menjadikan pembiayaan korporasi sebagai pintu masuk (door opener) untuk memperluas pembiayaan ke sektor ritel dan konsumer.

    “Strategi kami menjadikan pembiayaan korporasi sebagai anchor, karena kami menilai bukan hanya perusahaannya, tapi juga ekosistem dan rantai nilainya (value chain),” ujarnya.

    BI Tetap Optimistis terhadap Ekonomi Syariah

    Sementara itu, Bank Indonesia (BI) telah merevisi proyeksi pertumbuhan pembiayaan syariah tahun 2025 mengikuti arah pertumbuhan ekonomi nasional yang kini berada di kisaran 4,6–5,4 persen.

    Meski begitu, BI menegaskan bahwa prospek jangka panjang sektor ekonomi dan keuangan syariah tetap menjanjikan, seiring dengan semakin luasnya ekosistem halal dan peningkatan literasi keuangan syariah di masyarakat.

  • Saham PSAB Melejit, Naik 21,40% di Tengah Aliran Dana Asing

    Saham PSAB Melejit, Naik 21,40% di Tengah Aliran Dana Asing

    Serratalhadafc.com – Saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) kembali menunjukkan performa impresif pada perdagangan hari ini, Rabu, 4 Juni 2025. Hingga berita ini diturunkan, saham PSAB tercatat menguat sebesar 21,40% ke level Rp 590. Dalam sepekan terakhir, saham ini telah mencatat kenaikan 85,13%, dan sejak awal tahun (year to date/YTD), lonjakannya telah mencapai 139,75%.

    Sehari sebelumnya, pada Selasa, 3 Juni 2025, PSAB ditutup menguat tajam sebesar 24,62% ke posisi Rp 486, bahkan menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA). Pergerakan signifikan tersebut langsung menjadi sorotan Anugerahslot pelaku pasar dan ramai dibicarakan di berbagai forum komunitas investasi.

    Tak hanya investor domestik yang antusias, minat dari investor asing juga terlihat meningkat. Pada 3 Juni, tercatat terjadi aksi beli bersih (net buy) dari investor asing sebesar Rp 52 miliar. Masuknya dana asing ini dinilai sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek emiten, meskipun volatilitas harga yang tinggi tetap menyisakan unsur spekulatif.

    “PSAB sudah menguat sekitar 50% dalam waktu singkat. Ini merupakan lonjakan yang sangat luar biasa,” ujar Mino, Team Leader Retail Research dari CGS International Sekuritas Indonesia, Rabu (4/6/2025).

    Analisis Teknikal Saham PSAB

    Dari sisi teknikal, PSAB diperkirakan akan bergerak dalam kisaran support di level Rp 450 dan Rp 414, serta resistance di area Rp 525 hingga Rp 560.

    Dengan kenaikan yang tergolong sangat agresif dalam waktu singkat, potensi koreksi jangka pendek pun perlu diperhatikan. Risiko tekanan jual bisa meningkat apabila saham ini gagal menembus atau bertahan di atas area resistance tersebut.

    “Untuk hari ini, secara teknikal, PSAB berpeluang bergerak dalam rentang support 450–414 dan resistance 525–560,” tambah Mino.

    Saham PSAB Melonjak di Tengah Spekulasi Akuisisi, Manajemen Kembali Bantah Isu

    Saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) kembali menarik perhatian pasar setelah mencatatkan lonjakan harga signifikan. Pada perdagangan Rabu, 4 Juni 2025, saham PSAB terpantau melonjak 21,40% ke level Rp 590. Dalam sepekan, saham ini telah menguat 85,13%, sementara secara year to date (YTD), kenaikannya mencapai 139,75%.

    Sehari sebelumnya, pada Selasa (3/6), PSAB ditutup melonjak 24,62% ke posisi Rp 486 dan menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA). Kenaikan tajam ini memicu perbincangan luas di kalangan pelaku pasar dan komunitas investasi.

    Rumor Akuisisi Jadi Pemicu Lonjakan?

    Kuat dugaan bahwa sentimen positif tersebut dipicu oleh kembalinya rumor akuisisi PSAB oleh Grup Sinar Mas dan PT BUMA International Tbk (DOID). Keduanya disebut-sebut tengah berupaya mengambil alih sekitar 92,5% saham PSAB yang saat ini dikuasai oleh Jimmy Budiarto, pemegang saham mayoritas perusahaan.

    Namun hingga kini, tidak ada konfirmasi resmi mengenai kebenaran kabar tersebut. Pihak manajemen PSAB sendiri telah kembali membantah rumor akuisisi, sebagaimana pernah mereka lakukan pada tahun 2024 ketika isu serupa mencuat.

    “Sebenarnya rumor itu sudah pernah muncul di tahun 2024, dan itu sudah dibantah oleh manajemen bahwa itu tidak benar,” ujar Mino, Team Leader Retail Research dari CGS International Sekuritas Indonesia.

    Dana Asing Masuk, Pasar Tetap Spekulatif

    Menariknya, meski rumor belum terverifikasi, minat pasar terhadap saham ini meningkat. Pada 3 Juni 2025, tercatat investor asing melakukan net buy senilai Rp 52 miliar, mencerminkan optimisme terhadap potensi perusahaan atau spekulasi jangka pendek yang sedang terjadi.

    Teknikal: Waspadai Koreksi Setelah Kenaikan Tajam

    Secara teknikal, saham PSAB diperkirakan akan bergerak dalam kisaran support di Rp 450 dan Rp 414, serta resistance pada Rp 525 hingga Rp 560. Dengan harga saat ini berada di atas resistance, potensi koreksi jangka pendek cukup tinggi jika tidak ada katalis positif lanjutan.

    🔍 Kesimpulan: Antara Spekulasi dan Realita

    Kenaikan saham PSAB saat ini tampaknya lebih banyak ditopang oleh sentimen pasar dan rumor, bukan pengumuman fundamental resmi. Meskipun manajemen sudah membantah isu akuisisi, pasar tetap bereaksi agresif terhadap potensi konsolidasi.

    Investor disarankan tetap waspada dan mempertimbangkan risiko koreksi teknikal, terutama bagi mereka yang masuk di harga tinggi. Sebagai tambahan, transparansi dari manajemen dalam waktu dekat akan sangat menentukan arah pergerakan saham selanjutnya.

    Laba Bersih Melonjak 412%, Kinerja Cemerlang Dorong Saham PSAB Meroket

    Saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) terus mencatatkan penguatan signifikan, didorong oleh sejumlah katalis positif, salah satunya adalah laporan keuangan kuartal I 2025 yang menunjukkan lonjakan laba bersih luar biasa.

    Perusahaan membukukan laba bersih sebesar USD 11,45 juta, atau naik 412% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar USD 2,24 juta. Kinerja keuangan yang impresif ini sebagian besar ditopang oleh lonjakan harga emas global dalam beberapa bulan terakhir.

    “Kinerja keuangannya ini naiknya sangat luar biasa. Jadi karena harga emasnya naik signifikan, maka dengan asumsi yang lain ceteris paribus, ini sangat berdampak ke laba bersih,” ungkap Mino, Team Leader Retail Research dari CGS International Sekuritas Indonesia.

    Harga Emas Melejit, Dorong Optimisme Pasar

    Dalam dua hari terakhir, harga emas dunia naik hampir 5%, dan secara year-to-date (YTD) telah menguat sekitar 28%, menyentuh level USD 3.353 per ons. Kondisi ini menjadi angin segar bagi perusahaan tambang emas seperti PSAB, yang secara langsung menikmati peningkatan margin profit tanpa perlu meningkatkan produksi secara signifikan.

    Dengan asumsi operasional dan biaya tetap stabil, kenaikan harga emas memberi dampak langsung terhadap peningkatan pendapatan dan laba bersih perusahaan. Hal inilah yang kemudian mendorong ekspektasi pasar terhadap prospek PSAB di sisa tahun 2025.

    Sentimen Tambahan Perkuat Momentum Saham

    Selain kinerja keuangan yang solid, saham PSAB juga terdorong oleh rumor akuisisi oleh Grup Sinar Mas dan DOID, meskipun kabar tersebut telah dibantah oleh manajemen. Di sisi lain, aliran dana asing pun turut menambah tekanan beli, dengan net buy tercatat mencapai Rp 52 miliar pada 3 Juni 2025.

    🔍 Kesimpulan: Kombinasi Fundamental & Sentimen Dorong Lonjakan PSAB

    Lonjakan saham PSAB tidak hanya dipicu oleh spekulasi pasar, tetapi juga didukung oleh fundamental yang kuat, terutama dari pertumbuhan laba yang luar biasa pada kuartal pertama 2025. Jika tren harga emas tetap menguat, PSAB berpotensi mempertahankan kinerja positifnya hingga akhir tahun.

    Meski begitu, investor tetap disarankan untuk mencermati risiko koreksi teknikal setelah kenaikan tajam dalam waktu singkat, terutama jika katalis eksternal seperti harga emas atau isu akuisisi mengalami perubahan.

  • Perkembangan Pengguna Jasa Bursa Karbon IDXCarbon

    Perkembangan Pengguna Jasa Bursa Karbon IDXCarbon

    Serratalhadafc.com – Hingga saat ini terdapat 112 pengguna jasa karbon terdaftar.

    111 di antaranya merupakan pengguna lokal (badan hukum Indonesia).

    1 pengguna adalah pihak asing (badan hukum luar negeri).

    Pernyataan ini disampaikan oleh Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Anugerahslot Pasar Modal, Keuangan, Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (KE PMDK).

    📌 Definisi Pengguna Jasa Karbon:
    Pihak yang memiliki hak menggunakan sistem dan/atau sarana dari penyelenggara bursa karbon, baik badan hukum Indonesia maupun asing. Mereka wajib bertanggung jawab atas kebenaran dokumen dan data saat proses pendaftaran.

    🔄 Integrasi Sistem Emisi Ketenagalistrikan

    • Saat ini dilakukan integrasi antara:
      • Aplikasi Apple Gatrik (Kementerian ESDM) – untuk perhitungan dan pelaporan emisi sektor kelistrikan.
      • Sistem Registrasi Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN-PPI) – milik Kementerian Lingkungan Hidup.

    🎯 Tujuan Integrasi:

    Verifikasi nasional penurunan emisi gas rumah kaca (GRK).

    Mendukung transparansi data,

    Pelaporan terintegrasi, dan

    Capaian IDXCarbon Sejak Peluncuran (26 Sept 2023 – 17 April 2025)

    🔹 Kinerja Transaksi

    • Volume transaksi:
      📊 1.598.703 ton CO₂ ekuivalen
    • Nilai transaksi:
      💰 Rp 77,91 miliar
    • Volume retirement (kredit karbon yang sudah dipensiunkan):
      979.834 ton CO₂

    🔹 Pertumbuhan Partisipasi

    • Awal peluncuran (Sept 2023): hanya 16 partisipan
    • Per April 2025: meningkat jadi 111 pengguna jasa
    • Partisipasi naik hampir 7 kali lipat

    🔹 Perbandingan Regional

    • IDXCarbon mencatat kinerja 7x lebih besar dibanding Bursa Karbon Malaysia yang diluncurkan di waktu hampir bersamaan.

    🌱 Peran Strategis dalam Target Iklim Nasional

    IDXCarbon mendukung:

    • 🎯 Nationally Determined Contribution (NDC)
    • 🌍 Net Zero Emission (NZE) 2060
    • 📌 Investasi hijau dan transisi energi berkelanjutan

    🗣️ Pernyataan Direktur Utama BEI, Iman Rachman:

    “Jumlah transaksi memang belum maksimal, namun secara regional IDXCarbon termasuk kompetitif. Kami melihat tren pertumbuhan yang kuat, terutama dalam aktivitas retirement.”

    🌏 Posisi Regional IDX Carbon

    • 📊 2x lebih besar dibandingkan Bursa Karbon Jepang
    • 🇲🇾 7x lebih besar dibandingkan Bursa Karbon Malaysia
    • 🇹🇭🇻🇳 Thailand dan Vietnam masih dalam tahap perancangan bursa karbon

    📌 Hal ini menempatkan Indonesia sebagai pemain utama di pasar karbon regional Asia Tenggara.


    🌐 Ekspansi ke Pasar Internasional

    Perdagangan Internasional Resmi Dibuka

    • 🗓️ 20 Januari 2025: IDX Carbon mulai memperdagangkan unit karbon Indonesia ke pihak luar negeri
    • 📋 Dengan otorisasi dari Kementerian Lingkungan Hidup
    • 🌎 Disambut positif oleh pelaku pasar internasional

    💬 Pernyataan Iman Rachman (Direktur Utama BEI):

    “Fokus kami saat ini adalah membuka perdagangan karbon Indonesia seluas-luasnya ke pasar global dan menghadapi era perdagangan karbon internasional.”


    🤝 Kerja Sama & Standarisasi Internasional

    Dalam proses:

    • 🛠️ Mutual Recognition Agreement dengan lembaga standar global:
      • Verra
      • Gold Standard

    🌍 Kunjungan Strategis:

    • IDX Carbon mengunjungi Bursa Karbon Korea
      • Bahas potensi kerja sama di bidang carbon capture and storage (CCS)
      • Diskusi penting: MOU antarnegara dibutuhkan agar transaksi lintas negara sah secara hukum dan teknis

    “Walaupun otorisasi diberikan oleh kementerian di tiap negara, tetap dibutuhkan MOU agar misalnya perusahaan di Korea dapat membeli karbon dari Indonesia.”


    🚀 Apa Selanjutnya?

    IDX Carbon tengah bergerak:

    • Meningkatkan keanggotaan internasional
    • Membangun platform global terintegrasi
    • Menjadi hub regional untuk perdagangan karbon Asia

  • Hybe Dirikan Kantor Pertama di China, Tanda Mencairnya Hubungan K-Pop dan Beijing

    Hybe Dirikan Kantor Pertama di China, Tanda Mencairnya Hubungan K-Pop dan Beijing

    Serratalhadafc.com – Agensi K-pop terbesar Korea Selatan, Hybe, resmi membuka kantor pertamanya di China. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa hubungan dingin antara industri hiburan Korea dan pemerintah Tiongkok mulai mencair.

    Mengutip laporan Anugerahslot pada Jumat (30/5/2025), pendirian kantor ini terjadi di tengah tanda-tanda bahwa Beijing mulai mencabut larangan tidak resmi terhadap pertunjukan dan konten K-pop di negara tersebut. Diketahui, sejak beberapa tahun terakhir, China membatasi penyebaran budaya Korea di ruang publik sebagai buntut dari ketegangan diplomatik antara kedua negara.

    Menurut seorang pejabat Hybe, rencana ekspansi ke China sebenarnya telah disusun sejak tahun lalu. Kantor resmi diluncurkan pada 2 April 2025, dan menjadi cabang luar negeri keempat Hybe setelah Jepang, Amerika Serikat, dan satu wilayah lainnya.

    Namun, meskipun membuka kantor operasional, Hybe tidak berencana mendebutkan grup K-pop baru di China dalam waktu dekat. Berbeda dari strategi mereka di Jepang dengan &Team atau Katseye di AS, ekspansi ke China tampaknya akan difokuskan pada pengelolaan artis, distribusi konten, dan kerja sama lokal.

    Langkah ini juga beriringan dengan sinyal positif dari pemerintah kedua negara. China sebelumnya mengumumkan pembebasan visa bagi warga Korea Selatan pada November 2024, sementara Korea Selatan membalas dengan rencana pembebasan visa bagi turis asal China mulai kuartal ketiga 2025. Keputusan ini menandai fase baru hubungan bilateral yang sempat tegang.

    Dalam perkembangan lain, Hybe juga mengumumkan rencana menjual seluruh sahamnya di SM Entertainment kepada Tencent Music, raksasa teknologi dan hiburan asal China. Penjualan ini dapat dibaca sebagai strategi memperkuat jaringan bisnis di pasar Tiongkok melalui mitra lokal.

    Kembalinya K-pop ke China bisa menjadi angin segar bagi industri hiburan Korea yang sangat bergantung pada pasar global. Dengan konsumsi domestik yang melemah dan hubungan dagang antara AS-China yang belum menunjukkan hasil konkret, pelonggaran terhadap K-pop bisa menjadi strategi ekonomi dan diplomatik yang saling menguntungkan.

    K-pop Menuju Kebangkitan di China, Tapi Jalan Masih Berliku

    Langkah Hybe membuka kantor resmi di China disambut sebagai babak baru dalam hubungan antara industri K-pop Korea Selatan dan pasar Tiongkok. Namun menurut Junhyun Kim, Analis Riset Hiburan dan Gim Internet Korea di HSBC, jalan menuju pemulihan penuh masih penuh tantangan.

    Kim menilai bahwa pendirian kantor oleh Hybe dan penjualan saham SM Entertainment ke Tencent Music merupakan bukti semakin eratnya hubungan antara raksasa hiburan Korea dan perusahaan teknologi besar China. Ia menambahkan, bila tren ini berlanjut, platform penggemar seperti Weverse (Hybe) dan Dear U Bubble dapat mengalami lonjakan pengguna di China.

    Namun, dinamika di lapangan tak sepenuhnya stabil. Konser grup K-pop Epex yang rencananya digelar di Fuzhou pada 31 Mei 2025 harus dibatalkan mendadak karena “masalah di wilayah setempat.” Konser ini sedianya menjadi pertunjukan pertama grup idola Korea murni di China sejak tahun 2016, sebelum larangan tidak resmi diberlakukan.

    Pasar pun bereaksi. Saham Hybe turun 2,21% ke posisi 266.000 won Korea Selatan pada perdagangan Jumat ini. Kendati demikian, para analis tetap optimis bahwa pelonggaran terhadap K-pop akan memberi dorongan signifikan pada industri hiburan Korea.

    Dalam laporan terpisah, Shinhan Securities mencatat bahwa tidak seperti sektor seperti semikonduktor atau otomotif yang sangat terpengaruh oleh kebijakan proteksionis, industri K-pop relatif tahan terhadap hambatan perdagangan internasional.

    “Berbeda dengan semikonduktor atau otomotif, konsumsi K-pop jauh lebih tidak sensitif terhadap tindakan proteksionis,” tulis Shinhan dalam catatan pada April.

    Hal ini diperkuat oleh CGS, yang menjelaskan bahwa penggerak utama pendapatan seperti streaming, konser, dan konten digital penggemar bersifat tak berwujud dan digital, menjadikannya tidak terpengaruh oleh tarif lintas batas.

    “Meskipun penggemar membeli album dan merchandise, paparan terhadap tarif sangat kecil karena harga satuannya rendah dan basis penggemar sangat loyal,” tambah CGS.

    Dengan kebijakan visa yang mulai dilonggarkan, pembukaan kantor agensi, dan kerja sama strategis dengan perusahaan lokal, banyak pihak menilai bahwa China bisa menjadi pasar pertumbuhan besar berikutnya untuk K-pop, asalkan ketidakpastian regulasi bisa diminimalkan.

    Bursa Asia Melemah, Investor Cemas Dampak Tarif Timbal Balik dan Inflasi AS

    Bursa saham Asia Pasifik melemah pada perdagangan Jumat, 30 Mei 2025, di tengah perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS), kekhawatiran akan inflasi yang terus membayangi, dan ketidakpastian hukum terkait tarif “timbal balik” yang diberlakukan oleh Presiden AS, Donald Trump.

    Mengutip CNBC, putusan Pengadilan Perdagangan Internasional AS pada Rabu malam menyatakan bahwa Trump melampaui kewenangan konstitusionalnya ketika memberlakukan tarif resiprokal terhadap negara-negara tertentu. Putusan tersebut memerintahkan agar pungutan tarif dibatalkan.

    Namun, pemerintahan Trump segera mengajukan banding, dan pengadilan banding kembali memberlakukan tarif tersebut pada Kamis sore. Pemerintah juga disebut sedang mempertimbangkan pengajuan ke Mahkamah Agung untuk menghentikan putusan awal paling cepat pada Jumat ini.

    Sementara itu, pembicaraan perdagangan antara AS dan China dikabarkan mengalami stagnasi. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam wawancara dengan Fox News menyebut bahwa perundingan dengan Beijing saat ini “sedikit terhenti.”

    Kondisi geopolitik yang tidak menentu ini mendorong tekanan pada bursa saham utama di Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang anjlok 1,22% dan ditutup di level 37.965,10, sedangkan Topix turun 0,37% ke posisi 2.801,57. Penurunan terjadi seiring investor mencermati serangkaian rilis data ekonomi domestik dan global.

    Kekhawatiran investor diperparah oleh laju inflasi AS yang belum menunjukkan penurunan signifikan, menciptakan ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed dan dampaknya terhadap arus modal global.

    Dengan pembicaraan perdagangan global yang mandek, tarif yang kembali diberlakukan, dan pertumbuhan ekonomi AS yang melambat, sentimen pasar tampaknya akan tetap berhati-hati dalam waktu dekat. Investor kini menantikan arah kebijakan lanjutan, baik dari Washington maupun bank sentral utama dunia.

  • Bank Sentral Rusia Izinkan Produk Investasi Kripto untuk Investor Terakreditasi

    Bank Sentral Rusia Izinkan Produk Investasi Kripto untuk Investor Terakreditasi

    Serratalhadafc.com – Bank Sentral Rusia (Bank Rusia) secara resmi mengumumkan bahwa lembaga keuangan kini dapat menawarkan instrumen keuangan berbasis kripto tertentu kepada investor terakreditasi. Kebijakan baru ini diumumkan pada Rabu, 28 Mei 2025, dan menandai langkah penting dalam regulasi aset digital di Rusia.

    Mengutip Anugerahslot, Jumat (30/5/2025), bank-bank di Rusia kini diizinkan menyediakan berbagai produk investasi yang terhubung dengan kripto, termasuk derivatif kripto, sekuritas digital, dan aset keuangan digital (DFA) lainnya yang mengacu pada harga mata uang kripto.

    Namun, Bank Rusia menegaskan bahwa semua produk tersebut tidak boleh melibatkan pengiriman atau kepemilikan langsung aset kripto seperti Bitcoin atau Ethereum. Artinya, investor hanya dapat berinvestasi secara tidak langsung melalui instrumen finansial yang dipatok pada nilai kripto, tanpa benar-benar menyimpan koin digital itu sendiri.

    Langkah ini beriringan dengan laporan terbaru Bank Rusia yang mencatat peningkatan 51% dalam arus masuk investasi aset kripto oleh penduduk Rusia selama kuartal pertama 2025, mencapai total sekitar 7,3 triliun rubel atau setara Rp1,4 kuadriliun.

    Bank Besar Langsung Meluncur dengan Produk Kripto

    Beberapa bank besar di Rusia langsung merespons kebijakan ini dengan menawarkan produk kripto kepada nasabahnya. Salah satunya adalah T-Bank (sebelumnya dikenal sebagai Tinkoff Bank), salah satu bank swasta terbesar di negara tersebut.

    Pada 29 Mei 2025, T-Bank resmi meluncurkan produk aset keuangan digital (DFA) yang dikaitkan dengan harga Bitcoin. Produk ini memungkinkan investor berinvestasi dalam kripto menggunakan mata uang rubel, tanpa harus membuka akun di bursa kripto atau mengelola dompet digital secara mandiri.

    “Alat ini memungkinkan Anda berinvestasi dalam mata uang kripto dalam bentuk rubel melalui aplikasi yang sudah dikenal, juga dengan aman dan dalam kerangka hukum Federasi Rusia,” jelas pernyataan resmi dari T-Bank.

    Produk ini diterbitkan melalui Atomyze, platform tokenisasi yang mendapat dukungan dari pemerintah Rusia, dan hanya tersedia untuk investor yang telah terakreditasi secara resmi.

    Pendekatan Ketat Masih Berlaku untuk Investasi Langsung Kripto

    Meski Bank Sentral Rusia telah memberi lampu hijau bagi lembaga keuangan lokal untuk menawarkan produk investasi berbasis kripto, pendekatan hati-hati tetap menjadi pedoman utama dalam regulasi aset digital di negara tersebut.

    Dalam pernyataan resminya, Bank Rusia menegaskan bahwa mereka tetap tidak merekomendasikan lembaga keuangan maupun nasabahnya untuk berinvestasi secara langsung dalam mata uang kripto seperti Bitcoin atau Ethereum.

    “Bank Rusia masih tidak merekomendasikan lembaga keuangan dan klien mereka untuk berinvestasi langsung dalam mata uang kripto,” tegas otoritas keuangan tersebut.

    Meskipun demikian, pemerintah Rusia tengah membahas kemungkinan penerapan rezim eksperimental, yang akan memberi ruang bagi investor tertentu untuk memperdagangkan aset kripto secara langsung. Diskusi ini mencerminkan dinamika baru dalam lanskap regulasi kripto Rusia, dengan potensi pembukaan akses lebih luas namun tetap dalam kerangka pengawasan yang ketat.

    Langkah ini menunjukkan upaya pemerintah Rusia untuk menyeimbangkan antara inovasi teknologi finansial dan stabilitas sistem keuangan, sembari menjaga kontrol atas aliran modal digital lintas batas.

    Bitcoin Hampir Habis Ditambang, Sisa Kurang dari 7%

    Hingga Mei 2025, tercatat sekitar 19,6 juta Bitcoin (BTC) telah berhasil ditambang dari total suplai maksimal sebesar 21 juta. Jumlah ini setara dengan 93,3% dari seluruh pasokan Bitcoin yang tersedia di dunia.

    Artinya, hanya tersisa sekitar 1,4 juta BTC yang belum ditambang — dan proses penambangannya akan berlangsung sangat lambat dibandingkan sebelumnya.

    Menurut laporan Coin Telegraph, hal ini disebabkan oleh mekanisme halving, yaitu sistem bawaan Bitcoin yang secara otomatis memotong setengah hadiah penambangan setiap 210.000 blok, atau sekitar setiap empat tahun.

    Saat pertama kali diluncurkan pada 2009, hadiah penambangan per blok adalah 50 BTC. Namun setelah beberapa kali halving, hadiah ini terus menyusut secara eksponensial:

    • 2009: 50 BTC
    • 2012: 25 BTC
    • 2016: 12,5 BTC
    • 2020: 6,25 BTC
    • 2024: 3,125 BTC (pasca halving terbaru)

    Akibat dari struktur ini, lebih dari 87% dari seluruh Bitcoin telah ditambang hanya dalam waktu 11 tahun (hingga 2020). Namun, untuk menambang sisanya yang hanya 6,7%, akan memerlukan waktu lebih dari 100 tahun.

    Masih mengutip Coin Telegraph, diperkirakan 99% dari seluruh Bitcoin akan selesai ditambang pada tahun 2035. Setelahnya, sisa 1% terakhir akan ditambang secara perlahan hingga sekitar tahun 2140, sesuai dengan desain algoritma Bitcoin.

  • Astra Agro Rilis 3 Varietas Bibit Sawit Tahan Ganoderma

    Astra Agro Rilis 3 Varietas Bibit Sawit Tahan Ganoderma

    Serratalhadafc.com – PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) kembali mencetak inovasi di sektor perkebunan dengan meluncurkan tiga varietas bibit unggul kelapa sawit terbaru yang memiliki ketahanan terhadap penyakit Ganoderma boninense, salah satu momok utama dalam industri sawit.

    Dengan peluncuran ini, jumlah total bibit unggul milik Astra Agro kini menjadi enam varietas.

    🔬 Varietas Terbaru: “MRG” Series

    Tiga varietas baru tersebut adalah:

    • DxP AAL Nirmala MRG
    • DxP AAL Lestari MRG
    • DxP AAL Sejahtera MRG

    Ketiganya dinyatakan lulus Sidang Pelepasan Varietas Tanaman Perkebunan yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan di Bogor pada Kamis, 16 Mei 2025.

    Varietas baru ini merupakan pengembangan dari bibit unggulan sebelumnya, yaitu:

    • AAL Nirmala
    • AAL Lestari
    • AAL Sejahtera
      yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 2020.

    🌱 Keunggulan Utama: Tahan Terhadap Ganoderma

    Keunggulan signifikan dari seri “MRG” ini adalah sifatnya yang moderat resisten terhadap penyakit busuk pangkal batang akibat Ganoderma boninense — sejenis cendawan yang menyebabkan pelapukan jaringan dalam pohon dan berujung pada kematian tanaman secara perlahan.

    Penyakit ini dikenal sebagai tantangan besar dalam perkebunan kelapa sawit karena sulit ditangani dan bisa menurunkan produktivitas secara drastis.

    🗣️ Tanggapan Kementerian Pertanian

    Direktur Perbenihan Perkebunan Kementerian Pertanian, Ebi Rulianti, menyambut baik langkah Astra Agro sebagai inovasi yang dibutuhkan industri.

    “Varietas DxP AAL Nirmala MRG, DxP AAL Lestari MRG, dan DxP AAL Sejahtera MRG layak dilepas karena dinilai menjadi solusi dalam penanganan penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Ganoderma boninense,” ujar Ebi Rulianti, dikutip dari keterangan resmi, Rabu (28/5/2025).

    ✍️ Catatan:

    Peluncuran varietas ini tidak hanya memperkuat daya saing Astra Agro di industri sawit nasional, tetapi juga berpotensi meningkatkan produktivitas petani dan menjaga keberlanjutan perkebunan sawit Indonesia dari ancaman penyakit menahun.

    Astra Agro Cetak Terobosan Bibit Tahan Ganoderma

    Direktur Perbenihan Perkebunan Kementerian Pertanian, Ebi Rulianti, mengapresiasi keberhasilan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dalam merilis tiga varietas benih sawit unggulan yang tahan terhadap penyakit Ganoderma boninense. Ia menilai, pencapaian ini tak lepas dari kekuatan tim riset dan pengembangan Astra Agro yang dinilai sangat kompeten.

    “Astra Agro memiliki tim penelitian dan pengembangan yang mumpuni. Mereka berhasil merilis benih unggul dalam waktu yang lebih singkat dibanding standar umumnya,” ujar Ebi.

    Sebagai catatan, proses pelepasan varietas kelapa sawit yang memiliki ketahanan terhadap Ganoderma biasanya memakan waktu 15 hingga 20 tahun. Namun Astra Agro mampu menyelesaikannya dalam waktu yang jauh lebih cepat, berkat inovasi dan pendekatan teknologi terkini.

    Perusahaan ini juga merupakan bagian dari Konsorsium Genom Sawit Indonesia (KGSI), yang selama ini berfokus pada peningkatan kualitas genetika sawit nasional, termasuk dalam menghadapi ancaman penyakit.

    Selain resisten terhadap Ganoderma, ketiga varietas terbaru — DxP AAL Nirmala MRG, DxP AAL Lestari MRG, dan DxP AAL Sejahtera MRG — juga memiliki keunggulan produktivitas tinggi dan tidak menghasilkan buah kempet (buah yang gagal berkembang sempurna).

    “Di Indonesia, hampir tidak ada lahan yang benar-benar bebas dari Ganoderma. Dengan hadirnya varietas baru ini, kami berharap perusahaan dan para petani bisa memperoleh hasil produksi optimal. Selamat dan sukses untuk Astra Agro,” kata Ebi menutup pernyataannya.

    Astra Agro Kembangkan Bibit Sawit Tahan Ganoderma, Cegah Penurunan Produksi

    Senior Vice President Research and Development Astra Agro Lestari, Cahyo Wibowo, menyatakan bahwa penyakit busuk pangkal batang akibat cendawan Ganoderma telah menyebar pesat di beberapa daerah Indonesia, seperti Sulawesi Barat dan Sumatera.

    “Kami berupaya menangani penyakit ini melalui penelitian dan pengembangan bibit unggul yang moderat tahan terhadap Ganoderma, serta menerapkan kultur teknis yang baik dengan hasil produksi tinggi,” ujar Cahyo.

    Sebagai pemegang gelar doktoral, Cahyo menjelaskan bahwa penyakit ini dapat dengan cepat membunuh tanaman kelapa sawit, menyebabkan penurunan tajam populasi tanaman per hektar (SPH) dan berimbas pada penurunan produksi tandan buah segar (TBS) yang signifikan.

    Karena itu, tim Research and Development Astra Agro memandang perlu pembaruan varietas unggul dengan keunggulan baru yakni ketahanan terhadap Ganoderma. Selain itu, varietas terbaru ini juga mampu mencegah masalah partenokarpi atau buah kempet, yang selama ini menjadi salah satu kendala dalam produktivitas.

    Cahyo menambahkan, sex ratio—perbandingan bunga betina terhadap total bunga—pada varietas baru ini berada di kisaran 75% hingga 88%, sehingga mendukung penyerbukan alami tanpa perlu bantuan manual.

    Meski membawa keunggulan baru, ketiga varietas tersebut tetap mempertahankan kelebihan varietas sebelumnya, seperti produksi TBS yang tinggi dan kandungan minyak sawit yang lebih banyak.

    Dengan dirilisnya varietas ini, Astra Agro berharap segera menerapkan bibit unggul tersebut di kebun operasional, terutama di wilayah yang endemik terhadap penyakit Ganoderma, guna meminimalkan potensi kerugian produksi.

  • Cecabank dan Bit2Me Siap Tawarkan Layanan Kripto untuk Bank di Spanyol

    Cecabank dan Bit2Me Siap Tawarkan Layanan Kripto untuk Bank di Spanyol

    Serratalhadafc.com – Bank Spanyol Cecabank dan bursa kripto Bit2Me mengumumkan kerja sama strategis untuk menyediakan layanan aset kripto kepada lembaga keuangan tradisional. Kolaborasi ini bertujuan menghadirkan platform yang siap sesuai regulasi MiCA (Markets in Crypto Assets) Uni Eropa.

    Menanti Persetujuan Regulator

    Meski secara teknis platform sudah siap digunakan, implementasinya masih menunggu persetujuan dari regulator sekuritas Spanyol sebelum resmi diluncurkan.

    Fitur Layanan Platform

    Dalam pernyataan resminya, Bit2Me menjelaskan bahwa layanan mencakup:

    • Penyimpanan kripto (custody)
    • RTO (Receiving and Transmission of Orders) — penerimaan dan pengiriman pesanan
    • Pengelolaan lebih dari 100 aset kripto, termasuk data pasar, perdagangan, dan layanan dompet digital

    Sementara itu, Cecabank akan menyediakan:

    • Dukungan infrastruktur perbankan
    • Kepatuhan terhadap kerangka regulasi keuangan Spanyol dan Uni Eropa

    Kontribusi terhadap Adopsi Kripto di Industri Tradisional

    Inisiatif ini menunjukkan sinyal positif bahwa institusi keuangan tradisional mulai membuka diri terhadap teknologi blockchain dan aset digital. Kolaborasi ini juga diharapkan mempercepat adopsi kripto secara legal dan aman di kalangan perbankan.

    Cecabank dan Bit2Me Perkuat Akses Institusi Keuangan ke Pasar Kripto Eropa

    Direktur Cecabank, Aurora Cuadros, menyatakan bahwa kerja sama dengan bursa kripto Bit2Me merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi Cecabank sebagai penyedia referensi layanan pascaperdagangan untuk aset digital, sejalan dengan perannya di sektor penyimpanan mata uang fiat (FIAT).

    “Dengan aliansi ini, Cecabank memperkuat peta jalannya sebagai penyedia referensi layanan pascaperdagangan di aset digital, yang mencerminkan peran kami dalam penyimpanan FIAT,” ujar Cuadros.

    Platform Kripto Siap MiCA untuk Bank

    Platform hasil kolaborasi ini akan menyediakan:

    • Layanan yang patuh terhadap peraturan MiCA Uni Eropa
    • Alat yang fleksibel dan dapat disesuaikan untuk setiap lembaga keuangan
    • Akses yang cepat dan aman bagi bank-bank Eropa untuk masuk ke pasar kripto

    Platform ini memungkinkan lembaga keuangan untuk menjelajahi dunia kripto dengan dukungan regulasi, penyimpanan aman, serta manajemen data dan perdagangan yang dikelola sepenuhnya.

    BBVA Juga Masuki Pasar Kripto

    Cecabank bukan satu-satunya pemain di sektor perbankan Spanyol yang mengeksplorasi aset digital. BBVA, bank terbesar kedua di negara tersebut berdasarkan aset, berencana meluncurkan layanan perdagangan kripto yang memungkinkan nasabah membeli dan mengelola Bitcoin dan Ethereum secara langsung melalui platform perbankan mereka.

    Menariknya, layanan kustodian BBVA akan dikelola secara internal, tanpa keterlibatan penyedia pihak ketiga. Ini membuka peluang integrasi yang lebih erat antara aset digital dan layanan perbankan konvensional.

    📌 Catatan Penting:
    Disclaimer – Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan untuk berinvestasi. Segala keputusan investasi berada sepenuhnya di tangan pembaca. Lakukan riset dan analisis menyeluruh sebelum membeli atau menjual aset kripto. Serratalhadafc.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan maupun kerugian yang timbul dari keputusan investasi Anda.

    Harga Bitcoin Sentuh USD 109.185, Dominasi Pasar Capai 63,1%

    Harga Bitcoin (BTC) terus melanjutkan tren penguatan. Pada Senin pagi, BTC diperdagangkan di kisaran USD 109.185 per koin atau sekitar Rp 1,77 miliar (dengan asumsi kurs Rp 16.261 per USD). Dalam 24 jam terakhir, aset kripto terbesar ini mencatat kenaikan 1,01%, menambah reli positif yang sudah terjadi selama beberapa minggu terakhir.

    Volume dan Kapitalisasi Pasar

    Mengacu pada data Coinmarketcap per 26 Mei 2025:

    • Volume perdagangan harian: USD 48,52 miliar (~Rp 800 triliun)
    • Kapitalisasi pasar: USD 2,17 triliun
    • Suplai beredar: 19.869.871 BTC dari maksimum 21 juta BTC

    Bitcoin tetap menempati peringkat pertama dalam kapitalisasi pasar kripto, menegaskan posisinya sebagai aset digital paling dominan.

    Dominasi Pasar dan Sentimen Investor

    • Dominasi pasar: 63,1%
      Ini mencerminkan peningkatan preferensi investor terhadap BTC dibanding altcoin, terutama dalam situasi ketidakpastian ekonomi dan volatilitas pasar global.
    • Indeks Crypto Fear & Greed: 74 (Greed)
      Angka ini menunjukkan pasar sedang berada dalam fase optimisme tinggi, naik dari level 66 sehari sebelumnya. Ini menandakan bahwa sentimen investor terhadap kripto, khususnya Bitcoin, masih sangat positif.

    📊 Kesimpulan:
    Kenaikan harga dan dominasi pasar Bitcoin mengindikasikan bahwa BTC tetap menjadi pilihan utama investor dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Dengan jumlah suplai yang makin mendekati batas maksimum dan sentimen pasar yang kuat, arah pergerakan harga BTC dalam jangka pendek patut dicermati dengan seksama.

  • Saham Properti Masih Lesu Meski Suku Bunga Turun, Apa Penyebabnya?

    Saham Properti Masih Lesu Meski Suku Bunga Turun, Apa Penyebabnya?

    Serratalhadafc.com – Sektor properti di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mengalami tekanan sepanjang satu tahun terakhir. Padahal, Bank Indonesia (BI) telah memberikan stimulus lewat pemangkasan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada Mei 2025.

    Secara teori, penurunan suku bunga seharusnya menjadi angin segar bagi sektor properti. Pasalnya, sektor ini sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga karena terkait langsung dengan pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan investasi jangka panjang. Namun kenyataannya, pelonggaran moneter tersebut belum cukup untuk mendorong harga saham properti ke zona hijau.

    Banyak Faktor Penghambat

    Pengamat pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardhana, mengungkapkan bahwa lemahnya kinerja saham properti saat ini disebabkan oleh sejumlah faktor yang saling berkaitan.

    “Daya beli kelas menengah masih belum sepenuhnya pulih setelah pandemi. Ditambah dengan inflasi yang tetap tinggi dan biaya hidup yang membebani, membuat masyarakat menahan diri untuk pembelian besar seperti rumah atau apartemen,” jelas Hendra pada Selasa (27/5/2025).

    Selain itu, meski BI telah memangkas suku bunga, penurunan ini belum sepenuhnya dirasakan oleh sektor riil, terutama dalam bentuk suku bunga KPR. Perbankan masih bersikap hati-hati dalam menyalurkan kredit, sehingga penurunan bunga belum efektif menggerakkan permintaan.

    Minim Katalis Positif

    Faktor lain yang membebani sektor properti adalah berakhirnya insentif fiskal seperti PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Tanpa stimulus baru dari pemerintah, sektor ini kekurangan dorongan tambahan untuk bangkit dari tekanan.

    Hendra juga menambahkan bahwa kekhawatiran investor terhadap oversupply hunian vertikal dan ruang komersial di wilayah Jabodetabek turut menekan prospek pertumbuhan pendapatan berulang (recurring income) bagi para pengembang.

    “Ketika suplai lebih besar dari permintaan, potensi pendapatan jangka panjang dari penyewaan atau penjualan menjadi tidak menarik bagi pasar,” ujar Hendra.

    Kesimpulan

    Turunnya suku bunga acuan memang penting, tapi belum cukup untuk membalikkan arah sektor properti yang masih dibayangi tantangan struktural. Selama tidak ada perbaikan nyata di sisi daya beli, penyaluran kredit, dan dukungan kebijakan fiskal, saham-saham properti kemungkinan akan tetap tertahan dalam tekanan.

    Di Tengah Lesunya Sektor Properti, Emiten Besar Ini Tetap Tangguh

    Meski sektor properti secara umum mengalami tekanan di pasar saham, tidak semua emiten bernasib sama. Sejumlah pemain besar justru mampu mempertahankan kinerja yang stabil, bahkan menunjukkan ketahanan bisnis yang kuat. Beberapa nama yang mencuat di antaranya adalah Ciputra Development (CTRA), Summarecon Agung (SMRA), dan Puradelta Lestari (DMAS).

    CTRA: Tumbuh Lewat Proyek Nasional

    Ciputra Development (CTRA) berhasil menjaga laju pertumbuhan marketing sales berkat proyek-proyek andalannya seperti CitraLand dan CitraRaya yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Diversifikasi geografis menjadi salah satu kekuatan utama CTRA dalam menghadapi tantangan sektor properti.

    SMRA: Kuat di Serpong dan Bekasi

    Summarecon Agung (SMRA) juga menunjukkan performa solid. Kawasan township Serpong dan Bekasi terbukti menjadi penyumbang utama pendapatan dan laba bersih perusahaan. Konsistensi pengembangan kawasan terpadu yang dilengkapi dengan fasilitas komersial dan residensial membuat SMRA tetap diminati pasar.

    “SMRA juga menunjukkan daya tahan kuat, terutama lewat township Serpong dan Bekasi yang menyumbang kontribusi besar terhadap pendapatan dan laba bersih,” kata pengamat pasar modal Hendra Wardhana.

    DMAS: Fokus di Kawasan Industri

    Sementara itu, Puradelta Lestari (DMAS) memperoleh keunggulan melalui fokusnya pada penjualan lahan industri yang dikenal memiliki margin tinggi. DMAS juga terlibat dalam pengembangan Greenland International Industrial Center (GIIC), yang kini menarik minat dari sektor-sektor strategis seperti data center dan industri otomotif.

    Sinyal Penting bagi Investor

    Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak semua saham properti sedang terpuruk. Emiten-emiten dengan fundamental kuat, proyek strategis, dan diversifikasi usaha mampu tetap bertahan bahkan di tengah tekanan makro. Hal ini penting menjadi pertimbangan bagi investor dalam menyusun strategi dan seleksi saham properti yang memiliki prospek jangka panjang.

    Valuasi Menarik, Saham Properti Unggulan Masih Undervalued

    Meski sektor properti belum pulih sepenuhnya, sejumlah saham emiten besar seperti Ciputra Development (CTRA), Summarecon Agung (SMRA), dan Puradelta Lestari (DMAS) menunjukkan valuasi yang sangat atraktif. Hal ini memberi peluang menarik bagi investor yang berburu saham undervalued dengan fundamental solid.

    PER Jauh di Bawah Rata-Rata Industri

    Berdasarkan data kinerja tahunan (annualized) 2025, ketiga saham ini diperdagangkan dengan Price to Earnings Ratio (PER) yang jauh di bawah rata-rata industri properti sebesar 15,8x:

    • CTRA: 6,9x
    • SMRA: 7,2x
    • DMAS: 4,8x

    Angka ini menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya mengapresiasi kekuatan kinerja dan prospek jangka panjang dari emiten-emiten tersebut.

    PBV Rendah, Masih Undervalued

    Dari sisi Price to Book Value (PBV) per kuartal I 2025, saham-saham ini juga terdiskon:

    • CTRA: 0,81x
    • SMRA: 0,61x
    • DMAS: 0,91x

    Sebagai perbandingan, rata-rata PBV sektor properti berada di level 0,94x. Artinya, ketiga saham ini masih berada di bawah nilai buku, padahal masih mencatatkan laba bersih, arus kas yang sehat, dan memiliki cadangan lahan strategis.

    PWON: Sudah Dihargai Lebih Tinggi

    Menariknya, saham Pakuwon Jati (PWON) yang memiliki pendapatan berulang dari segmen mal dan hotel, saat ini diperdagangkan pada valuasi yang lebih tinggi:

    • PER: 16x
    • PBV: 0,92x

    Kondisi ini menandakan bahwa ruang kenaikan saham PWON lebih terbatas dibandingkan CTRA dan SMRA yang saat ini justru dihargai lebih murah, namun tetap dibekali oleh fundamental kuat dan prospek pertumbuhan jangka panjang.

    “Bahkan bila dibandingkan dengan saham properti lain seperti Pakuwon Jati (PWON) yang sudah diperdagangkan pada PER 16x dan PBV 0,92x, valuasi CTRA dan SMRA terlihat jauh lebih menarik,” ungkap Hendra Wardhana, Founder Stocknow.id.

    Prospek Sektor Properti Masih Terbuka, Ini Syarat dan Saham yang Layak Dilirik

    Meskipun saham sektor properti di BEI masih tertahan dalam tekanan, peluang rebound tetap terbuka—dengan catatan, beberapa prasyarat penting harus terpenuhi.

    Tiga Faktor Kunci Pemulihan Properti

    1. Transmisi Suku Bunga ke KPR
      Penurunan BI Rate belum cukup efektif jika tidak segera diikuti penyesuaian suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Percepatan transmisi ini krusial agar permintaan rumah bisa kembali tumbuh.
    2. Kebijakan Pemerintah Baru
      Harapan tertuju pada pemerintahan Prabowo untuk mengeluarkan insentif perumahan, seperti:
      • Subsidi rumah pertama
      • Tax holiday bagi pengembang kawasan industri
        Ini akan menjadi katalis signifikan bagi sektor properti.
    3. Stabilitas Ekonomi dan Konsumsi Domestik
      Sektor properti bersifat pro-siklus, sehingga sangat bergantung pada iklim ekonomi dan daya beli masyarakat. Bila konsumsi rumah tangga pulih, minat terhadap properti akan ikut meningkat.

    Saham-Saham Properti Potensial: Mana Dikoleksi, Mana Dihindari

    Saham Layak Dikoleksi:

    • SMRA (Summarecon Agung)
      • Rekomendasi: Akumulasi Bertahap
      • Level Beli: 404
      • Target Harga: 515
        Township Serpong dan Bekasi tetap jadi pilar utama pendapatan.
    • CTRA (Ciputra Development)
      • Rekomendasi: Speculative Buy
      • Target Harga: 1.120
        Proyek-proyek nasional dan marketing sales tetap solid meski sektor lesu.
    • DMAS (Puradelta Lestari)
      • Rekomendasi: Speculative Buy
      • Target Harga: 185
        Sangat undervalued, dengan eksposur ke kawasan industri dan data center.

    Saham Netral:

    • PWON (Pakuwon Jati)
      • Rekomendasi: Hold
      • Valuasi sudah premium (PER 16x, PBV 0,92x), ruang kenaikan terbatas.

    Saham Berisiko Tinggi:

    • ASRI (Alam Sutera Realty)
      • Rekomendasi: Speculative Buy hanya di bawah 90
      • Butuh sentimen positif dari manajemen atau restrukturisasi utang.
    • APLN (Agung Podomoro Land)
      • Rekomendasi: Hindari
      • Masih dibayangi stagnasi proyek, utang tinggi, dan minim katalis pemulihan.

    “ASRI mungkin bisa menjadi speculative buy di bawah 90 jika ada perkembangan positif dari sisi manajemen atau restrukturisasi. Sementara APLN untuk saat ini lebih baik dihindari,” jelas Hendra Wardhana, Founder Stocknow.id.

    Kesimpulan:
    Rebound sektor properti bisa terjadi, namun sangat bergantung pada penyesuaian suku bunga, dukungan kebijakan fiskal, dan pemulihan daya beli masyarakat. Bagi investor, seleksi saham menjadi kunci utama di tengah kondisi yang masih fluktuatif.